Adam berdiri dari jongkoknya. "Ya sudah kalau memang itu alasanmu. Kakak bisa menerimanya. Tapi lain kali, jika ingin keluar malam hari, izin kepada kakak dengan alasan yang jujur. Kalau alasannya jujur, mungkin saja kakak bisa menerima dan memperhatikan kamu dari jauh. Lagian Ar, tempat seperti itu agak berbahaya untuk seorang wanita. Di situ banyak orang yang mabuk dan banyak laki-laki yang tidak benar. Seandainya kakak tidak ada di hotel itu tadi, mungkin kamu sudah kehilangan kesucianmu di tangan Pandu." Bruk! Arina langsung memeluk kaki Adam yang berdiri menjulang di depannya. "Jangan katakan itu lagi. Mengingatnya membuatku menjadi orang yang paling bodoh." Adam tersenyum kecil. "Ya sudah. Kakak tidak akan membahasnya lagi. Sekarang kamu pakai baju dulu. Biar kakak yang ambilkan."

