9. Menyebalkan

1640 Kata
“Apa…apa yang kamu lakukan?” tanyaku gugup. Aku menepis tangannya dan dengan cepat mundur dari posisiku saat ini. Kamar yang terasa berbeda ini, wangi yang nggak asing. Jangan-jangan saat ini aku sedang berada di kamar Genta. “Tidurlah lagi, ini masih subuh,” ucapnya tanpa memedulikan ketegangan di wajahku. “Aku harus pulang!” ucapku panik. “Kenapa kamu membawaku ke sini?” cetusku sambil buru-buruk beranjak dari tempat tidurnya. “Aku nggak mungkin meninggalkanmu di tempat tadi,” sahutnya. “Tenanglah, aku akan mengantarmu pulang,”katanya lagi sambil menahan tubuhku yang sudah nggak sabar melompat dari tempat tidurnya. “Aku bisa pulang sendiri,” ucapku ketus. “Aku nggak mungkin membiarkanmu pulang dalam keadaan setengah mabuk seperti ini,” ujarnya dan tangannya mendorong pelan tubuhku agar kembali duduk di tempat tidur. “Siapa bilang aku mabuk. Aku nggak mabuk dan merasa baik-baik aja,” sahutku dengan tatapan mata tajam. Genta terlihat menarik napas panjang. “Kamu nggak bisa pulang sendiri, di sini terlalu jauh dari rumahmu,” ujarnya kemudian. Terlalu jauh bagaimana, memangnya dia membawaku ke gunung. “Ke mana pakaianku?” tanyaku dengan wajah memerah saat melihat baju siapa yang sedang menempel di tubuhku. Tentu saja kaos Genta yang terlihat kebesaran di tubuhku, tapi terasa nyaman jika digunakan. Hal yang sering aku lakukan saat menginap di apartemennya dulu. “Kamu menumpahkan air putih yang aku berikan dan membuat seluruh pakaianmu basah. Aku menggantung pakaianmu di kamar mandi,” sahutnya. Lagi-lagi wajahku terasa memanas membayangkan apa yang dilakukannya saat mengganti pakaianku tadi. “Aku harus pulang,” ucapku lagi dengan suara yang terdengar sangat memelas. Aku nggak mau berlama-lama berada di sini. Kamar Genta ini terasa menyeramkan buatku. Dengan keadaan berdua saja dengannya di tempat yang tertutup seperti ini membuatku merasa dia sedang mengintimidasiku. Aku kemudian menekan-nekan kepalaku yang terasa berat karena koktail yang aku minum tadi. Lagian sudah tahu aku nggak kuat sama minuman beralkohol, tapi masih aja nekat minum. “Aku bakal mengantarmu,” sahutnya dengan suara lembut. Aku ingin tertawa sekaligus menangis melihat situasi yang terjadi padaku saat ini. Kenapa hanya karena mendengar suara lembutnya, aku merasa sangat sedih. Kesedihan yang begitu dalam sampai aku ingin menangis karenanya. Apa karena dengan mendengar suaranya, aku perlahan sadar kalau kami sudah nggak sejalan lagi. “Aku akan membuatkanmu teh hangat agar kamu merasa lebih nyaman,” ujarnya sambil beranjak meninggalkanku. Melihat sosoknya yang menjauh, mendadak dadaku terasa nyeri. Hanya menatap punggungnya dari kejauhan saja aku kembali sadar, jika berada di dekatnya adalah kesalahan. Sementara Genta sedang membuat teh hangat, aku beranjak dari tempat tidur dan mencari kamar mandinya. Aku harus segera pulang, mau di mana pun aku berada saat ini, entah di ujung dunia, entah itu di hutan belantara. Yang pasti aku harus segera pergi. Aku mendesah kesal saat melihat pakaianku yang tergantung di kamar mandi. Memang nggak tertolong lagi, area depan bajuku masih basah dan meninggalkan noda besar, sedangkan celana panjangku masih lumayan bisa digunakan karena hanya lembab di beberapa bagian. Aku nggak mungkin pulang dengan mengenakan baju kaos Genta, kan? “Kamu bisa mengenakan pakaianku dulu,” ucap Genta saat aku baru keluar dari kamar mandi. Dia seperti tahu apa yang sedang aku pikirkan. Aku nggak menanggapi ucapan Genta, karena sebenarnya aku malu mengakui jika kali ini aku memang butuh meminjam pakaiannya. “Tehmu ada di meja. Apa