Chapter 14
Yang spesial dari liburan saat kuliah hanyalah satu, kita bisa mentertawakan anak SMA yang sibuk misuh-misuh karena sudah harus masuk sekolah.
Setidaknya bagi Hana begitu, ada kebahagiaan sendiri ketika melihat adik kelasnya—anak kelas 12 tepatnya yamg lagi masa galau karena bingung mau melanjutkan kemana.
"Han liat tuh mukanya si Jian," Imma baru menunjuk Jian, adik kelasnya yang wajahnya mendadak bete ketika melihat Hana dan Imma datang ke Sekolah lama dengan menggenakan jas kuning. Maklum, hatersnya Hana cukup banyak dan makin berkembang biak pas tau Hana masuk UI lewat SNMPTN.
Hana mah cuman bisa nyengir aja pas ditatapin ga suka. "Semoga yah gua ga ketemu haters gua di kampus nanti."
Imma, Syila, Elsa, dan Ashiel mengaminkan dengan suara keras. "AMINNNN!"
Jian panik sendiri ngedengernya, maklum sih dia juga naksir UI. Apalagi pas udah liat calon katingnya yang datang kesini pada ganteng. Makin pengen aja dia ke UI.
"Tapi kalo keterima pun ga apa-apa sih, ntar biar bisa gue kerjain sampe mampus. Gua kan calon komdis."
Hana senyum tipis, tapi dari sorotnya dia keliatan ga main-main. Nyeremin anjir, udah mirip komdis aja. Jian Merinding jadinya.
"Heh udah dong bacotnya, bentar lagi kita harus masuk ke kelas," kata Ong.
Hana dan bandung Squad yang tergabung dalam forum mahasiswa kota kembang langsung bersiap-siap.
Sebenernya mudah aja sih tugas mereka sosialisasi hari ini. Apalagi untuk kunjungan ke SMA WT ini Hana mendapatkan tugas untuk jadi sesi dokumentasi seperti Jeyhan, bukan pembicara seperti Chan, Syila, dan Jovan.
Ya kan kemarin pas sosialisasi ke SMA 48 Hana udah kebagian jadi pembicara, sekarang gantian dia jadi tim dokumentasi yang kerjaannya moto-moto doang.
Iya moto-moto, tapi pas diliat fotonya sendiri malah ga ada. Maklum lah, namanya juga seksi dokumentasi.
Berhubung sekarang udah siang, pas rombongan UI masuk dan melakukan sosialisasi tentang pentingnya kuliah serta mempromosikan kampus, anak-anak di kelas IPA 3 udah pada menguap dan tidak b*******h.
Tapi untung lah jas UI warna kuning terang, jadi menyilaukan mata dan membuat si pemilik mata menatap ke depan.
Anak cewek ngedadak seger melihat Chan dan Jovan yang berbicara didepan. Inner mereka kompakan berkata, 'GANTENG SEMUA IH BANGSAD?!'
Beberapa ada juga yang gagal fokus ketika Jeyhan membagikan brosur. Jeyhan ganteng abisnya, bikin lemah syahwat.
Yang cowok kebanyakan gagal fokus sama Hana, 'Makin cantik aja.' Beberapa bahkan menggoda Hana dengan gombalan receh.
Jeyhan, dia jelas sadar akan hal itu, makannya dia sengaja ngedeketin Hana--yang padahal kalo jadi seksi dokumentasi harusnya jauhan.
"Kamu ngevideo, aku moto ya Han?" Hana mah ngangguk setuju aja. Toh kameranya bukan punya dia.
Tiba-tiba Jeyhan mengarahkan kameranya pada Hana, dia memoto Hana yang sedang tersenyum tipis. Jangan tanya soal hasil, Jeyhan kan jago motonya, Hana yang jelas ga bakal ngeblur.
Jeyhan tersenyum puas ketika melihat hasilnya. "Cantik."
Ya kapan sih Hana keliatan jelek di mata Jeyhan? Lagi ketawa sampe suaranya kek bapak-bapak aja masih disebut cantik.
Bucin sih.
Seperti biasa, sebelum mereka keluar dari kelas dan mengakhiri acara sosialisasi akan ada sesi foto-foto.
Untungnya Jeyhan selalu bawa tripod kamera, jadi semua mahluk di kelas ada di dalam foto termasuk panitianya.
Hanya saja, yang Jeyhan sebal kenapa Chan harus berdiri disamping Hana?
'Ga boleh cemburu, lo bukan siapa-siapa dia Jey. Tepatnya belum.'
"Teh Hana!"
Hana baru aja keluar dari kelas, dan dia udah dipanggil sama Yedam, adik kelasnya yang sekarang kelas 12, juara FLS2N kategori solo putra.
Jangan tanya suaranya kaya gimana dah, Shawn Medness aja kalah kalo sama Yedam. Semua lagu yang Yedam nyanyiin serasa punya dia terus.
Hana melambaikan tangannya pada Yedam, untung kegiatan sosialisasi ini ada sesi istirahatnya--yang sebenernya cuman nunggu kampus lain selesai sosialisasi di kelas yang harusnya Hana dan kawan-kawan kunjungi.
"Hai Dam, long time no see," Hana nepuk kepala Yedam lembut, berasa sama anjing. Tapi herannya Yedam mau aja di gituin Hana.
"Cie jas kuning sekarang," kata Yedam sembari melihat jas almamater yang Hana pakai, "kenapa ga Teh Han yang masuk ke kelas gua?"
"Pas di kocok kebagiannya rombongan Imma yang masuk ke kelas elo mah," balas Hana. "tapi kan sama aja, sama-sama UI."
"Beda, gua pengennya Teh Hana yang masuk."
"Dih dasar fans," Hana ngibasin rambutnya sendiri, songong dia.
"Fak ga gitu, kan waktu itu Yedam pernah taruhan sama Teteh. Kalo teteh masuk UI, teteh bakalan nyanyi didepan kelas Yedam pas sosialisasi."
Wajah Hana seketika suram, dia baru ingat akan taruhan bodoh itu karena dulu Hana percaya bahwa dirinya ga bakal masuk UI. Makannya, dia mau-mau aja ngeiyain.
Untung aja rombongannya Imma yang kebagian masuk ke kelas Yedam.
"Iya sih, tapi kan dah telat, gua ga masuk ke kelas elo," balas Hana sembari menjulurkan lidahnya.
Yedam sweatdrop. Ternyata kakelnya ini ga pernah berubah, dari jaman latihan buat pembukaan LKBB bareng sampe sekarang masih aja ngeselin. "Dih tapi Janji kan harus di tepatin."
"Iya-iya, ntar gua tepatin kalo lo masuk UI. Gua bakalan nyanyiin lagu kesukaan lo."
"Janji aja terus, di tepatin kaga," cibir Yedam. Padahal dia kangen banget sama suara Hana karena Hana udah ga aktif di padus sejak kelas 12, disuruh nyanyi udah susah banget, Hana lebih suka ngegambar.
Hana nyengir, sekali lagi dia ngelus rambut Yedam. "Yang ini gua beneran nepatin kok, Dam. Ntar lo boleh potong telinga gua kalo ga di tepatin."
Sebenarnya Hana ingin mengobrol lebih banyak dengan Yedam, tapi Chan keburu menghampirinya. "Han ayo."
Niatnya Chan emang cuman narik Hana, tapi Yedam malah bersuara. "Kak Chris?"
Tidak banyak orang yang memanggil Chan dengan sebutan Chris, kecuali keluarganya yang dulu. Makannya Chan merasa aneh saat orang yang berbicara dengan Hana memanggilnya Chris.
"Siapa ya?" tanya Chan dengan ekspresi bodohnya.
Hana menjawab. "Ini Adam Khalfi, tapi orang-orang manggil dia Yedam."
Yedam? Yedam? Saha Yedam?
Butuh beberapa detik bagi Chan untuk berpikir sampai akhirnya dia sadar. "Adek?"
Hana otomatis mundur selangkah. Dari tatapan keduanya yang mendramatis, Hana yakin Chan dan Yedam butuh waktu buat berdua. Ada berbagai macam emosi yang Hana lihat dari pancaran mata keduanya.
"Kak gua duluan ya, kalo kak Chan mau disini sama Yedam aku bakal bilang ke kak Ong dan gantiin kakak jadi pembicara," ucap Hana sembari menepuk pundak Chan, setelah melihat Chan mengangguk Hana pergi untuk menyusul squadnya yang akan memasuki kelas 12 IPS 3.
Chan diam mematung sembari menatap Yedam. Masih tidak percaya apa yang dia lihat dihadapannya kini adalah adiknya yang dibawa oleh sang Ayah. "Yedam kan? Bang Yedam?"
Yedam mengangguk kecil. Air matanya tak bisa dipendam lagi sekarang, Yedam sendiri ga ngerti kenapa. Tapi tubuhnya langsung memeluk Chan. "Kemana aja?"
Yang jelas Yedam rindu.
Chan enggak menjawab dan memilih membalas pelukan adik kandungnya itu. "Dam jangan nangis disini dong, malu."
"Si bangsat."
Yedam yang udah misuh lantas membawa Chan ke ruang musik yang ada di lantai 3 sekolahnya. Kebetulan karena Yedam masih megang kunci ruangannya, Yedam bisa manfaatin ruang musik ini buat obrolan privasi dengan kakaknya.
"Gua ga tau lo di Bandung juga," ucap Chan setelah duduk disamping Yedam. "lo makin tinggi aja."
Yedam cuman terkekeh, dia sibuk nyusutin air matanya yang malah keluar mulu. "Lo yang pendek Kak."
"Udah 9 taun ya, kita beneran ga ketemu," Chan mengelus rambut Yedam dengan lembut, pengen nangis tapi gengsi. "lo banyak berubah, gua sampe ga ngenalin elo."
"Elo aja yang tolol."
"Heh!"
Mendapat sentakan Yedam malah tertawa. Iya bener, mereka emang ga ketemu hampir 9 taun lamanya.
Meskipun orangtua keduanya cerai saat Chan kelas 2 SMP, tapi mereka dipisah sebelum perceraian itu terjadi. Yedam dibawa ayahnya entah kemana sedangkan Chan tetap di Australia bersama sang Ibu yang masih ingin mempertahankan pernikahannya. Panjang ceritanya sampe ujung-ujungnya mereka ketemu di Bandung.
"Mommy apa kabar?" mendengar pertanyaan Yedam Chan hanya bisa menghela napas. "Nikah lagi, sama cowok yang lebih tua dua taun dari gua. Dan gua ga sama Mommy."
"Hah? Maksudnya lo terlantar gitu kak?"
Chan ngangguk, bukan mau ngedrama ya dia emang terlantar gitu aja apalagi setelah Neneknya meninggal. "Ya gitu, apalagi Oma meninggal. Mommy cuman ngechat gua cuman buat nanya duit kurang apa enggak?"
Yedam agak miris melihat keadaan kakanya yang diluar ekspetasinya. Melihat Yedam berwajah sedih gitu Chan cepat-cepat berkata. "Tapi ga sesedih itu kok. Buktinya gua baik-baik aja tanpa Mommy. Lo sendiri gimana? Pasti seneng hidup sama keluarga baru lo."
Yedam nganggukin kepalanya. "Mamah baik banget, Daddy juga berubah semenjak nikah sama Mamah."
Chan tersenyum sampai kedua matanya menghilang. "Syukurlah, gua seneng lo baik-baik aja."
"Iya."
"Tapi jangan bilang sama Daddy kalo lo ketemu gua ya, Dam."
Yedam menyiritkan dahi. "Kenapa? Daddy udah ga separah dulu."
"Gua masih belum pengen ketemu dia, toh kesalahan dia ngehamilin anak orang yang bikin keluarga rusak."
"Kak, ga gitu ..."
"Gua mungkin ga tau apa yang terjadi sebenarnya sama keluarga kita, tapi gua benci Daddy. Coba waktu itu dia ga ngehamilin cewek lain, pasti kita masih bisa serumah. Mommy ga bakal dipukulin sama Daddy."
"Tapi kak, Daddy emang ga pernah cinta sama Mommy—"
"Iya Daddy ga cinta sama Mommy semenjak ketemu Mamah kan? Yaudah sih ya Dam, ga usah ngebela Daddy. Dimata gua Daddy ga akan pernah jadi orang baik."
Yedam memijit kepalanya sekarang, kakaknya dari dulu emang ga berubah. Tetap keras kepala, seperti Mommy. Entah dia harus menjelaskan apa lagi kepadanya agar kesalahpahaman ini tidak berlanjut.
Chan harus membuka matanya, dia ga boleh liat masalah dari satu sisi doang.
"Eh btw lo ga ke Kelas?" tanya Chan mengalihkan pembicaraan.
"Cuman sosialisasi doang, gua yakin ntar gua masuk UI kok, kek elo," balas Yedam sembari menepuk dadanya. "piala gua di gudang cukup lah buat ngebobol kedokteran UI."
"Serah dah," balas Chan. Moodnya membaik karena candaan Yedam tadi, ya pada dasarnya Chan emang manusia yang receh kok.
Yedam menyodorkan ponselnya. "Bagi semua kontak lo, gua ga mau lost kontak lagi sama elo kak."
Chan menerimanya dan memasukan semua kontaknya di akun sosial media Yedam. "Tapi inget, jangan bilang Daddy."
"Iya," balas Yedam, tapi sejujurnya dia ga bisa janji sih. Ayahnya udah lama pengen ketemu Chan, dan ga mungkin dong Yedam nyembunyiin Chan terus?