Neina mengerjapkan matanya dan melihat cahaya temaram di kamar mereka. Ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul delapan malam. Matanya melebar seketika dan ia langsung terbangun begitu saja membuat kepalanya seketika langsung pusing. “Aduh,” Neina mengeluh sambil memegang kepalanya. “Pelan-pelan,” gumam suara parau di sebelahnya. Neina langsung melirik suaminya yang ternyata juga tertidur di sebelahnya. “Mas, bukannya sore tadi a-aku masih di mobil? Kenapa Mas nggak bangunin aku?” “Sudah. Tapi, kamu tidurnya terlalu nyenyak.” Farraz memindahkan tangan yang sebelumnya ia peluk Neina kemudian memberi jarak pada wanitanya lalu memilih bersandar di headboard kasur mereka. “Mas nggak tega, Na.” Neina menghela napas pelan lalu menurunkan kakinya hendak ke kamar mandi setelah kepalan

