Chapter 1

1110 Kata
“Hati-hati meletakkan kotak-kotaknya, Pak. Isinya keramik semua,” ucap Steffani kepada salah seorang yang membantunya memindahkan barang-barang kafe dan restorannya ke gedung baru. Hari ini adalah hari di mana Steffani akan lebih lelah dari biasanya. Sebab, gadis berusia 25 tahun itu akan memindahkan semua barang-barang kafe dan restorannya ke tempat yang baru. “Kak, tadi aku sudah afirmasi dengan pihak gedung yang sebelumnya. Mereka bilang kalau enggak ada barang kita yang tertinggal,” ucap Sheila, salah seorang karyawan Steffani. Steffani menganggukkan kepalanya, kemudian ia berkata “ Kamu awasin sebentar. Aku mau lihat di dalam.” Sheila menganggukkan kepalanya tanda bahwa ia mengerti dengan perintah sang atasan. Steffani pun berjalan ke dalam bangunan bernuansa putih dan cream yang berlantaikan 3 itu. Gedung yang 3 hari lalu ia beli dengan uang hasil usahanya sendiri. “Kalau hari ini selesai membereskan, lusa pun sudah bisa mulai buka,” gumam Steffani. Setelah selesai mengawasi bagian dalam gedung, Steffani pun kembali ke depan gedung untuk menyelesaikan transaksi dengan pihak yang sudah membantunya berpindah tempat. Dari sebrang sana, ada sepasang mata yang nampak penasaran dengan sosok Steffani. Ia lantas berjalan menghampiri Steffani. “Pemilik baru, ya?” tanyanya. Steffani hanya dia menatap lelaki yang tiba-tiba menghampirinya itu. “Perkenalkan, gue Alvaro,” ucapnya memperkenalkan diri. “Terserah elo mau panggil apa.” “Steffani,” sahut Steffani singkat. “Pemilik baru?” tanya Varo. Steffani hanya menganggukkan kepalanya. “Nama yang bagus,” gumam Varo ketika ia menatap sebuah papan nama yang terpasang di depan gedung itu. Papan nama yang bertuliskan Stanna kafe and resto. “Terima kasih,” ucap Steffani. “Pasti elo pemiliknya, ‘kan?” tebak Varo. Fani hanya menganggukkan kepalanya. “Pak, rapat akan segera dimulai. Kenapa Pak Varo malah di sini?” tanya seorang perempuan yang berpakaian sangat rapi yang baru saja mnghampiri Varo. Varo pun berpamitan permisi pada Fani sebelum ia pergi bersama perempuan yang tadi menegurnya. “Kamu tahu siapa dia, Shei?” tanya Fani pada Sheila. “Setahuku, dia itu CEO dari perusahaan sebrang itu,” jawab Sheila seraya menatap ke arah gedung yang tepat berada di sebrang sana. “Ganteng, tapo playboy,” bisiknya. ... Seluruh mata tertuju padanya, seluruh sapa, terarah padanya. Mata yang berbinar, senyum yang lebar. Segala hal itu menyambut kedatangan Varo. Varo yang baru saja memasuki ruang rapat yang ada di kantornya sendiri. Rapat yang sudah direncanakan oleh karyawannya dan disetujui olehnya itu berlangsung selama kurang-lebih 1 jam. Setelah rapat selesai, Varo langsung kembali ke ruang kerjanya. Di sana, sudah ada seorang gadis yang sedang duduk menunggunya. “Kapan kemari?” tanya Varo sebelum ia duduk di kursi putarnya. “Sekitar 10 menit yang lalu,” jawab gadis yang sudah bergelayut manja di lengan Varo. Gadis itu tidak lain adalah Leanna, kekasih Varo. “Aku banyak kerjaan, sayang. Duduk sana,” ucap Varo dengan lembut. Leanna lantas memanyunkan bibirnya seraya menatap wajah kekasihnya itu. “Masih banyak?” tanyanya. “ 3 dokumen lagi,” jawab Varo. Leanna pun beranjak, gadis itu memilih duduk di sofa panjang yang ada di ruangan Varo. “Aku tunggu sampai kamu selesai,” ucapnya sebelum ia memainkan game di ponsel pribadinya. Varo hanya menganggukkan kepalanya dan ia mulai kembali mengerjakan pekerjaannya. Seorang gadis yang asik dengan ponsel dengan seorang lelaki yang sibuk dengan kertas dan komputernya menjadi perpaduan yang pas untuk pemandangan di ruang kerja seorang CEO muda ini. ... 