Aku merasa sekujur tubuhku terasa merinding saat melihat dua makanan yang biasanya sangat kusukai. Dengan cepat aku menyambar ponselku dan menutup loker. Aku bahkan nggak peduli dengan godaan lembutnya roti tawar saat berada di mulutku dan sensasi yoghurt yang menyegarkan. Akan kubuang dua benda itu saat pulang nanti.
Kapan Genta memasukkannya ke dalam tasku? Ini benar-benar mengerikan, aku nggak habis pikir kenapa dia melakukan ini semua.
“Lama banget,” cetusku saat Ranu kembali ke ruangan, sedangkan karyawan yang lain baru saja kembali satu per satu.
“Ngobrol sama yang lain,” sahutnya seakan nggak peduli dengan ucapanku.
“Halo,” sapa beberapa karyawan yang baru masuk dan melihat kami berdua.
“Jyan, Mbak,” ujarku mengenalkan diri.
“Gue Brenda. Tapi Pak Husein sudah kasih tahu kalau seminggu ini kalian akan berada di sini,” sahutnya. Aku dan Ranu kemudian berjalan mendekatinya dan duduk di sebelahnya karena dia akan menunjukkan hal yang harus kami berdua pelajari.
Sambi memperhatikan Brenda yang sedang menjelaskan sesuatu dari komputernya, mataku sesekali mengedar. Nggak banyak karyawan di tax and payroll ini. Jika kuhitung, mungkin hanya ada sekitar tujuh orang ditambah dengan Pak Husein yang berada di ruangannya sendiri. Karena nggak banyak orang suasana terasa akrab dan bersahabat. Beberapa kali aku mendengar celoteh ringan yang berakhir dengan saling menertawakan.
“Sebelumnya lo kerja di mana?” tanya Brenda padaku. Saat itu Ranu sedang bersama Maya ke ruangan Pak Husein.
“Di Surabaya, Mbak,” sahutku setelah beberapa saat terdiam. Aku ingin menjawab pekerjaan sepintas laluku di Jakarta, tapi nggak jadi. Jika hanya beberapa bulan bekerja, rasanya nggak bisa dibanggakan.
“Jauh banget sampai di sini,” ujarnya.
“Nggak kok, Mbak. Sebenarnya orang tua gue malah ada di Jakarta. Justru di Surabaya itu gue sendirian,” jelasku.
“Surabaya sama dong dengan Genta, training specialist yang antar kalian ke sini tadi,” ujarnya. Kalau soal itu, tentu saja aku juga tahu. Bahkan sampai merk parfum yang digunakannya juga aku tahu. Tapi itu dulu.
“Oya?” Aku menanggapi dengan nada pura-pura tertarik padahal dalam hati dongkol banget mendengar namanya disebut lagi.
“Iya, dia masih baru juga sih sebenarnya. Kayaknya belum sampai setahun tapi kayaknya kinerjanya bagus, bos-bos pada suka sama dia,” kata Brenda masih menyambung soal Genta. Aku menahan napas dan mendadak wajah Genta menari-nari di kepalaku dan membuatku sangat kesal.
“Kalau dia sih memang asalnya dari Surabaya,” katanya lagi. Lanjut aja terus sampai telingaku panas.
“Mbak kok tahu banget,” ujarku pura-pura menggodanya. Brenda hanya tersenyum sambil tersipu-sipu. Dari situ aku tahu jika Genta buaya itu pasti sudah melancarkan aksinya di perusahaan ini, dan Brenda jadi salah satu korbannya.
Menyesal sekali kenapa aku baru mengetahui sifat jeleknya, kenapa nggak di awal saat kami baru kenal. Ah sudahlah, penyesalan memang selalu di akhir.
“Setelah ini tolong dong lo ke divisi accounting buat minta tanda tangan head-nya. Serahin aja berkas ini sama anak accounting yang namanya Wira,” pinta Brenda sambil meyerahkan setumpuk berkas padaku. Aku sepenuhnya sadar, memang seperti inilah karyawan baru. Apa pun yang diminta senior harus segera dilakukan.
