BAB 1: LUKA YANG BELUM USAI

3509 Kata
"Dulu kita punya alasan masing-masing. Aku gak mau saling menyalahkan." Kalimat itu melayang begitu saja dalam kepalanya, saat langkah-langkah elegan Aurelia Camelia memasuki aula utama gedung pertemuan Alghazi Tower—bangunan berlantai 72 yang menjulang seakan menantang langit Avendra City. Cahaya dari lampu gantung kristal memantul di atas permukaan lantai marmer, menciptakan pantulan aurora di sekeliling ruangan. Orang-orang berlalu lalang dalam balutan busana mahal, penuh senyum manis dan pembicaraan ambisi. Tapi bagi Aurelia, setiap detik di ruangan itu terasa seperti ledakan waktu. Lima tahun. Lima tahun tanpa suara, tanpa tanya, tanpa penjelasan. Dan kini, dia kembali—bukan sebagai kekasih yang menunggu, tapi sebagai desainer yang diundang secara profesional untuk mempresentasikan lini terbaru dari brand-nya, Aurélie. Undangan itu datang langsung dari Alghazi Corp. Dan ia tahu betul siapa pemilik tanda tangan di bawahnya. Elvarian Alghazi. Nama itu seperti gema dari masa lalu yang seharusnya telah terkubur. Tapi nyatanya, ia masih bisa merasakan bagaimana namanya berdetak di dadanya, seperti lukanya sendiri masih terbuka. Aurelia menarik napas panjang. “Aku sudah berubah,” bisiknya lirih pada diri sendiri, membenahi antingnya dan menatap bayangannya di dinding kaca lift. “Aku bukan yang dulu.” Begitu lift terbuka, ruang rapat utama menyambutnya dalam sunyi yang mewah. Langit-langit tinggi, jendela setinggi dua lantai yang menghadap langsung ke kota, dan kursi-kursi kulit di sekeliling meja kayu mahoni berbentuk oval. Lalu dia melihatnya. Elvarian berdiri membelakangi ruangan, menatap keluar jendela dengan tangan di saku celana. Rambutnya lebih pendek dari yang ia ingat, jas hitamnya begitu pas, dan siluetnya masih membawa aura yang sama: tenang, dingin, tak tergoyahkan. Seolah lima tahun hanyalah mimpi. “Aurelia Camelia,” ucapnya, suaranya dalam dan datar, tanpa menoleh. “CEO Alghazi,” jawabnya ringan, berusaha sekuat tenaga menahan dentuman emosinya. “Kita bertemu lagi.” Elvarian akhirnya menoleh. Tatapan itu—hitam dan tajam, penuh kenangan—mendarat tepat di matanya. Sekejap, waktu seakan mundur. Tapi hanya sekejap. “Terima kasih telah menerima undangan kami. Proyek ini sangat penting,” ucapnya. “Dan saya yakin kamu bisa menanganinya secara profesional.” "Profesionalisme adalah spesialisasiku," jawab Aurelia datar. "Perasaan? Sudah lama saya pensiun dari itu." Senyum tipis muncul di bibir Elvarian, entah menghargai sarkasme atau menyembunyikan sesuatu. Di luar ruangan, dunia sibuk menari. Tapi di antara dua orang ini, waktu kembali berhenti. Dan mereka tahu—ini bukan sekadar kolaborasi. Ini adalah awal dari medan perang, yang lebih berbahaya dari cinta yang pernah mereka jalani. Elvarian melangkah ke sisi meja utama, memberi isyarat agar semua perwakilan duduk. Asisten dan manajer dari pihak Aurelia, tim dari Alghazi Corp, dan perwakilan dari investor duduk dalam formasi elegan. Hanya dua kursi utama yang kosong—satu di kanan Elvarian, satu lagi di hadapannya. Dan dengan langkah yang tak kalah anggun, Aurelia memilih duduk di hadapan pria itu. Pandangan mereka sempat bertemu sejenak, seperti dua gelombang laut yang bertubrukan di permukaan yang tenang. “Project Aurora.” Suara Elvarian terdengar mantap, mengisi ruangan. “Sebuah lini fashion kolaboratif yang akan menyatukan estetika desain Aurelia Camelia dan infrastruktur global Alghazi Corp. Target kita sederhana—memenangkan pasar Asia Tenggara sebelum akhir tahun.” Aurelia membuka map di depannya tanpa berkata apa pun. Tapi dalam benaknya, gelombang masa lalu sudah mulai bergemuruh. “Presentasi konsep dari pihak Aurélie akan dimulai sekarang.” Elvarian menoleh padanya. “Kita persilakan Ibu Aurelia.” Ia berdiri tanpa ekspresi. Matanya menyapu seluruh ruangan, lalu kembali jatuh pada Elvarian. “Project ini bukan tentang angka, tren, atau kecepatan. Ini tentang membangun kembali makna ‘keindahan’ di tengah dunia yang terlalu sibuk dengan performa,” ucap Aurelia. Suaranya tenang tapi berwibawa. “Dan keindahan, kadang harus lahir dari luka.” Sejenak ruangan terdiam. Elvarian memejamkan mata. Ia tahu kalimat itu bukan hanya tentang fashion. Selesai presentasi, tepuk tangan terdengar tertib. Tidak terlalu ramai, tapi cukup membungkam udara dingin di ruangan itu. Aurelia kembali duduk, menyilangkan kakinya, lalu mengambil seteguk dari gelas kristal berisi sparkling water. Seorang direktur marketing Alghazi Corp memuji pendekatannya yang "emosional dan artistik". Seseorang dari divisi legal mencatat beberapa rincian tentang hak cipta desain. Semua terasa biasa. Biasa sekali. Hingga akhirnya Elvarian membuka suara lagi. "Pendekatan kamu... unik," katanya pelan, matanya mengarah langsung pada Aurelia. "Menggunakan luka sebagai sumber estetika. Itu berani." Aurelia tersenyum tipis. “Luka tak pernah berbohong, Tuan Elvarian. Dan dunia sudah terlalu penuh dengan yang palsu.” Beberapa orang di ruangan terkekeh kecil. Tapi bukan karena candaan. Melainkan karena mereka bisa merasakan ketegangan halus yang menari di antara dua sosok di tengah meja itu. Setelah rapat resmi dinyatakan selesai, para eksekutif mulai meninggalkan ruangan. Satu per satu, kursi-kursi kosong. Hanya tinggal dua orang—dan satu ruang yang terlalu besar untuk kenangan yang belum selesai. “Kau masih suka menantang,” ucap Elvarian tanpa melihatnya. “Kau masih suka bersembunyi,” balas Aurelia. Ia berdiri, merapikan berkasnya tanpa tergesa. "Kenapa kau undang aku?” tanyanya, masih dengan nada tenang tapi matanya mulai menusuk. Elvarian menatap jendela. “Karena hanya kamu yang bisa buat brand ini hidup.” “Kau yakin bukan karena rasa bersalah?” Elvarian tak menjawab. Ia hanya memandangi cermin kaca yang menampilkan refleksi Aurelia berdiri di belakangnya—cantik, kuat, dan jauh lebih berbahaya daripada yang ia ingat. “Kau sudah punya tunangan, kan?” Aurelia menambahkan, setengah acuh, setengah tajam. “Selamat.” Elvarian akhirnya menatapnya. Tatapannya tidak menunjukkan rasa bersalah. Tapi juga tidak ada kebanggaan. Hanya hening. “Kalau kamu sudah selesai bicara soal masa lalu, kita bisa mulai bicara tentang masa depan,” ucapnya. Aurelia tersenyum kecil. Bukan senyum bahagia. Tapi senyum seorang wanita yang pernah patah dan kini berdiri tegak di atas puing-puingnya. “Baik. Tapi pastikan masa depan itu cukup profesional… karena perasaanku sudah tidak akan ikut lagi.” Ia melangkah pergi, membiarkan wangi parfumnya yang mahal tertinggal di udara—seperti jejak luka yang tak bisa dihapus oleh waktu. --- Aurelia baru saja melangkah keluar dari ruang rapat ketika pintu lift terbuka. Dentingnya nyaring. Hening seketika di koridor berubah menjadi bisik-bisik kecil yang nyaris tak terdengar. Dari dalam lift, muncul seorang wanita. Langkahnya anggun. Rambutnya disanggul rapi dengan anting berlian putih menggantung elegan di kedua telinganya. Gaun putih gading yang dikenakannya tampak sederhana di permukaan, tapi dari potongannya Aurelia tahu: itu haute couture. Kelas atas. Bukan sembarang orang bisa mengenakannya dengan percaya diri. Aurelia tahu siapa dia bahkan sebelum seseorang menyebut namanya. Nadine Alesha Delacroix. Putri dari pemilik Delacroix Holdings. Tunangan Elvarian yang fotonya sempat viral tiga bulan lalu di pesta amal kerajaan bisnis Asia Selatan. “Oh,” ucap Nadine, bibirnya membentuk senyum kecil yang sangat terlatih. “Kau pasti Aurelia Camelia.” Aurelia menoleh, tatapannya datar tapi dalam. “Dan kamu pasti Nadine.” Keduanya berdiri dalam jarak yang sopan tapi menegangkan. Di sekeliling mereka, dinding marmer, lukisan ekspresionis modern, dan aroma bunga anggrek dari diffuser otomatis. Tapi udara di antara mereka lebih dingin dari sistem pendingin gedung itu sendiri. “Aku dengar presentasimu luar biasa,” ucap Nadine sambil berjalan pelan menghampiri. “Varian sangat terkesan. Dia bicara tentangmu semalam.” Aurelia mengangkat alis. “Bagian mana yang dia ceritakan? Ide desainku atau masa lalu kami?” Senyum Nadine mengencang, meski masih elegan. “Keduanya, mungkin. Tapi kau tahu, pria kadang hanya mengingat apa yang penting.” “Dan kadang,” balas Aurelia, mendekat satu langkah, “mereka melupakan apa yang paling menyakitkan.” Untuk sesaat, hanya suara AC yang terdengar. Lalu Nadine kembali tersenyum, menyentuh lengan Aurelia dengan halus—kontak yang terasa seperti sengatan kecil. “Apapun yang terjadi lima tahun lalu, Aurelia,” bisiknya, “kau tetap hanya masa lalu. Sedangkan aku… adalah masa depan yang dia bangun sekarang.” Aurelia hanya tersenyum. “Sayangnya, masa lalu seringkali lebih kuat dari yang kau kira.” --- Langit sore di Avendra City berubah menjadi gradasi jingga keemasan saat Aurelia membuka pintu apartemennya. Lantai 38, menghadap langsung ke Sungai Mirena, dengan balkon kaca dan interior serba hangat dalam nuansa beige, putih s**u, dan aksen emas matte. Tempat itu seperti istananya sendiri—tempat dia menciptakan dunia yang bebas dari kekacauan luar. Tapi hari ini, bahkan istananya terasa tak sanggup meredam dentuman masa lalu yang datang bersamaan dengan tatapan mata Elvarian dan suara Nadine. Aurelia melepas heels-nya perlahan. Kakinya sakit. Tapi hatinya lebih perih. Ia berjalan ke dapur kecil, menuangkan segelas wine merah tua, lalu melangkah menuju balkon. Angin sore menyapu wajahnya, lembut, tapi cukup menusuk. Ia memejamkan mata. Lalu semuanya datang. Suara Elvarian yang dulu membacakan puisi di telinganya. Sentuhan jemarinya saat pertama kali mereka berjalan di tengah hujan di distrik tua Araméra. Aroma kopi yang biasa mereka racik di studio kecil tempat mereka pertama kali membangun konsep merek bersama. Dan juga malam itu. Malam ketika Elvarian menghilang. Tanpa kata. Tanpa pamit. --- Lima tahun lalu. Hujan turun deras di luar jendela apartemen lama mereka. Aurelia duduk di sofa, mengenakan hoodie milik Elvarian, menunggu pesan balasan yang tak kunjung datang. Ponselnya sepi. Studio sepi. Dunia ikut diam. Ia mencoba menelepon berkali-kali. Semuanya masuk voicemail. Lalu keesokan harinya, dia menemukan kunci apartemen diletakkan rapi di meja makan. Tak ada catatan. Tak ada sepatah kata pun. Hanya kepergian yang terlalu tenang untuk luka sebesar itu. Dan sejak hari itu, dunia Aurelia berubah. Ia membakar gaun pertamanya yang mereka desain bersama. Ia mengunci dirinya tiga bulan di kamar, lalu muncul kembali dengan visi yang baru—lebih tajam, lebih mewah, lebih tak terjangkau. --- Sekarang, lima tahun kemudian, dia berdiri sendiri lagi di balkon yang berbeda. Dengan nama yang lebih besar. Dengan luka yang lebih dalam. Tapi tetap dengan pertanyaan yang sama: “Kenapa kamu pergi?” Aurelia menatap bayangan dirinya di cermin kaca balkon, lalu membisik, “Dan kenapa kamu kembali… sekarang?” --- Pagi itu, langit tampak bersih. Tapi di layar ponsel Aurelia, badai mulai terbentuk. Nada notifikasi tak berhenti berdentang sejak pukul tujuh pagi. Pesan dari manajer, mention dari media, dan notifikasi yang datang beruntun dari platform-platform gosip fashion dan bisnis. Aurelia meletakkan cangkir tehnya dengan pelan, lalu membuka layar ponsel. [HEADLINE – FASHION CENTRAL] 💣 “Eks Kekasih Kini Rekan Bisnis? Aurelia & Elvarian Alghazi Siap Kolaborasi dalam ‘Project Aurora’!” [GOSSIP BUSINESS] 🔥 “Kisah Lama Muncul Lagi? Kolaborasi Dua Nama Besar Ini Punya Sejarah Rahasia di Baliknya.” [INFLUENCER FASHION: @RaelleTrends] 🎥 “Aurelia looked stunning yesterday, but you know what’s more shocking? That little eye contact with the CEO. Girl, are we getting a drama reboot?” Aurelia menghela napas panjang. Dunia luar terlalu cepat menebak, terlalu suka mengaitkan. Dan yang paling membuatnya muak—mereka selalu benar di waktu yang salah. “Mana yang lebih buruk,” gumamnya sambil membuka laptop, “jadi korban media, atau korban masa lalu sendiri?” Beberapa pesan dari klien lama masuk, menanyakan tentang validitas rumor. Ada yang antusias. Ada yang meragukan. Dan ada yang langsung menyatakan mundur dari kerja sama. Dunia bisnis tak pernah ramah pada drama, terlebih drama yang menyangkut hati dan reputasi. --- Di tempat lain, Elvarian sedang berdiri di ruang olahraganya, menatap berita yang sama di layar TV 70 inci di dinding kaca gedungnya. Wajahnya tenang. Tapi matanya tidak. Ia tahu ini akan terjadi. Tapi tetap saja, efeknya lebih menusuk dari yang ia bayangkan. Aurelia kembali muncul di layar. Potret close-up dirinya saat presentasi kemarin. Sorot mata yang sama—tajam, terluka, dan terlalu cantik untuk diabaikan. Elvarian mengusap wajahnya perlahan. “Aku yang memulai ini,” bisiknya. “Aku yang harus bertanggung jawab.” Ia berjalan ke rak arsip, menarik sebuah kotak hitam kecil dari laci tersembunyi. Kotak itu berisi barang-barang yang tak pernah dibuang: foto mereka berdua di Ruang konferensi lantai 39 Alghazi Tower sore itu tampak lebih ramai dari sebelumnya. Tim kreatif dari kedua pihak, investor minor, dan beberapa pengamat tren diundang untuk sesi review awal Project Aurora. Aurelia tiba lima menit sebelum waktu yang dijadwalkan. Ia mengenakan blazer hitam elegan dengan garis emas tipis dan celana panjang satin berpotongan tajam. Rambutnya digelung rapi. Tatapannya tajam seperti eyeliner wing-nya. Dia tidak datang sebagai wanita yang pernah ditinggalkan. Dia datang sebagai kreator—si pemilik visi. Namun saat pintu terbuka dan ia melangkah masuk, napasnya nyaris tercekat sesaat. Nadine sudah duduk di kursi investor utama, bersebelahan dengan Elvarian. Gaun formal putih gading, kalung mutiara meliuk di lehernya, dan senyum formal yang sama—senyum seorang wanita yang tahu apa yang ia kuasai. “Selamat datang, Miss Aurelia,” ucap Nadine. “Kami menantikan presentasimu hari ini.” Aurelia hanya menangguk. “Dan saya berharap pengamatannya tetap profesional.” Tatapan mereka bertabrakan sejenak—dan hanya mereka yang tahu bahwa meja itu kini bukan sekadar tempat proyek, tapi medan pertempuran dalam diam. Elvarian membuka sesi dengan menjelaskan timeline, proyeksi distribusi, dan konsep pasar. Lalu ia mempersilakan Aurelia menampilkan desain-desain awal yang akan digunakan untuk kampanye pertama. Aurelia berdiri, menyalakan proyektor, dan mulai menjelaskan tiap siluet, makna warna, motif batik futuristik yang dikombinasikan dengan elemen arsitektur Eropa modern. “Setiap potongan mewakili fase pemulihan luka. Aurora adalah fajar. Maka seluruh koleksi ini adalah perjalanan menuju cahaya,” ucapnya. Ruang menjadi tenang. Semua mata tertuju padanya. Bahkan Nadine terdiam sesaat. Dan Elvarian… tersenyum tipis, nyaris tak terlihat. Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama. “Desainnya… emosional,” komentar Nadine akhirnya. “Tapi apakah emosi adalah pendekatan yang tepat untuk pasar premium, yang lebih mengutamakan eksklusivitas daripada luka personal?” Aurelia tak gentar. Ia menatap langsung ke arah wanita itu. “Justru karena mereka eksklusif, mereka ingin sesuatu yang punya jiwa. Dan tak ada yang lebih jujur dari emosi.” Seorang investor tersenyum setuju. “Menarik. Pendekatan storytelling-nya kuat.” Nadine terdiam. Tapi Aurelia tahu: itu bukan kekalahan. Itu hanya langkah mundur sebelum serangan berikutnya. --- Setelah sesi berakhir dan peserta lain mulai keluar, Aurelia menghampiri Elvarian yang masih duduk sambil menatap layar. “Dia bagian dari ini?” tanyanya pelan. “Dia pemegang saham Delacroix. Alghazi butuh dukungan mereka untuk distribusi Eropa.” “Bagus. Jadi kalau proyek ini gagal, dia juga jatuh bersamaku.” Elvarian menatapnya. “Aurelia—” “Tolong,” potongnya, “jangan mulai lagi.” Ia membalikkan badan dan melangkah pergi, membiarkan bayangan tubuhnya tertinggal lebih lama daripada kehadirannya. secarik tiket pesawat ke Milan yang tak pernah ia berikan, dan sebuah sketsa cincin pertunangan yang gagal diwujudkan. Hari itu ia kembali menatap masa lalu. Bukan untuk nostalgia. Tapi untuk memastikan bahwa kali ini, ia tidak akan lari lagi. ––– Di dalam mobil, Aurelia duduk dalam diam. Sopir pribadi-nya tak berani berkata apa pun sejak ia masuk. Langit sore berubah kelabu, dan tetesan gerimis mulai menempel di kaca jendela. Tangannya masih menggenggam tablet tempat desainnya tadi ditampilkan. Ia membuka galeri. Melihat satu persatu sketsa yang ia buat semalam, lalu diam-diam menahan napas saat menyadari: “Kenapa aku menggambar ini sambil mikirin dia?” Setiap lekuk kain. Setiap siluet tubuh. Setiap warna yang ia pilih… semua tanpa sadar kembali ke masa lalu. Kembali pada Elvarian. Aurelia memejamkan mata, mencoba mengusir pikiran itu. Tapi luka lama, seperti parfum mahal, selalu meninggalkan jejak. Sesampainya di apartemen, ia langsung melepas blazer-nya dan menyalakan musik klasik pelan—Debussy. Tangannya membuka lemari, menarik satu kotak kecil yang sudah lama tak ia sentuh. Isinya: sepucuk surat yang tak pernah ia kirim. Ditulis seminggu setelah Elvarian menghilang. “Varian, kalau kau membaca ini, tolong beri tahu alasannya. Bahkan kalau alasanmu kejam. Aku bisa menghadapinya. Tapi jangan diam. Jangan pergi begitu saja. Jangan anggap aku tak layak tahu.” Ia meremas surat itu. Tapi tak pernah melemparkannya. “Kalau aku tahu kebenaran dari awal... apakah aku tetap akan mencintaimu?” --- Sementara itu, Elvarian berada di ruangan pribadinya, duduk sendiri di meja kayu hitam dengan pencahayaan lampu temaram. Tangannya memegang ponsel. Ia membuka kontak dengan nama "Dr. Rahman – Confidential". Setelah lima detik ragu, ia menekan tombol panggil. “Varian?” suara di seberang menjawab, berat dan dalam. “Aku pikir kau takkan pernah hubungi aku lagi.” “Waktunya sudah datang,” jawab Elvarian pelan. “Aurelia kembali. Dan dia... dia pantas tahu.” Dr. Rahman terdiam sejenak. “Kau yakin?” Elvarian menatap luar jendela ke kota yang mulai gelap. Lampu-lampu menyala di kejauhan seperti bintang-bintang buatan. “Aku lelah menutupinya. Aku lelah bersembunyi di balik keputusan ‘demi kebaikan.’” “Aku akan siapkan dokumen dan catatannya,” ujar Dr. Rahman. “Tapi setelah ini, takkan ada jalan balik.” Elvarian mengangguk meski tahu lawan bicaranya tak melihat. “Aku tak mau jalan balik. Aku mau selesai.” --- Di tempat terpisah, Aurelia berdiri di depan cermin kamarnya. Ia menatap wajahnya sendiri, menyesap sisa teh yang sudah dingin. Bibirnya bergetar. “Apa aku cukup kuat untuk ini semua?” Pertanyaan yang mengalir tanpa suara. Tapi luka di matanya sudah menjawab lebih dulu. ––– Hotel De Majestique, ballroom utama. Langit-langit setinggi 20 meter, lampu gantung kristal raksasa, dan karpet merah membentang dari tangga agung yang dilapisi marmer obsidian. Di sinilah acara gala fashion “Vision Beyond Fabric” digelar—sebuah perhelatan paling bergengsi di Avendra untuk nama-nama elite di dunia fashion dan bisnis. Aurelia memasuki ruangan dalam gaun hitam dengan potongan bahu terbuka dan sulaman kristal di pinggangnya. Rambutnya digelung klasik, leher jenjangnya dihiasi kalung safir biru tua, dan sepatu high heels Valentino menambah tinggi sekaligus wibawanya. Begitu dia muncul, kamera langsung menoleh. Sinar blitz menyala. Wartawan berbisik. Aurelia Camelia hadir. Sendiri. Seanggun malam. Ia melangkah mantap melewati kerumunan. Para tamu VIP memberi salam, beberapa mencoba bersenda gurau, sebagian mencoba membicarakan rumor yang sedang panas. Tapi Aurelia menjawab semua dengan senyum profesional—dingin, rapi, dan indah. Lalu suara itu datang. “Kau masih bisa membuat semua orang diam hanya dengan masuk ke ruangan.” Jantung Aurelia seperti berhenti sejenak. Ia menoleh pelan. Di bawah sinar keemasan ballroom, Elvarian Alghazi berdiri dalam jas hitam klasik, kemeja navy pekat, dan jam tangan platinum yang mencuri perhatian. Semua orang melihat mereka sekarang. Dua sosok yang tampak sempurna dari luar, tapi menyimpan sejarah yang lebih dalam dari segala kemewahan di ruangan itu. “Kenapa kamu di sini?” tanya Aurelia, suaranya tetap lembut, tapi mata tak bisa berbohong. “Sama sepertimu,” jawab Elvarian, “melepaskan topeng sebentar di antara sorotan kamera.” Mereka berbicara di samping tangga, di balik tirai merah yang menjuntai—cukup jauh dari kerumunan. “Kalau kamu hanya ingin memunculkan kenangan, kamu berhasil,” kata Aurelia. “Tapi jangan berharap aku akan jatuh di tempat yang sama.” “Aku gak berharap kamu jatuh,” ucap Elvarian pelan. “Aku cuma ingin kamu tahu… semua yang aku lakukan lima tahun lalu, itu bukan karena aku berhenti mencintaimu.” Aurelia menahan napas. Dunia terasa lambat. Musik gala terdengar seperti gema dari kejauhan. “Kau benar-benar punya keberanian untuk berkata itu… di tempat ini?” bisiknya. “Aku gak akan minta maaf sekarang. Tapi aku akan pastikan kamu tahu kebenarannya. Tentang malam itu. Tentang kenapa aku pergi.” Aurelia memejamkan mata sejenak. Ada ribuan kamera di luar tirai itu. Tapi hanya satu pertanyaan yang memenuhi pikirannya. “Kenapa kamu gak pernah kasih tahu dari dulu?” Elvarian menatapnya dengan luka yang tak ia sembunyikan. “Karena aku takut kamu akan benci aku… seumur hidupmu.” Aurelia membuka mata. “Terlambat, Varian. Aku udah belajar hidup tanpa kamu.” Ia melangkah pergi—anggun, tenang, tapi mata berkaca. Dan Elvarian hanya berdiri di sana, dengan napas yang tertahan. “Tapi kamu belum pernah benar-benar belajar hidup tanpa cinta itu… kan, Aurelia?” ––– Pukul dua dini hari. Aurelia berdiri di balkon kamar suite lantai 45 Hotel De Majestique. Angin malam mengibaskan helaian rambutnya yang tak sempat disanggul kembali usai acara gala. Di kejauhan, kota Avendra masih terjaga. Cahaya-cahaya dari gedung pencakar langit memantul di sungai Mirena. Hiruk pikuk lalu lintas malam masih terdengar samar dari kejauhan. Tapi di tempatnya berdiri, dunia terasa hening—seperti perasaan yang tak diucapkan. Ia memegang gelas sampanye yang sudah tak bergelembung. Dinginnya tak seberapa dibanding dingin yang merambat dari dalam dadanya. “Dulu kita punya alasan masing-masing. Aku gak mau saling menyalahkan.” Ia membisikkan kalimat itu, seperti mantra pelindung yang tak lagi ampuh. Kenapa dia masih mengingat? Kenapa setiap sorot mata Elvarian masih menusuk pertahanannya yang sudah ia bangun bertahun-tahun? “Gapapa, aku gak dendam lagi kok.” Tapi siapa bilang memaafkan berarti tidak merasa? Siapa bilang waktu benar-benar menyembuhkan? Aurelia mengangkat wajah, menatap langit malam. Tak ada bintang. Tapi ada awan tipis dan cahaya samar dari bulan yang hampir purnama. “Kau kembali, Varian. Tapi aku tidak yakin aku masih orang yang sama.” Ia meletakkan gelasnya. Menutup mata. Lalu tersenyum kecil. Sebuah senyum yang tak dimaksudkan untuk siapa-siapa. Senyum seorang wanita yang tak lagi tahu apakah ia sedang menunggu, atau sedang bersiap melepaskan untuk terakhir kalinya. --- Dan di tempat berbeda... Elvarian menatap layar ponselnya yang masih menyala. Pesan di draf belum dikirim. “Kalau aku bisa mengulang waktu, aku akan tetap memilih mencintaimu. Tapi kali ini... aku gak akan lari.” Tapi ia tak menekan tombol kirim. Ia hanya menatap layar itu beberapa detik, lalu mematikannya. Malam belum selesai. Tapi luka itu sudah kembali hidup. Dan janji yang dulu tak sempat selesai… kini kembali menuntut akhir.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN