“Itu jatahku, Bel,” ucap Selva saat kembarannya mengambil dua buah pancake yang tersisa di piring saji, lalu menambahkan dengan potongan buah-buahan di antara dua makanan yang berasal dari Peradaban Romawi Kuno itu. Belva tidak menggubris, malah makan dengan lahap sambil mengangguk-angguk samar. Tanda jika dia sangat menikmati makanan yang sedang disantapnya, itulah yang Kirana simpulkan setelah beberapa hari mengamati. “Ma …,” rengeknya saat Belva tak mengacuhkan ucapanya. Satya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Selva yang kelewat manja. Bahkan, dia sempat mengingat-ingat kembali siapakah di antara dua makhluk serupa itu yang keluar lebih dulu. “Nanti Ma—” Ucapan Kirana terhenti karena kedatangan Pak Mail yang tergopoh-gopoh. “Anu, Pak. Maaf mengganggu. Itu … di luar ad