“Accounting ada di lantai tujuh ya,” ucap Brenda sebelum aku benar-benar pergi. Mataku kemudian mengedar mencari Ranu, mungkin dia bisa menemaniku ke lantai yang nggak kukenali itu. Tapi Ranu seolah menghilang entah kemana. Akhirnya aku memutuskan ke lantai tujuh sendirian. Bukankah di divisi accounting ada Manda, aku nggak akan terlihat seperti orang bingung.
Aku lupa jika akan menuju lift akan melewati meja Genta. Untuk menghindari tatapannya, aku pura-pura menunduk memperhatikan sepatuku. Tapi sebagai anak baru, sepertinya aku nggak boleh seperti ini. Dengan cepat, aku mengangkat kepalaku dan menganggukkan kepala saat melewati meja Genta dan juga Kania yang saling bersebelahan.
Aku menarik napas lega setelah di dalam lift. Dengan Genta, mungkin nggak apa-apa aku mengabaikannya, tapi dengan Kania, tentu saja aku nggak boleh seperti itu. Aku akan dianggap nggak sopan, padahal masih anak baru. Lagi pula aku sudah berjanji untuk menganggap Genta bukan siapa-siapa, bukan juga orang yang pernah singgah di hatiku. Semudah itu, bukan?
“Wah…wah, anak baru angkatan yang kali ini banyak yang cantik-cantik ya,” goda seorang lelaki saat aku baru saja berada di lantai tujuh. Aku tersenyum, pura-pura memasang tampang gadis polos agar nggak dicap sombong. Kata sombong untuk anak baru adalah sebuah mimpi buruk.
“Lo mulai lagi deh,” potong seorang wanita yang berada di sebelahnya.
“Ada yang bisa dibantu?” tanyanya dengan nada ramah.
“Aku dari tax and payroll. Ada titipan buat Wira,” sahutku.
“Buat lo tuh,” ujarnya pada lelaki yang menggodaku tadi. Ah! Ternyata dia yang bernama Wira.
“Maaf Mas, ini ada titipan dari Mbak Brenda,” ujarku sambil menyerahkan berkas padanya. Di menyambutnya sambil tersenyum lebar.
“Ditunggu aja ya, nggak lama kok,” ujarnya dan bergegas masuk ke sebuah ruangan lain di seberang mejanya.
Dari kejauhan aku bisa melihat Manda yang sedang berjalan mendekat ke arahku. Dengan cepat aku melambaikan tanganku.
“Bagaimana hari ini?” tanyaku sambil tersenyum.
“Nggak begitu buruk,” sahutnya riang. Coba saja dia bertanya balik padaku, mungkin aku akan menjawab begitu buruknya hariku.
“Semuanya pada baik-baik banget,” sambung Manda.
“Sama di tempatku juga baik dan ramah,” timpalku.
“Nanti siang makan bareng yuk,” ajaknya kemudian.
“Boleh, di food court lantai dasar ya,” sahutku.
“Wah, boleh tuh,” kata Manda dengan wajah bersemangat. Heran, sepertinya hanya aku yang nggak bersemangat bekerja di sini.
“Sudah nih ditanda tangani semua.” Wira kembali dengan membawa setumpuk berkas dan menyerahkannya padaku.
“Makasih ya, Mas,” ucapku sopan dan segera pamit setelah sebelumnya menegaskan pada Manda untuk bertemu di food court nanti siang.
Sebenarnya diterima di perusahaan ini merupakan hal yang menyenangkan. Orang-orang di luar sana pasti berlomba-lomba ingin bisa bekerja di sini. Seleksi yang sangat ketat membuat nggak semua orang bisa masuk ke Global Oil. Kalau saja nggak ada Genta dan semua kenangan menyakitkan tentangnya itu, mungkin saat ini aku akan menjalani hari-hariku dengan penuh rasa bahagia.
Aku menekan tombol lift dengan setengah hati. Kembali ke lantai enam artinya akan kembali bertemu dengan Genta. Walaupun mulutku berkoar-koar mengatakan jika akan menganggapnya sebagai orang asing, tapi nggak begitu dengan hatiku. Bagaimana bisa sosok yang telah menemaniku selama hampir dua tahun itu mendadak kuperlakukan sebagai orang asing. Tapi tentu saja aku juga nggak mau menganggapnya sebagai sosok yang spesial buatku lagi.
