It’s not love
It can’t be
It shouldn’t be
Bea langsung naik ke kamarnya begitu mereka sampai di rumah. Elia segera menyusul Bea, sementara Radit bergabung dengan orang tua Bea yang sedang menonton televisi. Di kamarnya, Bea melemparkan diri di atas tempat tidur dan membenamkan kepalanya di bantal dan meneriakkan frustrasi dan kesalnya.
“Sekarang, waktunya kau membayar utangmu, Be,” tuntut Elia begitu masuk dan menutup pintu kamar Bea.
“Apa-apaan itu tadi?” Bea menatap Elia kesal. “Berani-beraninya kau mengancamku di depannya. Kau bahkan menyuruhku pulang bersamanya dengan mobilnya!”
“Aku yang seharusnya bertanya, apa-apaan itu tadi, Be? Apa hubunganmu dengan Radit sebenarnya?” kejar Elia.
Bea mendesis kesal. “Hubungan apa? Kami hanya teman sekolah. Tapi, kenapa kau tiba-tiba mengatakan tentang masih menyukai, dan semacamnya …”
“Aku membicarakan tentang es cokelatnya,” sela Elia enteng.
“Kau memberiku ancaman terselubung,” desis Bea.
“Jika itu tidak benar, seharusnya kau tidak perlu khawatir.” Elia mengedikkan bahu santai. “Kau seperti ini karena itu kebenarannya, kan? Apa aku salah?”
Bea beranjak duduk dan menatap Elia dengan kesal. “Itu tidak benar. Aku tidak menyukai Radit. Itu hanya … salah paham.” Bea tidak menatap Elia ketika mengucapkan dua kata terakhir.
“Oh ya? Salah paham bagaimana kalau begitu, Bea? Kau bisa menjelaskan padaku, atau aku akan bertanya pada Radit dan …”
“Jangan,” potong Bea cepat. “Dia pasti akan sangat terluka. Jangan tanyakan apa pun padanya,” pinta Bea putus asa.
Kening Elia berkerut bingung. “Kenapa itu akan membuatnya terluka?”
Bea tak langsung menjawab.
“Be, something’s happened, right?” tanya Elia hati-hati. “Kau dan Radit … sesuatu terjadi di antara kalian, kan?”
Bea mendesah berat. “He was my bestfriend, my best friend ever. Sampai dia … mengatakan dia mencintaiku. Dan aku … ehm, aku meninggalkannya, tanpa kata.” Bea menunduk dalam.
Elia ternganga. “Kau … benar-benar tidak menyukainya?” Dia tampak tak percaya.
Bea menatap Elia, menggeleng, mengedikkan bahu, lalu mengerutkan kening bingung, sebelum kemudian menggeleng dengan ragu.
Elia mengangkat alis. “Kau menyukainya, tapi kau tidak mau mengakuinya,” tembaknya.
“Tidak, tidak seperti itu,” buru Bea. “Aku tidak mungkin … jatuh cinta pada sahabatku sendiri. Itu akan … membuat kami kehilangan segalanya …”
“Atau justru memiliki segalanya,” sela Elia tajam.
Bea menggeleng. “Kau tidak tahu, Li. Saat itu … kami masih sangat muda, lalu dia menyatakan perasaannya dan aku … aku bahkan tidak memberinya jawaban dan malah menghindarinya. Aku … tidak bisa lagi menatap matanya setelah itu. Lalu, aku pergi untuk menjalani semester keduaku di kampus dan … kami berpisah. Hingga pagi tadi. Aku …”
“Kau menolaknya karena kau takut kehilangan apa yang kalian miliki selama ini, bukan? Tapi sekarang, setelah kau menolaknya, bukankah kalian justru kehilangan lebih banyak?” Elia mengambil tempat di sebelah Bea di atas tempat tidur. “Be, apa kau sadar apa yang sudah kau lakukan pada dirimu dan Radit?”
Bea memanyunkan bibir, menggembungkan pipi, lalu detik berikutnya, tangis pecah dari bibirnya. Kebiasaan buruk Bea ketika menangis adalah dia selalu menangis dengan keras. Benar-benar seperti anak kecil.
Elia menghela napas sebelum merengkuh sahabatnya itu dan memeluknya, mengusap punggungnya dengan lembut. Bea adalah gadis yang sangat keras kepala. Terkadang, dia bisa sangat keras kepala dan tak berhati. Namun, di waktu lain, dia bisa sangat polos dan kekanakan. Meski begitu, Bea tetaplah Bea. Kedua pribadi itu adalah Bea. Dan keduanya, bukan masalah besar bagi Elia. Ia menyayangi Bea apa adanya.
