Aku memang tidak ada hubungan apapun dengan Aldi, tapi setidaknya Aldi juga pernah berlabuh di hatiku dulu.
"Arka, jika memang aku sudah sangat buruk di mata kamu dan dimata keluargamu, tapi tolong jangan hina aku terus seperti ini. Setidaknya aku juga tidak pernah tidur dengan lelaki manapun selain kamu."
Setelah mengucapkan hal itu aku segera masuk ke kamarku dan mengunci pintu. Aku menangis sejadi-jadinya, aku tidak tahu harus berbuat apalagi. Bahkan aku sudah meninggalkan rumah Arka. Tapi tetap dia mengikutiku terus, keluar masuk ke apartemen pribadiku dengan sesukanya. Dia sungguh laki-laki yang sangat kejam.
Flashback on
"Sayang, kau sangat cantik. Kau benar-benar sangat cantik" Ucap Arka kepadaku.
"Kau berlebihan sayang." Jawabku singkat.
"Tapi itu memang benar, kau benar-benar sangat cantik. Bahkan jika ada sejuta wanita yang lebih cantik dari kamu, aku tetap akan memilihmu sayang."
Aku hanya tersenyum mendengar ocehan dari Arka yang sudah untuk berapa ribu kali mengatakan hal itu.
"Kalau kau terus memujiku, nanti kamu cepat bosan denganku." Balasku ke Arka.
"Mana mungkin aku bosan dengan istriku yang sangat cantik ini."
Arka mencium bibirku singkat.
“Ayo cepat tidur, besok aku pasti kesiangan kalau terlalu lama memandang wajahmu terus saying.” Gombal Arka lagi.
Setiap ingin tidur Arka selalu saja memujiku seperti itu. Dan selama lima tahun hal seperti itu tetap selalu saja dilakukan.
Flashback off.
Aku terus saja menangis dibawah bantal, entah sudah sampai berapa lama aku mengeluarkan air mataku. Hingga aku tertidur dengan posisi kepalaku dibawah bantal.
Wajahku terasa sangat hangat, tentu saja itu karena sang mentari sudah berani masuk seenaknya menembus dinding kaca kamar apartemenku. Perlahan aku membuka mataku yang terasa sangat berat karena tangis semalam. Aku beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi, bahkan sekarang aku sudah mulai terbiasa dengan rutinitas kesendirianku tanpa adanya morning kiss dan ucapan selamat pagi dari Arka.
Semuanya sudah berubah dan tidak perlu untuk diingat kembali masa lalu yang indah bersama Arka tak lain hanyalah sebuah mimpi belaka. Aku masuk ke kamar mandi, sengaja untuk berendam sejenak di bathtub dan merilekskan kepenatan yang sudah tiga bulan ini sangat berat sekali untuk dijalani. Tak lupa aku juga mengompres mataku yang sangat sembab hasil dari tangis semalam.
Satu jam berlalu lalu aku keluar dan bersiap-siap merias wajahku sebelum berangkat ke butik milik mamaku yang sudah seutuhnya menjadi milikku sekarang.
Aku keluar dari kamar menuju dapur berniat untuk sarapan seadanya. Mataku menyusuri semua sudut ruangan dan tidak aku temukan sosok Arka dimana pun. Entah dia sudah pergi sejak kapan aku tak tahu.
Aku menghela nafasku perlahan, tiba-tiba mataku dikejutkan dengan munculnya sosok Arka yang muncul dari pintu luar dengan seorang jalang. Aku benar-benar tidak sanggup lagi melihat pemandangan seperti ini. Dengan cepat aku segera mengalihkan pandanganku ke sembarang arah. Lalu aku mengembalikan sarapanku kedalam kulkas. Rasanya sungguh sudah tidak sanggup lagi untuk melihat pemandangan yang menjijikan itu.
"Kalau memang sudah sangat benci denganku, setidaknya jangan menyakitiku seperti ini." Gumam ku dalam hati.
Ya Alloh tolong aku. Dengan cepat aku bergegas menuju taksi online yang sengaja sudah aku pesan beberapa menit yang lalu. Karena waktu masih cukup dini, aku memutuskan untuk mampir di warung soto favoritku sejak dulu.
"Hai lun." Rasanya tidak asing dengan suara itu. Ya benar itu adalah Aldi.
"Aldi! kebetulan sekali." Jawabku antusias.
Aldi hanya tersenyum manis menatapku, sejenak aku membalas tatapannya. Iya itu tatapan yang sejak dulu sangat aku sukai.
“Tidak tidak tidak, ini tidak boleh terjadi.” Batinku berkata, bahkan sebentar lagi dia akan meminang seorang wanita. Mengingat itu hatiku terasa sangat ngilu.
"Mau sarapan bersama." Suara itu memecah lamunanku sejenak.
"Boleh." Jawabku singkat.
Kami berdua sarapan bersama di warung soto yang biasa kami kunjungi sejak dulu waktu masih kuliah. Sesekali kami menceritakan kenangan masa-masa dimana kita kuliah.
"Aku tidak menyangka ternyata selera kamu masih seperti dulu?"
"Iya memang kenapa, apa aku salah?" Jawabku ke Aldi.
"Tentu saja tidak, cuma kalau kamu masih sering makan disini itu artinya kita akan sering bertemu. Bahkan aku hampir setiap hari makan disini." Jawabnya panjang lebar.
Aku hanya membalas dengan senyum manis maduku.
"Lun, sepertinya aku tidak melihat mobilmu parkir didepan." Tanya Aldi lagi kepadaku.
"Oh, iya tadi aku pakai jasa taksi online al." Jawabku menjelaskan ke Aldi dengan tersenyum menampakan deretan gigi putihku.
Andai sebentar lagi kau tidak akan menikah aku pasti sudah menceritakan semuanya padamu al, bahkan detik ini memang sedang di titik terendah. Mobilku aku jual untuk menambah modal butik mama. Bahkan sebagian investasi ku dulu juga sudah ku jual. Begitulah keadaanku sekarang. Tidak mungkin aku akan terus bergantung pada Arka lagi. Karena sebentar lagi kami akan berpisah untuk selamanya. Aku hancur sekali saat ini. Suamiku yang dulu sangat mencintaiku sekarang sudah berubah 180° aku hancur al.
Aku menatap Aldi dengan tatapan tajam dan melamun. Tanpa kusadari ternyata Aldi dari tadi sudah memanggilku.
"Luna... Luna… hai." Panggil Aldi sambil mengayunkan telapak tangannya didepan wajahku yang cantik.
"Oh maaf, tadi aku sedikit melamun." Jawabku dengan wajah tersenyum.
"Kalau memang ada masalah ceritakan lun, aku akan mendengarkannya." Tawar Aldi kepadaku kembali.
“Tidak ada al, tadi aku hanya teringat mama.” Jawabku bohong ke Aldi, sebenarnya aku ingin sekali menyanggupi tawaran Aldi tapi itu tidak mungkin bagiku.
***
Sudah tiga hari ini hidupku terasa ringan dari hari-hari sebelumnya. Dan sudah tiga hari ini aku menjalani rutinitas ku seperti orang normal. Bahkan aku sudah tidak melihat lagi penampakan Arka yang seenaknya saja membawa jalang masuk apartemen pribadiku ini.
Pagi ini setelah selesai sarapan aku berniat untuk bergegas datang ke butik lebih awal. Aku memegang gagang pintu dan betapa terkejutnya aku setelah melihat mama Sarah ada di depan pintu dengan tatapan tajamnya.
"Mama" seruku.
"Silahkan masuk ma." Sahutku kembali dengan lembut dan sopan.
"Tidak perlu! Aku harap kamu segera meninggalkan Arka! Karena Arka akan segera mama jodohkan dengan orang bisa memberi keturunan. Tidak seperti kau, kau bahkan benar-benar wanita yang tidak tahu diri. Sudah tahu suamimu sangat membencimu tapi masih saja dengan seenaknya saja membawa pergi Arka." Sembur mama Sarah yang sangat menusuk hatiku. Lalu dengan kasar mama melemparkan undangan persidangan kepadaku dan berlalu pergi meninggalkan apartemen milikku.
Aku hanya menunduk dan menahan rasa air mata dan rasa sakit hatiku. Bahkan aku tidak pernah memiliki celah untuk membela diri. Meski aku membela diri pun itu sia-sia. Dan aku selalu kalah.