Kemolekan Ibrahim Yusuf El Ghazi atau yang dikenal sebagai ustadz Ibra terpancar bak sinar matahari pagi yang menelusup ke seluruh ruang kelas psikologi.
Langkah kaki yang mantap dengan aura kharismatik serta ketampanan wajahnya menambah kesempurnaan ciptaan Allah.
Melewati 25 dari 40 pasang mata yang terpesona memandangnya, dan sisanya adalah siswa laki-laki sebagian menatap sinis, acuh, dan beberapa hanya menggeleng-geleng kepala melihat aksi para siswi.
Tak satupun siswi yang terpesona berkedip, tanpa disadari mulut mereka pun ikut menganga.
Universitas Amar Maruf memang universitas Islam akan tetapi universitas ini terbuka untuk siapa saja yang ingin menuntut ilmu di dalamnya. Baik untuk muslim, non muslim, berhijab ataupun tidak berhijab.
Semua fakultas di universitas Amar Maruf pun cukup lengkap, tidak semua fakultas menjurus kepada jurusan tarbiyah atau ilmu agama, hampir semua jurusan ada di universitas Amar Maruf, terutama di fakultas psikologi semua siswa-siswi bercampur menjadi satu.
Ilmu yang di ajarkan pun sama rata sesuai jurusannya hanya dibedakan antar iman dan takwanya saja.
"Tuhan, inikah yang dinamakan keajaiban dunia ke 31". Pungkas Evelyn terpesona oleh sosok Ibra yang rupawan.
"Banyak amat Vel?! Bukannya cuma ada tujuh ya?". Tanya Reyval menggaruk kepalanya mendengar pernyataan Evelyn.
"Eh Rey! Makanya jadi anak sikolog tuh belajarnya luas jangan human doang yang lu kepoin tapi alam juga perlu kita pelajari!".
"Oh gitu ya Vel!, aku baru tau kalau keajaiban dunia sebanyak itu. Sebutin dong Vel biar aku catat". Tanggap Reyval dengan polosnya mengambil buku, dan siap mencatat.
"Lo simak ya baik-baik! Taman gantung Babilonia,..". Pungkas Evelyn tak sadar menangapi celotehan teman sebelahnya.
"Taman gantung Babilonia, terus?" Ucap Reyval mengikuti seraya menulis.
"Nah terus, Colosseum, Pirami-" Evelyn tersadar dan segera memutus ucapannya.
"Woyy, apaan si! kok gue jadi ngurusin pertanyaan lo! Gak liat apa?! Gue tuh lagi sibuk Rey!!" Kesalnya tersadar dari celoteh Reyval.
"Sibuk apaan?! dari tadi kerjaannya cuma ngeliatin dosen baru aja, sok sibuk!" Gerutu Reyval.
"Nah itu lo tau! makanya jangan ganggu!!!. Sana Lo capung pergi jauh-jauh gih, hushh!!". Balas Evelyn mengusir Reyval.
"Evelyn jahat ih". Celetuk Reyval manja seraya memanyunkan bibirnya.
"Geli ih, jangan sok imut deh Rey!! Uweeek".Ujar Evelyn mengejek Reyval.
"Huh, Evelyn nyebelin!". Rengek Reyval masih dengan gaya manis manjanya.
#Disisi Lain
"OMG!!! ganteng banget dosen baru kita". Ucap Bella melotot.
"Dia dosen baru?". Tanya Niko penasaran.
"Astaga!! sampe lupa ada ayang bep Niko. Ya ampun, kamu cemburu ya?. Kamu tenang aja ya sayang bagaimanapun juga kamu tetap yang utama kok. Only you in my heart". Ujar Bella manja seraya menempel ke bahu Niko yang duduk tak jauh di sebelahnya.
"Apaan si! Bap, bep, bap, bep pacar juga bukan!". Pungkas Niko kesal sembari melepaskan tangan Bella yang bertengger di bahunya.
"Jahat kamu Nik!". Pungkas Bella sinis.
"Bodo amat!". Ujar Niko dingin mengacuhkan Bella.
#Lewati pertikaian Niko dan Bella
"Subhanallah Nabila!!!, itu ustadz yang sering kita temui di kajian kan ya?!. Kok bisa ada di kampus kita yah". Pungkas Nisa terpesona.
Nabila mengacuhkan celoteh Nisa, netranya terus menatap Ibrahim tak berkedip. Bukan karena ikut tersihir oleh pesona Ibrahim, ia menatapnya karena benaknya sedang memikirkan kejadian pagi tadi.
Berarti yang aku lihat tadi bukan mimpi. Dan itu benar-benar ustadz Ibrahim?! pagi tadi? Disini? Menatapku?? Tapi kenapa??? Batin Nabila bergumam.
