-10- Again, Memories

1488 Kata
As long as you’re with me There’s nothing I'm worry about But without you I’m just another nothing   Bea terbangun dari tidurnya dan menoleh ke sekitarnya, mendapati tinggal dirinya yang masih berada di kelas itu. Tadi Bea memang sangat mengantuk di jam pelajaran terakhir dan berkata pada Radit bahwa ia ingin tidur sebentar. Dua bulan lagi mereka akan menghadapi Ujian Nasional, dan belakangan ini, para guru semakin memperpanjang jam belajar mereka di sekolah. Sejak ia naik kelas tiga, jam belajar intensif bukan hanya pada hari Senin dan Kamis saja, tapi menjadi setiap Senin sampai Kamis. Dan itu benar-benar membuat murid kelas tiga semakin stres karena panjangnya jam belajar. Bea sendiri kurang tidur selama beberapa bulan terakhir ini. Itulah kenapa ia sampai tidur di kelas tadi. Bea menggeliat pelan, lalu memberesi buku yang digunakannya sebagai bantal tadi. Setelah memasukkan semua buku dan alat tulisnya ke dalam tas, Bea menyampirkan ranselnya ke bahu, lalu berdiri dan berjalan ke pintu kelas. Kenapa Radit tidak membangunkannya? Jangan-jangan dia malah meninggalkan Bea di sini? Jika memang begitu, Bea akan menghajar Radit nanti. Namun di depan pintu, langkah Bea terhenti ketika ia mendengar suara orang mengobrol di luar pintu. Salah satunya suara Radit. Bea mendekat ke pintu untuk mendengarkan lebih jelas. Bea mendengar suara seorang gadis berkata, “Aku suka Kak Radit.” Bea mengangkat alis. Ada yang menembak Radit? Wah, ini menarik. Bea mengintip dari celah pintu. Dilihatnya gadis itu, sepertinya salah satu murid kelas XI. Bea mendesah dalam hati ketika melihat betapa cantiknya gadis itu. Rambutnya lurus panjang hingga pinggang. Tampak alami, seperti iklan sampo yang biasa dilihatnya di televisi. Bea menyentuh rambutnya yang hanya beberapa senti melewati bahunya. Rambutnya juga berwarna kemerahan. Bukan karena cat, tapi karena ibunya memang memiliki rambut kemerahan sepertinya. Dan itu pun warisan dari nenek Bea yang masih blasteran. Bea menatap pasrah rambutnya sebelum kemudian kembali mengintip dan menunggu jawaban Radit. Jika Radit pintar, dia pasti akan menerima gadis itu. Dia cantik, tinggi, putih, sempurna. Radit pasti … “Apa kau bisa menerima Bea?” Pertanyaan Radit itu membuat Bea melongo. “Kak … Bea?” Gadis cantik di luar itu terdengar ragu. “Maksud Kak Radit …” “Aku tidak bisa meninggalkan Bea, dan aku tidak akan pernah meninggalkannya. Apa kau bisa menerima itu?” Radit bahkan tak ragu ketika mengatakan itu. Bea memperhatikan wajah cantik gadis itu mulai memucat, sebelum kemudian dia berbalik dan pergi sambil menangis. Bea benar-benar ingin memaki Radit karena balasannya tadi. Apa Radit sudah gila? Bisa-bisanya dia memakai Bea sebagai alasan untuk menolak seseorang! “Bea?” Radit benar-benar terkejut ketika melihat Bea berdiri di depan pintu ketika Radit membuka pintu itu. “Kau sudah bangun?” “Kenapa kau tidak membangunkanku?” balas Bea dingin. “Kau tampak sangat kelelahan. Kau harus beristirahat dengan cukup jika tidak ingin sakit sebelum ujian,” sahut Radit enteng seraya meraih tangan Bea dan menggandengnya keluar. Tapi kemudian, Bea mengejutkan Radit ketika ia menyentakkan tangan Radit dengan kasar. “Bea?” Radit