Chapter 07
"AAAA GABOETTTTT." Chan lagi-lagi berguling diatas kasurnya, meneriakan hal yang sama dengan menit-menit sebelumnya, sebal akan kegabutannya sendiri.
Jumat ini adalah hari paling tidak menyenangkan untuk Chan yang dua minggu kemarin so sibuk dengan menjadi siluman kura-kura. Dia mengikuti hampir semua rapat yang ada di kampus.
Ya maklum lah, anak terlalu gabut mah gini. Berangkat pagi, nyampe ke kosan jam 11 malem, kadang lebih malah, udah kaya kupu-kupu malam.
Semua ini Chan lakukan semata-mata hanya untuk melupakan keberadaan Hana di hidupnya.
Chan udah terlalu pesimis sama kisah cintanya yang bahkan belum ia mulai, dia sudah bisa membaca ending jika perasaannya terus berlanjut.
Endingnya ada dua, tidak bisa bersama, atau bersama tapi salah satu dari mereka pindah Agama.
Dia ga mau ending yang pertama ataupun yang kedua. Rasanya tidak baik untuk pindah dari keyakinan yang dia percayai hanya demi cinta.
Jadi jalan keluar yang Chan buat adalah menghindari Hana dengan melakukan segudang kesibukan sehingga ia tidak bisa memikirkan cewek yang menarik atensinya tersebut.
Walaupun yah rasanya semua itu sia-sia saja karena Hana satu kosan dengannya. Kelas Hana juga ada di gedung yang sama dengannya. Dan rapat yang Chan ikuti rata-rata untuk kegiatan kepanitiaan pengkaderan maba untuk, berati ada Hana juga nantinya.
Ah sial.
Chan hampir gila memikirkan solusi dari masalahnya sendiri.
Dota sekalipun tidak bisa membuat masalahnya lenyap. Hana seolah memenuhi seluruh ruang otak Chan ketika lelaki itu sedang tidak melakukan kegiatan apapun.
'Hana lagi apa ya?'
'Udah makan belum dia?'
'Kuliah ga ya?'
Pejuangan Chan dua minggu kebelakang sia-sia karena penasaran, akhirnya Chan keluar dari kamarnya, lalu turun ke lantai bawah, mata sipitnya mengintip kamar nomor 20, kamarnya Hana.
'Yah pintunya ketutup, yang lain juga. Kayanya dia ada jadwal kuliah deh.'
Terlanjur kebawah, Chan memutuskan untuk pergi ke dapur. Berniat mengambil puding yang semalam dia buat. Chan terlalu males buat sarapan, jadi pengen makan puding terus main game lagi aja.
Tapi ... Mangkuk yang kemarin terisi puding coklat full dan lava ini sudah berantakan.
Disamping mangkuk itu ada kertas sticky note basah dengan tulisan berantakan.
Chan gua icip ya pudingnya. Tertanda Daniel ganteng.
Chan hanya bisa menggelengkan kepalanya ketika selesai membaca pesan dari bule Jaksel itu. "Icip kok hampir setengahnya."
Dengan pasrah akhirnya Chan membawa pudingnya ke sofa deket televisi. Dia berniat makan puding sembari nonton kartun—yang semoga masih ada. Ga jadi main gamenya, moodnya udah terlanjur ancur karena pudingnya rusak.
"Kok acara gosip semua?" itu protesan pertama Chan pas nonton tv, lupa kali ya kalo tv lokal jarang nyetel kartun kalo bukan weekend. Ga ada kartun yang Chan suka adanya cuman ...
"Upin dan Ipin ini lah dia, kembar seiras itu biasaa~"
Chan menatap datar latar televisi yang menampilkan dua tuyul botak berbahasa Malaysia. Sebenarnya Chan ga suka kartun 3D ini. Rasanya serem membayangkan kalo dia punya anak kaya Upin dan Ipin yang kepalanya gede dan rambutnya ga numbuh mulu. Tapi cuman ini kartun yang tersisa, ya seengaknya ini lebih baik dibanding menonton berita gosip dan politik.
Dan seenggaknya kekonyolan Upin Ipin dan kawannya bisa membuat Chan melupakan Hana, buat sesaat tapi.
"KAKAKKK!"