Sementara teman-temannya sibuk mengagumi pesona Ibrahim, batin Nabila disibukkan dengan seribu tanya.
"Assalamu'alaikum, pagi anak-anak semuanya!". Seru Ibrahim memulai pembicaraan.
"Wa'alaikumussalam, pagi pak". Jawab siswa siswi serentak.
"Karena usia kita yang tak terpaut jauh aneh rasanya menyebut kalian sebagai anak-anak. atau jangan-jangan usia kita sama?!". Imbuh Ibrahim melempar senyuman mautnya membuat para siswi makin meleleh dibuatnya.
"Bagaimanapun, kalian memang akan menjadi anak-anak didik saya selama beberapa bulan ke depan". Tambahnya.
"Singkatnya, dengan kehadiran saya disini adalah, sebagai dosen pengganti sementara dari ketua dekan Amar Maruf. Yakni, Ustadz Imran Hidayat". Jelas Ibrahim.
"Ooh dosen pengganti!.."
"Ada apa dengan pak Imran?"
"Loh pak Imran ketua dekan tah?"
"Masih muda ya penggantinya pak Imran"
"Iya ya masih muda, memang bisa pegang kelasnya pak Imran?"
Kelas yang tiba-tiba bising karna suara bisik-bisik dari beberapa murid hampir membuat Ibrahim gugup, ditambah lagi Nabila yang masih menatapnya lekat. Ibrahim memang sudah menyadari tatapan Nabila yang menatapnya sejak ia masuk, sempat tak sengaja netranya menangkap manik mata teduh milik Nabila.
"Perkenalkan!. Nama saya, Ibrahim Yusuf El Ghazi. Kalian bisa panggil saya ustadz Ibra!". Ucap Ibrahim dengan suara lantangnya.
Seketika suasana menjadi sunyi tak bersuara mendengar suara lantang Ibrahim yang menggema di fakultas psikologi. Semua mata kini tertuju kepadanya.
"Semuanya, salam kenal". Pungkasnya lagi tersenyum lebar sehingga tampak deretan rapih giginya yang putih.
"Umurnya berapa pak?"
"Nomor telepon pak sekalian dong".
"Pak.."
"Ustadz.."
Ramai pertanyaan centil para siswi yang dibalas senyum tipis Ibrahim.
Ya Allah, semoga Engkau tidak menghukum ku karena apa yang mereka katakan. Ampunilah aku atas apa yang tidak mereka ketahui. Dan jadikanlah aku lebih baik daripada yang mereka perkirakan. Batin Ibrahim memohon ampunan kepada pemilik pujian (Allah)
Suara bel kampus memecah penjuru ruang-ruang kelas tanda usainya mata pelajaran.
"Baik semuanya, saya harap penjelasan saya tidak membosankan. Kalau begitu, terimakasih, sampai jumpa di pertemuan berikutnya". Pungkas Ibrahim mengakhiri dan tak lupa menyisipkan ending smile.
"Beda usia beda penyampaian yah, kalau ustadz Ibra yang menerangkan kok rasanya lebih mudah ya Bil ketimbang di jelaskan oleh pak Imran, bikin ngantuk dan membosankan". Celoteh Nisa masih membayangkan sosok Ibrahim.
"Mulai deh centilnya". Pungkas Nabila memutar bola matanya.
"Hey ukhti ukhti ke kantin yuk laper nih". Ajak Evelyn memecah percakapan Nabila dan Nisa.
"Aku ikut, aku ikut". Pungkas Reyval yang tiba-tiba ikut nimbrung.
"Yee capung kali! siapa juga yang ngajak lo, main ikut ikut aja!". Cela Evelyn.
"Evelyn jahat ih". Rajuk Reyval.
"Sudah, sudah yuk siapa aja boleh ikut kok". Pungkas Nabila tersenyum mencairkan pertikaian Evelyn dan Reyval.
"Ukhti Nabila emang yang terbaik". Puji Reyval.
"Berarti gue boleh ikut dong Bil". Ucap Niko yang tiba-tiba muncul.
"Yaelah ini lagi kecoa kampus ikut-ikutan segala". Sinis Evelyn
Nisa memasang wajah ilfil membuang sembarang pandangannya tatkala Niko tiba-tiba datang dan masuk dalam percakapan, sedang Nabila tak menghiraukan celoteh Niko dan berlalu menarik tangan Nisa.
"Bil, Nabila.!" Panggil Niko kepada Nabila yang sudah berlalu dari pandangannya.
"Bila, Bila, semakin lo acuh semakin besar juga nyali gua buat mendapatkan lo!". Pungkas Niko menatap name tag Nabila yang tertera di buku catatan milik Nabila, dan berlalu dari meja Nabila.
Bersambung ❤️