kamu sudah merasa lebih baik?” tanyanya kemudian. Aku nggak mengerti lebih baik yang ditanyakan itu bermaksud apa. Apa dia sedang menanyakan kesehatanku atau malah perasaanku. “Nggak begitu baik,” sahutnya setelah menemukan kalimat yang cocok untuk mewakili semuanya. “Apa kamu ingin makan sesuatu?” tanyanya lagi. Aku menggeleng. Bukannya aku nggak lapar, perutku saja sudah keroncongan dari tadi. Tapi lagi-lagi aku nggak mau membuat hubunganku dan Genta bertambah aneh karena kedekatan kami ini. Menginap di apartemennya, meminjam bajunya, dibuatkan makanan olehnya, kondisi ini sangat mirip dengan yang terjadi saat kami masih bersama. Dan aku nggak mau mengingat itu semua. “Nggak,” sahutku singkat padahal yang terjadi adalah kebalikannya. “Kamu sudah boleh antar aku pulang sekarang,” ucapku dengan nada dingin. Akhirnya aku memutuskan merendahkan sedikit harga diriku dengan memintanya mengantarku pulang. Mungkin benar yang dikatakan Genta tadi jika lokasi ini berada jauh dari rumahku. “Baiklah, tunggu sebentar,” sahutnya. Setelah Genta masuk ke kamarnya, aku segera meneguk teh hangat. Gengsi sih sebenarnya, tapi aku sudah menahan rasa hausku dari tadi. “Pakailah sweater-ku ini,” ujarnya sambil menyerahkan sweater berwarna biru laut padaku. “Akan kukembalikan secepatnya,” kataku sambil mengenakannya. “Sejak kapan kamu suka mengembalikan barang milikku yang sudah kamu pinjam,” ujarnya mirip sebuah ledekan. Dulu memang iya, tapi sekarang buat apa aku menyimpan barang miliknya di tempatku. “Pasti bakal aku kembalikan, jangan khawatir aku nggak seperti yang kau kenal lagi,” ucapku dingin dan membuat suasana hening seketika. Setelah memastikan tidak ada barang milikku yang tertinggal, aku segera mengikuti langkah Genta menuju pintu. Kan, nggak lucu jika aku mesti kembali ke sini lagi untuk mengambil barang yang ketinggalan. Sudah kuduga, tempat tinggal Genta saat ini berada di salah satu lantai apartemen yang belum berhasil kutebak lokasinya. Hanya pemandangan lampu-lampu malam yang terlihat dari koridornya yang berubah kaca tembus pandang. Sama seperti saat di Surabaya dulu, Genta juga tinggal di apartemen. Padahal sebenarnya tinggal di apartemen itu hanya kedoknya menyembunyikan istrinya dariku. Daya, istrinya tinggal di salah satu rumah mewah di pinggir kota. Ah! Mendadak kepalaku terasa panas saat mengingat apa yang telah dilakukannya padaku. “Apa terasa pusing lagi?” tanyanya dengan nada khawatir. Aku menggeleng dan bergerak menjauh untuk memberi jarak di antara kami. Bagaimana aku bisa melupakannya dengan cepat jika sosoknya selalu berputar-putar di kepalaku. “Kamu nggak boleh minum seperti tadi lagi. Kamu, kan tahu sendiri jika nggak kuat dengan minuman beralkohol,” ujar Genta saat kami berada di dalam lift yang akan membawa ke basement apartemen. “Aku nggak butuh nasihatmu,” sahutku dingin. Nggak salah, kan yang aku ucapkan? Dia bukan orang yang memiliki kewajiban untuk mengomentari hidupku. Genta kemudian diam dan nggak menanggapi ucapanku. Aku yakin dia merasa tersinggung dengan apa yang aku ucapkan tadi. “Senggaknya itu demi kebaikanmu,” katanya dengan suara pelan. Aku menoleh ke arahnya sekilas, rupanya dia masih menyambung pembicaraan kami tadi. Aku bergumam pelan dan membiarkannya berjalan lebih dulu untuk keluar dari lift. Padahal sebenarnya banyak sekali yang ingin aku bicarakan dengannya selain pembicaraan nggak penting seperti ini. Aku ingin tahu alasannya menceraikan istrinya, padahal mereka baru saja memiliki seorang anak. Kalau memang benar yang dikatakannya padaku, bisa jadi dia hanya berbohong padaku dengan mengatakan dia