menatap Bea dengan bingung. “Ada apa?” “Apa maksudmu mengatakan hal seperti itu pada gadis yang menyatakan perasaan padamu tadi?” sengit Bea. “Be, aku …” “Bagaimana bisa kau menggunakan aku sebagai alasan untuk menolak dia? Atau mungkin, selama ini kau selalu memakai alasan itu untuk menolak gadis-gadis lainnya? Aku tahu kau sudah menolak banyak gadis, tapi apakah dengan alasan yang sama?” Bea meradang. “Aku tidak akan berbohong padamu, Be. Ya, alasanku selalu sama. Sejak awal, selalu itu. Aku tidak bisa meninggalkanmu, dan mereka harus bisa menerimamu juga,” aku Radit kalem. Bea menatap Radit dengan muak. “Lupakan saja. Mulai sekarang, kau tidak perlu lagi mengikutiku, menjagaku, atau apa pun itu. Pergilah, aku bisa menjaga diriku sendiri,” katanya kasar sebelum kemudian berbalik dan meninggalkan Radit. Hari itu, Bea pulang dengan taksi, tanpa Radit.. *** “Bea ke mana, Tante? Radit lihat di kamar tidak ada, di belakang juga tidak ada,” ucap Radit yang baru masuk ke ruang makan dengan bingung pagi itu. “Memangnya dia tidak mengatakan apa pun padamu? Dia berangkat dengan Om tadi. Dia bilang ada piket atau apa, Tante tidak begitu jelas mendengarnya tadi,” sahut ibu Bea seraya memberesi piring Bea dan ayahnya, lalu menyiapkan piring baru untuk Radit. “Bea … sudah berangkat ke sekolah?” tanya Radit ngeri. Ibu Bea menatap Radit dengan bingung, tapi ia mengangguk. Mendapat jawaban itu, Radit pun bergegas berlari keluar. Radit memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Namun, ketika Radit hendak berbelok ke gerbang sekolahnya, sebuah mobil yang baru saja mengantarkan murid lain berhenti dan memblokir jalannya. Gusar, Radit menekan klakson panjang, membuat pengendara lain terganggu dan menatapnya kesal. Namun, Radit tidak peduli. Ketika mobil itu akhirnya pergi, Radit sudah hendak melajukan motornya, tapi tatapannya jatuh pada murid-murid yang bergerombol di lobi sekolah, menunjuk ke arah pohon di samping gerbang sekolah. Radit mengikuti tatapan mereka dan mengumpat ketika melihat apa yang menjadi pusat perhatian anak-anak itu. Radit melompat turun dari motornya dan bergegas menghampiri Bea yang muntah-muntah di bawah pohon besar di dekat gerbang. Bea yang tadinya berjongkok, berusaha berdiri, tapi kemudian, dia kembali membungkuk dan muntah. Radit berhasil menarik rambut Bea dari jalur muntahnya di saat yang tepat. Dengan satu tangan menahan rambut Bea, tangannya yang lain mengusap punggung Bea. “Bea, kau baik-baik saja?” cemas Radit. Bea terbatuk beberapa kali, sebelum kemudian dia kembali berdiri tegak dan menatap Radit. Gadis itu menarik rambutnya dari tangan Radit. “Pergilah. Aku baik-baik saja.” Suara Bea terdengar kepayahan. Radit menatap wajah pucat Bea, tapi gadis itu tampak sangat keras kepala. Selama hampir tiga tahun ini, atau tepatnya, hampir enam tahun jika menghitung masa SMP, Bea tidak pernah pergi ke sekolah tanpa Radit. Bahkan jika Radit tidak masuk karena sakit, Bea juga akan ikut tidak masuk. Dan hari ini, adalah hari pertama Bea ke sekolah tanpa Radit. Baik Bea maupun Radit sama sekali tak menyangka, efeknya akan separah ini. “Be, jangan seperti ini …” Radit mendekat, tapi Bea merentangkan lengannya ke depan, mencegah Radit