Perjalanan ke Surabaya kali ini lebih menegangkan dari yang terdahulu. Selain karena keberangkatannya dilakukan dengan mendadak dan serba cepat, aku dan Genta juga hampir ketinggalan pesawat karena melupakan jam keberangkatan. Nggak biasanya Genta menjadi pelupa seperti tadi. Mungkin karen di pikirannya begitu banyak hal yang harus dikerjakannya sehingga dia nggak terlalu fokus, walaupun aku sudah berkali-kali menanyakan jam keberangkatan kami. "Kepalaku benar-benar terasa berat," ucapnya saat kami telah duduk di kursi penumpang dan bisa bernapas lega walaupun menjadi penumpang yang naik pesawat paling terakhir. "Semalam kamu kurang tidur kali?" tanyaku memastikan. Genta menggeleng dan membuatku kasihan melihatnya. Dia pasti sangat lelah karena urusan pekerjaan dan juga dengan acara per