telah bercerai. Aku juga ingin bertanya bagaimana keadaannya setelah aku kembali ke Jakarta. Aku ingin tahu apakah dia merasa menyesal dengan semua yang telah dilakukannya. Dan kenapa dia tiba-tiba saja meninggalkan pekerjaannya di Surabaya dan pindah ke sini? Tentu saja semua itu nggak mungkin kutanyakan. Jika aku bertanya, artinya aku begitu perhatian padanya sampai mau tahu apa yang terjadi padanya. “Tunggulah di sini, aku akan mengambil mobilku dulu,” ucapnya. Setelah dia pergi, satu pertanyaan terbayang olehku. Bagaimana di membawaku ke kamarnya tadi? Apa dia menggendongku? Belum sempat aku menemukan jawaban atas pertanyaanku, mobil Genta sudah berhenti di depanku. Suasana terasa canggung, nggak ada yang memulai pembicaraan. Aku menatap ke samping, melihat jalanan yang masih saja ramai. Kali ini aku sedang memikirkan alasan yang tepat pada Papa dan Mama mengenai alasan telatnya aku pulang malam ini. Jika saat kuliah dulu, aku bisa saja berbohong dengan mengatakan mengerjakan tugas di rumah teman dan berbagai alasan lainnya. Saat ini tentu saja aku nggak mungkin bisa mengatakan kebohongan itu lagi. Tadi aku hanya sempat mengirimkan pesan jika akan pulang terlambat tanpa mengatakan apa alasannya. “Jyan,” katanya tiba-tiba dan membuat jantungku bekerja dua kali dari biasanya. Jika dia menyebut namaku dengan lembut seperti itu, bisa jadi ada sesuatu yang ingin dibicarakannya denganku. “Aku menyesal dengan apa yang telah terjadi dan membuatmu begitu terluka,” lanjutnya. “Kamu sudah mengatakan hal ini setahun yang lalu,” potongku cepat. Sudah terlalu banyak kata maaf dan penyesalan yang diucapkannya dan itu nggak bisa mengubah kebenaran yang telah terjadi. “Jadi kamu nggak perlu mengungkitnya lagi,” sambungku. Bohong aja aku berkata demikian. Aku masih ingin membahas hal ini, masih ingin melampiaskan kemarahanku padanya, masih ingin memaki-makinya. Bagiku semuanya belum cukup, hatiku masih terasa sakit setiap melihat wajahnya. “Jyan, kamu harus mengetahui kebenaran di balik semua yang telah terjadi,” katanya dan membuatku segera menoleh ke arahnya. “Nggak perlu, aku sudah tahu semuanya,” sahutku dengan nada sombong. “Lagi pula buat apa aku tahu, nggak ada gunannya,” lanjutku. “Aku hanya ingin kita berdua nggak menyimpan kemarahan dan kekecewaan yang terlalu dalam. Aku sama sekali nggak mau menyakitimu,” katanya. “Aku sudah baik-baik saja, nggak marah atau kecewa. Jadi jangan ganggu aku lagi dengan segala penjelasanmu itu,” potongku cepat. “Kamu harus tahu jika aku nggak pernah mencintai Daya, mantan istriku,” katanya. Nada suaranya terdengar emosi. Aku merasa seperti terhempas ke kondisi setahun yang lalu, saat kami bertengkar hebat karena aku mengetahui jika sebenarnya dia telah menikah dan membohongiku dengan statusnya. “itu juga sudah berulang kali kamu katakan,” balasku dengan lirikan mengejek. “Setahun terakhir ini kamu dan aku baik-baik saja, bukan? Itu artinya kita memang cukup berakhir seperti ini. Aku ingin menjalani hidup baru, kurasa kamu juga seperti itu.” Aku memejamkan mataku perlahan dan merasakan satu tetes air mata jatuh ke pipiku. “Ini bukan salah siapa-siapa. Memang sudah seharusnya kita berakhir,” kataku sambil memalingkan wajah agar wajahku bersimbah air mata nggak terlihat olehnya. Rasanya begitu menyebalkan, di saat aku ingin melupakannya, kenapa malah hatiku nggak mau bekerja sama? Aku tahu arti air mataku ini, adalah air mata yang nggak rela melepasnya pergi. Mulutku bisa saja berkata sebaliknya, tapi hanya aku yang tahu apa yang diinginkan oleh hatiku. (*)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN