“Cewek memang begitu, Bro. Awalannya pura-pura cuek, ujung-ujungnya lihat aja nanti. Pasti dia akan luluh,” ucap Edwin ketika mereka sudah meninggalkan area kafe and resto milik Steffani.
“Tapi, gua rasa Fani memang begitu. Enggak mudah tertarik dengan cowok. Apagi cowok yang baru dia kenali,” timpal Gara.
“Itu dia yang membuat gua tertantang. Dengan fisik yang sempurna dan dengan sifat yang begitu. Lo berdua pikir lah, cowok mana yang enggak tertarik, ‘kan?” sahut Varo.
“Masalahnya sekarang adalah; bagaimana caranya elo mutusin Leanna dulu,” timpal Gara.
“Seandainya Leanna sama Steffani bukan teman sekampus dulu, mungkin elo akan dengan mudah memutuskan hubungan dengan Leanna,” tutur Edwin.
“Kalau gua mau, gua bisa putusin Leanna seperti gua memutuskan hubungan dengan mantan-mantan gua sebelumnya. Yang gua takutkan adalah, kalau gua melakukannya dan gua pacaran sama Steffani lalu Leanna pasti akan marah besar dan menganggap bahwa Steffani sudah merebut gua darinya,” tutur Varo panjang lebar.
“Walau lo playboy, pikiran elo tetap baik, ya,” Gara terkagum.
“Gara benar-benar suka cari gara-gara,” gerutu Edwin.
“Enaknya diapain, Ed?” tanya Varo.
“Ceburin aja ke got,” sahut Edwin.
Varo dan Edwin pun saling bertatapan, kemudian keduanya mendorong Gara. Untungnya, Gara bisa menyeimbangkan tubuhnya agar tidak sampai terjatuh ke got yang saat itu ada di dekat mereka.
Sang pelaku lantas berlari memasuki gedung kantor layaknya anak kecil yang kesenangan telah berhasil mengerjai temannya yang lain.
“Awas aja kalian berdua!” pekik Gara dengan kesal.
...
Pengganggu, itu yang ada di dalam pikiran Fani ketika ia mengingat nama Varo. Fani semakin merasa risih dengan keberadaan lelaki itu di sekitarnya. Seandainya saja tempat yang Fani ambil untuk kafe dan restonya itu tidak begitu strategis, mungkin Fani melepaskannya.
Bagi Fani, bersikap dingin dengan Varo akan membuat Varo berpikir untuk menjauhinya. Namun, rupanya pikiran Fani salah. Hal itu justru membuat Varo semakin mendekatinya.
Sebuah kaleng minuman soda yang dingin yang ditempelkan seseorang ke pipinya membuat Fani sadar dari lamunannya.
“Na ... bikin kaget deh,” ucap Fani pada Joanna, sahabatnya sedari mereka sama-sama duduk di bangku sekolah menengah pertama.
Joanna hanya terkekeh, kemudian ia duduk di samping sahabatnya itu.
“Jadi, namanya Varo?” tanya Joanna setelah ia mendengar cerita Fani mengenai Varo yang membuatnya merasa jengkel.
Fani menganggukkan kepalanya. “Dari sikapnya saja, sudah tergambar jelas bahwa dia adalah seorang playboy.”
“Menurut gue, ya. Lo jangan pakai cara lo yang sekarang deh. Masalahnya, cowok jaman sekarang memang begitu, Fan. Semakin cuek seseorang maka jiwa tantangannya semakin besar,” ucap Fani.
“Terus, gue harus apa, Na? Harus bersikap manis gitu?” tanya Fani.
“Bersikap layaknya elo dan dia adalah teman,” usul Joanna. “Kayak sikap elo ke gue ini.”
Fani nampak sedang memikirkan usul dari Joanna. Ia rasa, tidak ada salahnya mencoba. Daripada terus menjadikan Varo sebagai pengusik, maka akan lebih baik untuk menjadikannya teman.
...
“Kita putus,” ucapan Varo di tengah riuhnya suara mesin mobil yang berlalu-lalang di depan taman kota malam ini. Matanya nampak tidak sedang menatap Leanna, sang kekasih.
“Kenapa, Varo? Kamu mutusin aku tanpa sebab loh,” Leanna nampak masih ingin mempertahankan hubungannya dengan Varo.
“Kamu pikir aku enggak tahu, Na? Kamu diam-diam main gila di belakang aku.”
Varo pun mengeluarkan beberapa foto yang di sana nampak jelas bahwa Leanna sedang berjalan di samping seorang lelaki dengan menggandeng pergelangan tangannya.
“Wajah kalian nampak bahagia di foto itu. Dan aku harap, kalian akan selalu bahagia,” ucap Varo, kemudian ia langsung pergi meninggalkan Leanna yang terdiam di tempat.
Di hadapan Leanna, Varo memasang ekspresi tersedihnya. Namun, di belakang Leanna, Varo tersenyum puas.
Foto itu bukanlah hasil foto editan, melainkan sebuah foto asli yang di mana Varo sendiri memotretnya. Sebuah kebetulan yang menyenangkan bagi Varo ketika Tuhanlah yang memisahkan ia dan Leanna.
Kegembiraan Varo ini sampai ke telinga kedua sahabatnya. Tentu saja mereka juga ikut senang karena mereka tidak harus memikirkan bagaimana caranya memutuskan hubungan Varo dengan Leanna lagi.
...
“Pagi, Fan,” sapa Varo ketika ia hendak memasuki tempat Fani dan melihat gadis itu sedang menyirami bunga yang ada di depan tempatnya.
“Pagi,” sahut Fani seraya tersenyum. “Pasti beli kopi, ya?” tebaknya.
Varo nampak terkekeh dan ia membenarkan tebakan Fani. “Aneh,” gumam Varo.
Varo jelas saja merasa heran dengan sikap Fani. Tempo hari ia bersikap begitu dingin, kini ia bersikap begitu hangat.
“Lo sehat, ‘kan?” tanya Fani tiba-tiba.
“Hah? Lo tanya gua, Fan?” tanya Varo seolah tidak percaya dengan apa yang ia dengar beberapa detik yang lalu.
“Habis, lo melamun gitu – kayak orang sakit aja,” sahut Fani.
“Ternyata Fani bisa bahasa gaul juga,” gumam Varo.
“Bisa lah. Memangnya elo aja yang bisa?” sahut Fani lagi. “Sana masuk, keburu yang lain datang dan elo harus mengantre.”
Varo pun memasuki area kafe untuk membeli kopi. “Seharusnya gua senang, ‘kan? Karena Fani sepertinya mulai menerima keadaan gua,” Varo membatin.
“Maaf kalau sikap gue kemarin terlalu dingin ke elo. Apalagi ke teman-teman elo,” sesal Fani ketika Varo kembali ke luar kafenya.
“Enggak masalah, Fan,” sahut Varo.
“Tapi, boleh ‘kan kalau gue dan kalian berteman?” tanya Fani.
“Serius, Fan?” tanya Varo seolah tidak percaya.
Fani pun menganggukkaan kepalanya, menandakan bahwa ucapannya tadi benar adanya.
Kesenangan Varo semakin bertambah sekarang. Lelaki itu nampak merasa sangat bahagia. Ia berpikir bahwa dewa kebahagaiaan sedang berpihak padanya.
...
“Hebat sih. Beneran enggak bisa berhenti kagum sama ke-playboy-annya elo, Var,” ucap Edwin setelah ia mendengar bagaimana Fani tiba-tiba bersikap layaknya teman dengannya.
“Padahal baru 2 hari yang lalu sikapnya kayak es batu,” timpal Gara.
“Kalau Fani bukan es batu, Gar,” ucap Edwin.
“Terus apa?” tanya Gara.
“Es kristal,” jawab Edwin.
“Kalian ini kayaknya memang sesekali harus gua kasih efek jera,” ucap Varo.
“Jangan dong, Var. Masa gitu sama teman sendiri?” sahut Edwin.
“Makanya, berhenti muji Fani di hadapan gua,” kesall Varo.
Varo lantas duduk di kursi putarnya yang ada di ruang kerjanya. Senyuman yang menghiasi bibirnya sungguh membuat Edwin dan Gara sampai bergidik ngeri. Sebab, ini kali pertama bagi Edwin dan Gara melihat Varo bersikap seperti itu setelah mendapatkan perhatian dari cewek incarannya.
“Mau taruhan nggak?” bisik Edwin kepada Gara.
“Apa?” tanya Gara.
“Jangan macam-macam kalian!”
Edwin dan Gara pun langsung berdiri dari tempat duduk mereka. Lalu, keduanya berpamitan pergi.
“Kerja yang baik kalian berdua. Cari pacar juga jangan lupa,” ucap Varo.
Kekesalan kini meghampiri Edwin dan Gara. Mereka yang biasanya membuat Varo kesal, kini malah mereka yang dibuat kesal oleh sahabat mereka itu.
To Be Continued...