"Rupanya kamu memang punya kebiasaan menabrak bahu ya?!". Ucapnya dengan suara lembut dengan senyum tertancap di bibirnya.
"Ustadz.. Ibrahim Yusuf..."
"Berkediplah ukhti". Seru Ibrahim memerintahkan Nabila.
Nabila berkedip-kedip namun pandangannya masih tertuju pada netra Ibrahim.
"Dan, tundukkan pandanganmu! karena bisa jadi syetan sedang ada diantara kita". Tambahnya lagi tersenyum lebar melihat tingkah Nabila. Namun dengan polosnya Nabila hanya mengikuti satu persatu instruksi Ibrahim. Saat tersadar akan tingkahnya Nabila malah kembali menoleh Ibrahim dengan tatapan heran.
Nabila segera menjauhkan tubuhnya dari area terdekat Ibrahim. Ia mengerenyitkan dahinya dan menggeleng kasar seolah menyadarkan diri.
"Ada apa denganku? Mengapa tubuh ini hanya mengikuti perintahnya?! Sadar Nabila, sadar!" Batin Nabila bergumam.
"Apa ini untuk saya?". Tanya Ibrahim memecah lamunan Nabila.
"Hah?" Ujar Nabila belum sepenuhnya sadar.
Ibrahim kemudian menunjuk ke arah map yang di genggam kedua tangan Nabila sedari tadi.
"Oh.. i-iya map ha-ha (tertawa nervous), b-benar!! Map ini, untuk ustadz. Dari pak Imam untuk pak ustadz". Ucap Nabila salah tingkah dengan intonasi nada suara yang tersendat-sendat.
"Ustadz saja!. Boleh..?" Pinta Ibrahim mengalihkan pandangannya seraya memberi isyarat pada telunjuknya kearah map yang masih di genggam Nabila.
"Silahkan pak, eh m-maksud saya ustadz!" Jawab Nabila kikuk dan mengigit bagian dalam bibirnya.
Ibrahim mengambil map yang disodorkan Nabila dan tersenyum kearahnya.
Menerima senyuman Ibrahim Nabila merasa tersipu dan merunduk malu dengan polosnya ia malah pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Nabila!" Seru Ibrahim.
"Iyaa.." Jawab Nabila lembut menoleh ke arah Ibrahim.
"Nama mu Nabila, benar?!". Tanya Ibrahim menatap lekat Nabila.
"I-iya pak. Mm- 'ustadz'". Jawab Nabila masih di posisinya dan memejamkan mata ketika salah sebut.
"Terimakasih, Nabila".
"Ya ustadz, permisi saya pamit". Nabila melanjutkan kembali langkahnya berpamitan kepada Ibrahim.
"Assalamu'alaikum". Sapa Ibrahim mengingatkan salam kepada Nabila
"Wa-wa'alaikumussalam ustadz". Balas Nabila menghentikan langkahnya seraya menepuk keningnya pelan dan mengangguk lamban ke arah Ibrahim.
Nabila melanjutkan kembali langkahnya perlahan dan penuh keraguan dalam hatinya.
Kayanya ada yang mengganjal, tapi apa ya?? Batin Nabila seolah berfikir.
"Presentasi ku!". Sontak Nabila.
"Us-tadzz! yah sudah pergi ternyata. Huffft, sia-sia deh aku menunggu". Pungkas Nabila menatap punggung Ibrahim yang sudah jauh dari tempatnya berdiri.
Aku bisa saja mengejar ustadz Ibra, tapi, mengapa badan ku terasa panas dingin gini dan hatiku kenapa terus saja berdebar. Rasanya sungguh aneh, aku bahkan belum pernah merasa seperti ini sebelumnya. Batin Nabila masih menatap langkah Ibrahim yang sudah mulai jauh darinya.
#Disisi Ibrahim
Ibrahim tersenyum senyum sendiri terpikirkan tingkah lucu Nabila yang menurutnya menyejukkan ruhaninya. Langkahnya disibukan dengan banyaknya pertanyaan dalam pikirannya.
Perasaan apa ini? Aku belum pernah memiliki perasaan senang seperti ini, terlebih, ketika melihat seseorang yang tersipu seperti Nabila. Rasanya seperti ada yang menggelitik dalam hatiku, aliran darahku pun terasa mengalir cepat, tapi mengapa? Mengapa hanya terjadi bila berada disisinya??. Batin Ibrahim bergumam sendiri.
Drtt!
Drrtt!!
Drtttt!!
Suara dering smartphone terdengar dari dalam saku milik Ibrahim.
"Assalamu'alaikum ustadz Ibrahim!?". Terdengar suara dari sebrang sana.
"Wa'alaikumussalam ustadz Imam?!".
"Bagaimana, sudah sampai utusan saya?" Tanya Imam kepada Ibrahim, membuat Ibrahim berfikir dua kali.
"Siapa namanya.. a- Nabila! Saya titipkan agenda milik antum kepadanya". Jelas Imam menambahkan.
"Oh iya ustadz, baru saja saya terima". Balas Ibrahim menatap map yang diberikan oleh Nabila.
"Masya Allah, baru bertemu ustadz Ibrahim rupanya. Kasihan anak itu sudah menunggu saya selama 2 jam, tapi setelah bertemu, saya langsung memberinya tugas menunggu ustadz Ibrahim". Iba Imam menceritakan perjuangan Nabila untuk presentasinya.
"Maaf ustadz, tapi saya tidak mengerti maksud ustadz Imam?". Tanya Ibrahim bingung.
"Lho, apa Nabila belum sampaikan bahwa ia menemui ustadz Ibrahim bukan hanya sekedar menyampaikan titipan saya, melainkan untuk mempertanyakan status presentasinya yang tertunda?!". Ujar Imam balik bertanya.
"Tidak ustadz, Nabila hanya menyampaikan agenda saja". Cemas Ibrahim.
"Pasti ia terlalu lelah, sehingga ia lupa menyampaikannya kepada ustadz Ibrahim. Saya jadi merasa tidak enak dengannya, sebab titipan saya anak itu jadi lupa dengan tujuannya". Pungkas Imam merasa sungkan.
"Atau boleh saya minta bantuan ustadz Ibrahim?"
....
"Baik ustadz Imam, nanti akan saya usahakan".
"Sekali lagi maaf tidak sempat saya sampaikan langsung kepada ustadz Ibrahim".
"Tidak apa ustadz, saya mengerti.."
"Baik ustadz.."
"Ya ustadz Imam (tertawa kecil).."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarkatuh".
Keduanya saling memutus sambungan telefon.
***
Nabila terkulai lemas di atas ranjangnya menatap langit-langit kamar melepas penatnya. Pikirannya terbayang bayang sosok Ibrahim, nafasnya terengah-engah tatkala debaran dalam hatinya membuncah. Suara getaran handphone membuyarkan lamunan panjangnya. Nabila menoleh ke arah telefon genggam miliknya, diraihnya benda pipih yang tergeletak dekat surai hitam nan panjang.
Drrtt..
Ting!!
Hmm, nomer baru? Siapa ya?! Batin Nabila bergumam.
Matanya terbelalak tatkala melihat pesan masuk tak dikenal, seketika Nabila yang terbaring mengangkat tubuhnya kasar. Isi pesan tersebut berhasil membuat mata indah Nabila menjadi bulat sempurna tak berkedip.
...
?
"Assalamu'alaikum, Nabila. Materi apa yang akan kamu bawakan ? Kirimkan sub judul nya ya, akan saya pelajari.
Sampai bertemu di presentasi besok.
Saya, Ibrahim Yusuf"
#Flashback
"Saya mempunyai permintaan, maukah ustadz mengirim pesan kepada Nabila?. Berikan kesempatan kepadanya agar dapat menyampaikan presentasi esok!". Pinta Imam.
Pandangannya menatap langit. Ibrahim terlihat berfikir, tapi mengapa??
"Baik ustadz akan saya usahakan". Jawab Ibrahim seadanya dengan perasaan yang bercampur. Senang, karena akan memulai percakapan dengan Nabila, bimbang, bagaiman ia menempatkan dirinya. Ia seorang ustadz, juga gurunya dan Ibrahim mulai menyadari ada perasaan yang tidak biasa terhadap Nabila.
#Flashback Off
Nabila tak menyangka Ibrahim mengirimkan pesan singkat hanya untuk menanyakan presentasinya.
"I-ini beneran nomernya ustadz Ibra?". Gumamnya seraya tangannya menyentuh bibirnya yang tengah menganga.
"Kok aku senang ya?!". Batin Nabila memastikan dadanya yang berdegup kencang
"Hush!!!, istighfar Nabila". Gumamnya lagi menepis pikirannya.
"Hmmpttt.. hufffttt.. Astaghfirullah!".
Eh tunggu, bagaimana ia tahu kalau aku punya sangkutan presentasi? Aku bahkan belum sempat membicarakannya tadi. Batin Nabila masih bergumam dalam hatinya seraya berfikir.
"Apa jangan-jangan pak Imam yang menyampaikan? Bisa jadi?! Tapi kapan??"
Sementara pikiran Nabila yang masih di selimuti pertanyaan, disisi Ibrahim tengah harap-harap cemas menunggu jawaban dari pesan singkatnya kepada Nabila.
Netranya tak bergeming menatap benda pipih yang tergeletak di depan meja kerjanya. Ibrahim mulai gelisah tubuhnya mulai salah tingkah sebab Nabila belum juga membalas pesan singkatnya.
Dari kejauhan sepasang mata tengah heran memperhatikan tingkah Ibrahim yang tengah mondar-mandir menatap ke arah benda mati yang ada di depan Ibrahim.
"Yusuf,!" Serunya lembut seraya menepuk bahu Ibrahim.
"Ya, Umi?!". Ibrahim menoleh dengan pandangan terkejut.
"Ada apa? Tak biasanya umi lihat kamu gelisah".
Ibrahim terlihat berfikir sambil mengusap bagian belakang lehernya.
"Ada masalah apa Yusuf?" Tanya Hamidah khawatir menatap lekat kedua mata Ibrahim.
"Gak ada apa-apa umi ini cuma.." Tutur Ibrahim terputus ketika netranya mendapati sorot cahaya dari smartphonenya.
Ting!
Suara smartphone Ibrahim berdering memecah tatapan dan pertanyaan Hamidah.
"M-mh tunggu sebentar umi, Yusuf lihat pesan masuk dulu". Pungkas Ibrahim tersenyum tipis seraya melepas lembut kedua tangan Hamidah yang melingkar di kedua pergelangan tangannya. Dan bergegas meraih telepon seluler miliknya.
Netranya berbinar tatkala pesan singkat yang dinantikannya berbalas.
?...
Saya
"Assalamu'alaikum, Nabila. Materi apa yang akan kamu bawakan ? Kirimkan sub judul nya ya, akan saya pelajari.
Sampai bertemu di presentasi besok!.
Saya, Ibrahim Yusuf"
Nabila
Wa'alaikumussalam, baik ustadz.
Berikut materinya.
Nabila
× | Lampiran Makalah...pdf |
Senyum lebar menghiasi wajah tampan Ibrahim tatkala membaca pesan singkat dari Nabila.
Hamidah yang semula khawatir ikut melepas senyum di wajahnya, menyadari bahwa kegelisahan anaknya sudah pasti di karenakan wanita.
Bersambung ???~