Saat dia mengatakan jika telah bercerai dengan istrinya, sebenarnya saat itu aku begitu kasihan dengannya. Sejahat apa pun aku, sebesar apa pun keinginanku untuk menghilangkan dirinya dari pikiranku, aku tetap nggak berharap hal itu terjadi. Apa dia bercerai karena aku? Jika iya, aku akan merasa sangat bersalah.
Aku memang nggak mengenal mantan istrinya, hanya sosoknya yang sekilas kulihat saat ingin mencari tahu kebenaran tentang Genta. Saat itu mantan istrinya sedang hamil besar dan aku nggak bisa membayangkan apa yang terjadi padanya jika mereka benar-benar bercerai.
Aku merasa sangat bersalah, karena di sini akulah yang menjadi duri di pernikahan mereka.
“Ah! Kebetulan bertemu denganmu di sini. Ada beberapa dokumenmu yang kurang lengkap, sedangkan kita sedangkan kontrak kerjamu sudah dibuat. Coba kamu temui Mas Genta dulu, dia bakal kasih tahu dokumen apa aja yang kurang,” ujar Kania tepat saat aku baru keluar dai lift. Aku mengangguk sambil tersenyum.
Apakah bertemu dengan Genta bisa kulakukan sambil menutup mataku?
“Ada apa?” tanya Genta dengan wajah dingin saat aku menghampiri meja. Ini orang sombong banget, rasanya aku ingin menimpuk kepalanya dengan berkas yang berada di tanganku ini.
“Tadi kata Mbak Kania, ada beberapa berkasku yang kurang. Apa yang harus kulengkapi?” tanyaku dengan nada formal. Dia menengadah sedangkan aku masih tetap berada di posisiku, berdiri sambil menatapnya. Salah sendiri nggak memintaku duduk.
“Aku minta ijazah yang telah dilegalisir,” sahutnya.
“Itu aja?” tanyaku dan dijawab dengan anggukannya. Kutusuk bola matanya baru tahu rasa.
“Oke,” sahutku singkat dan kemudian beranjak menjauh darinya. Jadi hubungan seperti ini yang diinginkannya? Oke, aku bisa lebih dari itu. Aku terus mengomel dalam hati tanpa sadar jika Ranu telah berada di hadapanku.
“Jalan yang benar dong,” tegurnya sambil menepuk pundakku.
“Mas Genta nyariin kamu tadi,” ujar Ranu padaku. Aku mengernyit, tidak tahu apa yang ada di pikiran Bapak Buaya itu. Jelas-jelas dia melihat jika aku masuk ke lift, kenapa terus menerus mencariku seolah aku ini tahanan yang telah kabur.
“Sudah tadi,” sahutku malas.
“Nanti makan di bawah yuk, gue sudah ngajak Manda juga,” ujarku.
“Boleh tuh,” sahut Ranu.
Aku dan Ranu kembali ruangan. Kali ini Maya yang membimbing kami karena Brenda terlihat sibuk dengan pekerjaannya dan nggak memiliki waktu untuk menjelaskan apa yang sedang dikerjakannya.
Setelah merasa nggak ada lagi yang bisa dijelaskannya kepada kami, Maya kemudian memperbolehkan kami istirahat dulu sedangkan dia masih menunggu Brenda menyelesaikan pekerjaannya.
“Satu jam lagi kalian boleh kembali ke sini,” ujarnya
“Sial! Gue ngantuk banget,” cetus Ranu setelah beranjak meninggalkan ruangan.
“Lo kira gue nggak,” ujarku sambil tertawa.
“Kita belum ada ngerjain apa pun, makannya jadi ngantuk,” kata Ranu sambil mengucek matanya.
“Mas Genta, ikut kita makan siang yuk.” Aku menegang dan menoleh ke arah Ranu yang dengan santainya mengajak Genta untuk makan siang bersama kami. Ini kesalahan dan nggak boleh terjadi. Jika Genta cukup tahu diri, harusnya dia menolak tawaran Ranu.
Mataku berputar menunggu jawaban yang keluar dari mulut Genta. Aku akan mencubit Ranu setelah ini jika Genta menyetujui ajakannya. Ayolah, bilang aja sudah makan, nggak mood makan bareng kami, atau apa pun itu, terserah deh. Asal dia nggak ikut makan bareng bersama kami.
“Ayo, di mana?” sahutnya dan seolah meluluhlantakkan duniaku. (*)