"Astaga!" Chan terguncang kaget begitu mendengar pintunya dibanting keras oleh lelaki dewasa berumur sekitar 40 tahunan lebih dari luar. Lelaki itu langsung nyelonong masuk aja dan lari ke kamarnya Hana.
Chan yang takut Hana kenapa-kenapa langsung berlari dan menghampiri cowok yang ternyata lebih pendek darinya itu. "Tunggu-tunggu, anda siapa? Kenapa masuk tanpa permisi? Anda mau maling ya?" tuduh Chan pada lelaki tersebut.
Cowok itu menatap Chan bingung. "Kok maling sih? Ya kali orang ganteng kek saya maling. Tolong ya saya sedang buru-buru, jangan menghadang pintu terus."
Chan masih memberikan tatapan menyelidik pada cowok itu. "Enggak bisa, anda harus jelaskan siapa anda dan maksud kedatangan anda kema—"
Ucapan Chan terpotong karena pintu dibelakang Chan tiba-tiba dibuka oleh pemilik kamar nomer 20 itu. Hana menyembulkan kepalanya dan menatap Chan. "Kak Chandra, dia Bapak aku, dia mau ngejemput aku karena aku yang minta."
'Anjer!' Wajah Chan auto memerah, antara seneng berlebihan pas Hana bilang 'aku' dan malu karena telah menghadang Ayahnya Hana. "Ah iya." akhirnya Chan mempersilahkan Ayahnya Hana untuk masuk ke kamar anaknya itu, tak lupa meminta maaf atas kesalahannya tadi.
Tapi Chan bingung juga sih, "Eh bentar Han, kamu emangnya kenapa?"
"Asam lambungnya kambuh dan dia diare parah," jelas Chan pada Imma yang baru pulang dari kampus dan langsung menanyai Chan atas menghilangnya sang sahabat. "jadi dia minta dijemput dan ga bisa ikutan kegiatan perkemahan besok."
Teman-teman Hana mendesah kecewa mendengar jawaban Chan. Rasanya Bandung Squad kurang lengkap kalo ga ada mahluk nyebelin kaya Hana yang hobinya ngomong kasar ke panitia.
"Duh pasti gara-gara makan mie semalem," Elsa mulai menduga-duga. "dia kan bilang asam lambungnya sering kambuh kalo makan mie dan makanan pedes."
Ashiel malah menolehkan kepalanya, ia bingung. "Bukannya waktu di sekolah juga kita sering makan mie dan Hana ga kenapa-kenapa?"
"Mungkin kemarin pas makan mie perutnya kosong," tebak Syila. "soalnya setau gua dia tuh emang gampang kambuh asam lambungnya kalo perutnya kosong."
Chan menatap satu persatu teman Hana dengan bingung. "Emang semalem dia makan mie apa sih sampe asam lambungnya kambuh gitu?"
"Samyang." mendengar jawaban Imma, Chan cuman bisa berduka cita. Chan tau Hana bukan penggemar pedas, dia pernah melihat Hana menolak kripik pedas yang ditawarkan Gumelar, dan samyang itu ... Pedesnya warbiasah.
Simpulan Chan sih wajar aja kalo Hana auto sakit besoknya. Orang dia perutnya kosong, punya asam lambung yang gampang kambuh, tapi nekat makan samyang. Bunuh diri itu namanya!
Tadi aja bibir Hana pucet banget, kayanya capek dan lemes gara-gara abis bulak-balik dari kamar mandi. Diare kan bikin lemes.
"HANAAAAAAA! LO BELOM MODAR KAN?" Chan kembali kaget mendengar teriakan Aji yang ternyata lagi ngevidcall Hana.
Keempat teman Hana langsung menghampiri Aji dan menanyakan keadaan Hana sekarang. Chan bisa melihat hampir semua teman ceweknya Hana khawatir sama anak itu, Imma dan Syila bahkan tak segan memarahi Hana.
Chan juga pengennya gabung, cuman yah dia gengsi. Sama malu juga dengan kejadian tadi pagi. Walaupun yah Ayahnya Hana ternyata baik banget tapi tetep aja rasanya malu pas di ketawain lelaki yang Chan duga berumur 40 tahunan itu.
Akhirnya Chan memutuskan untuk pergi ke kamarnya dan menidurkan tubuhnya sendiri. Menatap langit-langit kosan yang sudah memiliki hiasan 3d berupa jaring laba-laba.
Menghela napas panjang, untuk pertama kalinya Chan nyesel menjadi kura-kura.
"Andai gua bisa jaga dia," ucap Chan dengan lirih, tanda ia benar-benar menyesal.
Walaupun Hana sakit bukan karenanya, tapi ya tetap saja Chan merasa bersalah. Minimal kan kalo Chan tau Hana lapar, dia bisa masakin Hana sesuatu.
Kalo sudah begini ya bagaimana lagi? Chan hanya bisa duduk sembari mengatupkan kedua tangannya. Berdoa pada Tuhannya agar Hana segera sembuh.
"Ya Tuhan, Engkaulah Sang Penyembuh. Meskipun ini bukan penyakitku, tapi tolong angkat penyakit asam lambungnya Hana Nandhika ke hadirat-Mu. Aku memohon kepadaMu untuk mengenyahkannya jika Engkau berkenan. Aku percaya bahwa Engkau pasti dapat menyembuhkannya karena Engkau murah hati. Aku percaya bahwa kehendak-Mu pasti terbaik."
"Tidur sempacc, tidurrr! Udah jam 10 ini!"
Hana mendengus sebal mendengar ucapan adik lelakinya yang kini menjadi anak SMP, Hanif Putra Nandhika namanya.
"Bacoddd." Hana mengacungkan jari tengahnya pada Hanif sembari menjulurkan lidahnya.
Eh si Hanif malah teriak. "IBU, SI KAKAK NGOMONG KASARR!"
Hana kan jadi icemochi sekarang. "IH BANCI LO, NGADUU AJA TEROS!"
"YA ELO JUGA LAGI SAKIT PAKE ACARA NGOMONG KASAR PULA! AUTO DIAZAB LO!"
"HEH, MULUT JAGA YA!"
"NTAR GUA PAGERIN!"
"SYUDAH SYUDAHH, ANAKKU SUDAH JANGAN BERANTEM!" Dan untungnya disaat begini, Ayahnya Hana cepat tanggap dan menghampiri kedua manusia yang sedang adu bacot itu. Bapak Yaman memberikan snikers pada anak-anaknya. "nih makan, kalian kan rese kalo lagi laper."
Hana dan Hanif sama-sama saling lirik lalu kembali memalingkan wajah. "Cih." tapi mereka tetep makan snikersnya kok.
"Nah Adek, balik lagi ke alammu ya, jangan ganggu Kakak yang lagi sakit," ujar Bapak Yaman sembari menepuk pundak si bungsu. Setelah si bungsu mengangguk, Bapak Yaman kini menatap Hana. "dan Kakak, istirahat ya kalo bisa mah. Jangan gadang, kamu kan masih sakit."
"Iya Pak." Hana ngangguk pasrah lalu memasuki kamarnya dan sang Nenek.
Sebenarnya Hana dan Hanif tinggal di rumah Nenek dan Kakeknya, sementara kedua orangtuanya tinggal berdua di rumah yang tak jauh dari sini. Tapi karena Hana hari ini sakit, kedua orangtuanya pun terpaksa mengindap disini.
Sejak kecil Hana dan Hanif memang lebih diurus oleh sang nenek, makannya mereka lebih memilih untuk tinggal disini. Katanya lebih nyaman aja, rumah nenek-kakeknya ini lebih luas.
"Tidur Kakak, jangan main hp mulu," ujar sang nenek pada cucu kesayangannya itu. Tangan keriputnya membelai rambut Hana dengan lembut. "kamu teh masih sakit."
"Iya Emak." kata Hana, gadis itu memang memanggil neneknya dengan sebutan Emak. Hana sebenarnya hendak mematikan ponselnya dan pergi tidur, namun tiba-tiba saja ada notifikasi di wanya.
Kak Chandra
|Hana, lo masih sakit ga?
Padahal tadi anak satu kosan juga bertanya hal yang sama, namun cuman pesan dari Chan yang mampu membuat Hana tersenyum tipis. 'Tidur dulu, balesnya subuh ah. Biar chatannya agak lama.'