Matahari sudah menampakan kembali sinarnya pagi ini bahkan cahayanya sudah memasuki kamar bernuansa abu abu itu melalui celah celah gorden, namun seperinya sang pemilik kamar masih belum ingin beranjak dari kasur empuk miliknya. Mengabaikan suara jam alarm yang sedari tadi berbunyi memecah keheningan diruangan yang masih ditinggali sang pemilik.
Tok!Tok! Tok!
"Sheilaaaaaaaa." Teriakan maut yang berasal dari sang Mama akhirnya muncul saat melihat anak gadisnya masih tertidur dengan nyaman.
"Sheila banguan buruan!" Teriakan kedua yang nampaknya berhasil membuat Sheila terbangun.
"Aduh apasi Mama ini masi pagi Lala mau tidur lagi." Ucap Sheila dengan mata yang baru sedikit terbuka.
"Kamu ga mau sekolah? Sekarang udah jam 06.30." Ujar Andira yang berhasil membuat mata Sheila yang tadinya masih sangat mengantuk membulat seketika, ia baru sadar jika hari ini ia masuk sekolah.
Tanpa mengatakan apapun Sheila langsung melompat dari kasurnya dan berlari ke arah kamar mandi, habislah Sheila akan kembali telat. Setelah selesai dengan acara mandinya dan bersiap untuk berangkat sekolah Sheila langsung turun kebawah untuk sarapan bersama Mama dan Papa nya, jika bertanya tentang Andra Kakak Sheila kebetulan Andra sedang kuliah di Amsterdam yang baru akan pulang jika libur.
Di hari yang sama jam yang sama namun tempat berbeda, pemilik mata elang yang sangat di puja puja oleh kaum wanita sudah rapih dengan segala perlengkapan nya namun orang yang di tunggu tunggu tak juga menampakan batang hidung nya membuatnya mengumpat karena kesal, pasti telat bangun lagi fikirnya.
"Maa Rey pergi sekarang, Assalamualaikum." Pamit Rey setengah berteriak karena sang Mama yang sedang berada di dapur.
Rey mengeluarkan motornya dari garasi dan menuju rumah Sheila yang sebenarnya adalah tetangga rumah nya. Tanpa perlu bermenit menit Rey sudah ada di depan rumah Sheila dan langsung memasuki pekarangan rumah Sheila tanpa ada rasa canggung sedikitpun.
Ting nong ting nong
Sheila yang mendengar suara bel di pencetpun sontak melihat jam berwarna hitam yang melingkar mulus di tangan nya, menunujukan pukul 06.45 yang sontak membuat Sheila menepuk keningnya sendiri.
Tanpa mengatakan apapun pada kedua orang tuanya Sheila langsung menyambar tas yang ia taruh dikursi sebelahnya lalu berlari kearah pintu depan dengan tergesa-gesa.
Membuka pintu utama dengan cepat tak lupa senyuman lebar yang membuat Rey ingin membuang Sheila sekarang juga karena kesal, bagaimana bisa Sheila tersenyum saat mereka hampir telat?
"Jangan sekarang plis kita bisa tambah telat ayo berangkat." Ucap Sheila yang sudah takut melihat wajah datar sahabatnya.
"Maa Sheila berangkat, Assalamualaikum." Pamit Sheila dengan berteriak agar kedua orang tuanya mendengar.
"Waalaikumsalam. Hati hati." Jawab kedua orang tua Sheila dengan berteriak pula.
Bukan hal yang baru bagi mereka melihat anak perempuan satu-satunya itu berteriak saat berpamitan. Sheila selalu telat dan berakhir buru-buru karena takut dimarahi Rey, bukan sekali dua kali mereka memergoki Rey sedang memarahi Sheila sudah sangat sering. Mereka bukan nya tidak perduli namun Sheila memang sangat susah bangun pagi bahkan jam alarm yang diharapkan bisa membantu Sheila ternyata tak terlalu ampuh atau mungkin memang tak ampuh?