XXVI - Kepada Keabadian

1821 Kata

Hana berlari dengan paru-paru terbakar. Wanita ini bahkan mulai mengabaikan otot-otot kakinya yang terasa mulai sakit. Pikiran Hana saat ini hanya tertuju pada satu nama; Adira. Ibunya. Beberapa saat lalu perawat mengatakan kalau kondisi Adira tiba-tiba memburuk. Hana yang mendengarnya melalui ponsel merasa kalau semua yang dikatakan oleh perawat tadi merupakan sebuah kebohongan yang menjijikkan. Pasalnya, Hana ingat kemarin ia dan Adira masih banyak tertawa. Hana bahkan ingat kalau ibunya makan dengan lahap. Hana juga bercerita pada Adira kalau kemungkinan operasi sumsum tulang belakang masih bisa dilakukan. Hana memberikan Adira harapan kemarin dan wanita itu menerimanya dengan binar bahagia. Mungkin Ibu bisa sembuh. Mungkin Ibu bisa segera pulang dari sini. Itulah yang terus meneru

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN