Sebuah Imbalan

1304 Kata

Setelah pergulatan itu, keduanya merasa lelah. Arina lelah karena memuaskan diri menyerang Adam, sedangkan Adam lelah karena menahan diri untuk tidak balas menyerang. Bisa dipastikan apa yang bakal terjadi kalau dia membalas serangan Arina. Arina tidak akan bisa berkutik kerena tenaga gadis itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Adam. Kini, mereka berdua terkapar di atas tempat tidur dalam keadaan terlentang. Menghadap langit-langit kamar yang berwarna putih. Nafas mereka ngos-ngosan. "Aduh, capeknya. Kakak capek tidak?" "Sama. Capek juga." "Kakak sih buat gara-gara." "Gara-gara cium bibir kamu? Itu mah so sweet Ari." "Tapi 'kan tanpa izin." "Sudah dong." "Ih, siapa yang kasih izin? Aku tidak." "Allah. Allah yang kasih izin. Papa mama kamu juga sudah kasih izin. Aku di

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN