Kali ini jika aku bisa melihat wajahku sendiri, bisa dipastikan wajahku sudah memucat karena ucapan Genta tadi. Aku bahkan nggak berani menatap matanya apalagi bergerak dari posisiku saat ini. Tangannya yang berada di leherku terasa mencengkramku dan nggak mau melepaskannya, padahal dia hanya menyentuh leherku dengan lembut. “Bicaralah Jyan,” pintanya sedangkan aku masih kesulitan untuk mengendalikan diriku sendiri. “Kamu bahkan pura-pura lupa dengan apa yang telah kamu lakukan semalam,” ucapku dan membuatnya melepaskan tangannya dari leherku dan kemudian duduk di atas meja, tepat di hadapanku. “Aku akan mengakui semuanya. Aku ingat semua yang terjadi semalam tapi tentu saja aku nggak mungkin menceritakannya pada semua orang, cukup kita berdua saja yang tahu, bukan?” tanyanya. “Kamu pu