2 hari berlalu. Hari ini adalah hari di mana Steffani akan meresmikan kafe dan restorannya. Hari ini juga adalah hari pertama bukanya kafe dan resto milik Steffani di tempat yang baru. Ada beberapa karangan bunga yang dikirim oleh teman-teman dekatnya. Namun, ada 1 karangan bunga yang membuat Fani heran. Karangan buka ucapan selamat dengan nama Alvaro Kristian, nama yang asing bagi Fani. Sesaat kemudian, Fani ingat siapa pemilik nama itu. “Bisa-bisanya dia kirim ini juga,” gumamnya. “Enggak heran sih. Dia seorang playboy, ‘kan?” Stefani lantas membantu 10 orang karyawannya yang sedang kewalahan dengan pengunjung yang datang dengan ramai. Karena hari ini adalah hari sabtu, itu sebabnya banyak yang ingin bersantai di sana. Saat di tengah kesibukannya, Fani dikejutkan dengan kedatangan Varo. Karena tidak ingin dikenal dengan seorang owner yang judes, Fani pun menyapa Varo dengan begitu ramah. Walau pada kenyataannya, Fani tidak begitu suka dengan Varo yang terkenal playboy itu. “Mau ambil table di mana?” tanya Fani kepada Varo. “Yang bagus di mana?” tanya Varo kembali. “Di lantai 3,” jawab Fani. “Tapi sisa 1 table yang kosong.” “Enggak apa-apa. Gue ambil yang itu,” sahut Varo dengan sangat ramah. “Ayok aku antar,” ucap Fani sebelum ia berjalan di depan Varo. Sesampainya di lantai 3 yang mana dari sana nampak sekali bahwa pemandangannya sangat pas. Yang mana, hanya dari sana, jalanan kota terlihat dengan bagus dan nyaman dipandang. Setelah Varo duduk, Fani meletakkan sebuah buku menu di hadapan Varo. “Kayaknya tempat ini lebih cocok untuk dijadikan tempat nongkrong,” ucap Varo seraya melihat menu-menu yang tersedia. “Rencananya memang begitu. Nanti aku akan menambahkan panggung kecil untuk band,” sahut Fani. “Butuh bantuan?” tawar Varo. Fani menggelengkan kepalanya. Sebab, baginya mencari sebuah band itu cukup mudah. “Jadinya mau pesan apa?” Fani mengalihkan. “Moccachinno panas aja,” jawab Varo. “Sama dessert. Terserah dessert apa,” sambungnya. “Ada lagi?” tanya Fani. “Itu aja,” jawab Varo seraya tersenyum. “Tunggu sebentar, ya,” ucap Fani sebelum ia pergi dari hadapan Varo. “Kenapa dia nampak enggak tertarik sama gue? Biasanya, setiap cewek yang gue ajak ngobrol, pasti matanya berbinar. Tapi dia beda. Matanya menatap gue dengan biasa saja. Apa dia sudah punya suami? Tapi, gue enggak ada lihat ada cincin di jari manisnya,” Varo membatin. Tidak lama, pesanan Varo diantar oleh Sheila. Varo yang mengingat dengan jelas bahwa tempo hari ia melihat Sheila begitu dekat dengan Fani, ia pun bertanya. “Lo dekat sama Fani?” tanya Varo kepada Sheila yang sibuk menata meja Varo. “Cukup dekat,” jawab Sheila apa adanya. “Fani sudah punya suami?” tanya Varo to the point. Sheila menggelengkan kepalanya seraya terkekeh. “Kak Fani itu masih lajang. Bahkan, pacar aja enggak punya.” Senyuman merekah di bibir milik Varo. Lelaki itu nampak senang ketika ia mengetahui bahwa Fani masih menyandang status lajang. Varo juga mulai membuat rencana untuk memutuskan Leanna, gadis yang baru 2 bulan lalu ia jadikan kekasih. “Maaf, Leanna. Fani lebih membuatku tertarik sekarang,” gumam Varo. Tidak pernah puas dengan apa yang dimiliki dan ingin terus mencari yang terbaik, itulah sifat Varo selain sifatnya yang cerdas dan playboy. To be Continued...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN