Pukul dua belas malam, Satya baru tiba di rumah yang kini terasa hampa. Bukan karena lembur, tetapi ia kembali menemui Bastian yang sialnya sedang menjalankan praktik di Klinik keluarga. Jadilah, ia harus menunggu sampai pria berparas tampan itu selesai memeriksa para wanita-wanita berbadan dua. Satya tersenyum pilu sewaktu duduk di kursi tunggu, yang dipenuhi oleh pasangan suami-istri yang nampak bahagia. Tepat di sisi kanannya, seorang laki-laki tengah mengelus perut sang istri dengan lembut. Sesekali mereka tertawa bahagia saat perut wanita muda itu berkedut. Batinnya semakin terasa pilu. Andai saja kehidupan pernikahannya dengan Kirana berjalan normal, andai Belva bisa menerima Kirana seperti yang dilakukan Selva, mungkin saat ini ia sedang sibuk memenuhi keinginan Kirana yang sedang