Bahkan meski dia sebodoh ini.
***
“Apakah kalian mendengar suara Bea?” tanya Radit tiba-tiba ketika samar ia mendengar suara Bea dari atas.
Orang tua Bea saling berpandangan, lalu menggeleng. “Kau selalu punya pendengaran yang tajam jika menyangkut anak itu. Periksalah ke atas, apa yang terjadi. Entah masalah apa lagi yang diperbuatnya dengan temannya itu,” ayah Bea berkata.
Radit tersenyum geli seraya beranjak dari tempat duduknya dan naik ke atas untuk mengecek keadaan Bea. Apakah Bea baik-baik saja setelah kejadian tadi? Apakah dia masih teringat traumanya?
Ketika Radit sudah berdiri di depan kamar Bea yang berada tepat di samping tangga, Radit memutar kenop pintu dan mendorongnya pelan. Suara Bea semakin jelas menyapa telinganya. Bea tidak berteriak, tapi dia … menangis. Menangis?
Radit tertegun. Gadis itu menangis, dengan cara yang sama seperti bertahun-tahun lalu. Tangis yang kekanakan itu. Tangis yang selalu membuat Radit kerepotan, sekaligus terhibur. Radit memejamkan mata, menahan keinginan kuatnya untuk menerobos masuk dan menarik Bea dalam peluknya, menenangkannya seperti yang dulu biasa ia lakukan.
“Itu tidak mungkin, Li. Itu tidak boleh terjadi … sungguh tidak boleh …”
Radit mendengar Bea berbicara di tengah isak tangisnya. Radit mengerutkan kening. Apa yang dimaksud Bea? Apa yang dibicarakannya dengan Elia?
“Tidak apa-apa, Bea. Tidak apa-apa …”
Kerutan di kening Radit semakin dalam mendengar balasan Elia itu. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi akhirnya Radit memutuskan untuk turun. Elia tampaknya bisa diandalkan di saat seperti ini. Yah, dia sudah menjaga Bea selama delapan tahun terakhir, kan? Radit berutang terima kasih padanya untuk itu.
Seingat Radit, Bea biasanya menangis untuk hal-hal yang konyol. Mungkin kali ini pun begitu. Bea yang konyol. Gadis itu tak berubah sedikit pun.
Radit tersenyum tipis seraya meninggalkan kamar Bea dan kembali ke bawah.
***
“Radit tidak pernah meninggalkanku,” Bea mulai bercerita. “Sampai-sampai, banyak yang mengira kami pacaran. Tapi, Radit tidak peduli. Mungkin dia merasa berutang padaku karena aku mau meminjamkan orang tuaku padanya. Setiap kali ada acara yang melibatkan orang tua, kami selalu berbagi. Ibu akan datang untukku, dan Ayah akan datang untuknya. Bahkan untuk foto wisuda pun, ketika ayahnya tidak bisa datang, dia berfoto dengan orang tuaku. Mungkin karena itu, dia selalu berusaha menjagaku. Dia juga sudah bercerita padamu kan, tentang bagaimana dia selalu menemaniku?”
Elia mengangguk. “Tapi bagaimana ketika dia sakit? Kalian tidak bisa selalu bersama untuk setiap keadaan, kan? Mungkin dia bisa ikut perjalanan keluar kota itu atau kegiatan sekolah lainnya. Tapi, jika dia sakit, apa yang bisa dia lakukan?” Elia penasaran. “Dia tidak mungkin tetap berangkat ke sekolah meski sedang sakit, kan?”
Bea menjentikkan jari. “Itu dia, Li. Entah bagaimana, terkadang dia bisa menjadwal sakitnya. Tahun pertama hingga pertengahan tahun kedua, dia beberapa kali sakit di waktu yang tak tepat. Tapi selebihnya, dia bisa mengatur sakitnya. Menepatkan waktu sakitnya ketika hari libur.”
Elia melongo. “Mana bisa seperti itu?”
Bea mengedikkan bahu. “Aku tidak pernah bertanya padanya. Yang terpenting bagiku saat itu, selama dia bisa berada di sampingku, tidak penting bagaimana caranya.”
“Wah, kau benar-benar sudah begitu egois sejak dulu ternyata,” omel Elia.
Bea meringis.
“Lalu, apa yang dia lakukan ketika dia sakit di waktu yang tak tepat?” tuntut Elia.
Bea merenung sebentar. “Itu … um …”
***