mendekat. “Jika kau tidak mau pergi, aku yang pergi. Aku bisa sendiri,” katanya ketus, sebelum kemudian dia mendorong bahu Radit ketika berjalan melewati Radit. Namun, baru dua langkah, Bea kembali merasakan mual itu. Kaki Bea terasa lemas. Ia hendak berpegangan, tapi tak ada yang bisa dijadikannya pegangan. Bea kembali muntah, membuatnya semakin lemas. Ia sudah yakin dia akan jatuh tersungkur, tapi kemudian sepasang lengan kuat menahan tubuhnya. “Bea, aku di sini. Semuanya akan baik-baik saja. Kau tidak perlu takut lagi …” Bea mendengar suara lembut Radit, begitu menenangkan, tanpa keraguan, penuh kekuatan. Bea berpegangan pada Radit ketika ia kembali berdiri tegak untuk menatap Radit. “Kau tidak harus melakukan semua ini, Radit. Aku bisa menjaga diriku sendiri, bagaimanapun caranya, aku akan …” “Aku akan menjagamu,” Radit menyela seraya mengusap mulut Bea dengan lembut, membersihkan sisa muntah Bea di sana. Bea mencebik, lalu menggembungkan pipinya, dan Radit menarik Bea dalam pelukannya tepat ketika gadis itu mulai menangis keras. “Tidak apa, Be. Aku tidak keberatan menjagamu. Aku akan selalu ada di sampingmu dan menjagamu, sampai kau benar-benar siap menghadapi duniamu sendiri. Aku percaya, kelak kau pasti bisa menjadi lebih kuat. Mungkin ketika masa SMA kita berakhir, di universitas yang tidak seketat di sekolah, kau mungkin bisa lebih bebas. Kau akan menemukan banyak orang yang memiliki minat yang sama denganmu, kau akan berteman baik dengan mereka, dan mereka tidak akan berusaha menjatuhkanmu. Kalian akan saling membantu untuk mencapai impian kalian, yang mungkin sama. “Di universitas, kau akan bertemu dengan orang-orang yang asing, yang tidak tahu masa lalumu, yang tidak akan menghakimimu seeanknya, yang akan menerimamu karena siapa dirimu. Di universitas, kau mungkin akan bertemu dengan sahabat seperti Ara. Setelah kita melewati Ujian Nasional nanti, aku akan membantumu mengatasi semua ini. Aku berjanji, di universitas nanti, kau akan jadi lebih kuat. Aku berjanji, Bea. “Tapi untuk saat ini, biarkan aku bertahan di sampingmu seperti ini, menjagamu. Tidak apa-apa, tidak ada yang lebih penting bagiku selain menjagamu. Aku menolak para gadis itu bukan karenamu, tapi karena aku tidak menemukan alasan lain untuk menolak mereka tanpa lebih menyakiti mereka lagi. Aku hanya ingin fokus melindungimu. Setidaknya, sampai masa SMA kita berakhir. Sampai aku benar-benar yakin bahwa kau sudah siap menghadapi semuanya sendirian. “Dan sampai saat itu tiba, biarkan aku tetap di sampingmu. Jangan mendorongku pergi, jangan berusaha pergi dariku. Biar kita tetap seperti ini sampai kau benar-benar siap dan kuat berdiri sendiri tanpa aku. Aku akan membantumu, Bea. Aku berjanji, aku akan membantumu. Jadi, berhentilah melakukan hal-hal bodoh seperti ini lagi. Semuanya butuh proses. Dan kita akan menjalaninya perlahan, oke?” Radit berusaha membuat Bea mengerti. Radit melepaskan pelukan Bea untuk menatap gadis itu. Bea sudah berhenti menangis dan ia mengangguk. Radit tersenyum lembut seraya mengusap kepala Bea. “Dan jangan membuatku khawatir lagi,” Radit menambahkan. Bea berusaha tersenyum ketika kembali mengangguk. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN