Satya tampak menikmati perjalanan kali ini, meskipun beberapa kali mobil yang mereka tumpangi harus berhenti. Tidak seperti biasanya yang akan menggerutu saat menghadapi kemacetan ibukota. Wajahnya terlihat semringah sambil sesekali bersenandung dan tertawa mendengar ocehan sang putri sulung, yang tidak berhenti bertanya ini dan itu atau menceritakan kejadian-kejadian di sekolah. Berbeda dengan Belva yang terlihat anteng duduk di belakangnya dengan mata yang tertuju pada Kirana. Namun, itu hanyalah sebuah topeng untuk menutupi rasa takutnya akan luka yang akan kedua putrinya dapatkan setelah ini berakhir. Ia sudah mencegah, tapi Selva berkeras hati ingin menjalani ini. "Mau mampir makan dulu?" tanya Kirana. Sekarang sudah senja. Macet membuat mereka menghabiskan waktu lebih lama dari bi

