Siska melambaikan tangannya ke arah Dita yang saat ini tengah mencari keberadaannya. Siang ini mereka janjian ketemuan di sebuah cafe yang tak jauh dari kampus. Dita yang melihat lambaian tangan Siska, langsung berjalan ke arah meja sahabatnya itu. “Maaf, tadi Steven datang, jadi kami ngobrol bentar,” ucapnya sambil menarik kursi yang ada di depan Siska, lalu didudukinya. “Kamu belum pesan apa-apa?” tanya Dita saat melihat hanya ada segelas air putih di atas meja. “Belum, aku nunggu kamu aja.” “Kamu pesan apa? tenang, hari ini aku yang traktir.” Dita lalu melambaikan tangannya ke arah pelayan. “Tumben. Kedua orang tua kamu sudah kirim uang?” “Hem. Dikasih lebih malah. Katanya, Papa aku dapat bonus gede. Makanya aku dibagi. Lumayan bisa buat traktir kamu sama Gigi.” Dita lalu lihat

