Duapuluh dua : Hunian Baru

1266 Kata
Satu bungkus gulungan tembakau itu hampir habis dalam waktu semalam. Menyisakan dua batang yang masih menghuni kotak kecil dari kertas yang sarat akan aroma tembakau. Kepulan asap membumbung malam itu, dibiarkan pergi bersama angin yang berembus pelan membeli wajahnya yang tajam. Masih sisa setengah, rokok dalam apitan jari ia pelintir ke dalam asbak hingga padam. Lalu meneguk wine dalam botol hingga tandas. Menciptakan aliran sungai yang menganak pinak di sela-sela bibirnya yang gelap. Segelap jalan yang ia lewati sampai kini. Suryabasa. Sebuah nama yang mestinya memiliki banyak makna positif. Mencerminkan terangnya cahaya matahari yang bersinar hangat saat pagi menyapa. Namun, tak demikian dengan kisah hidup si pemilik nama. Jalannya selalu kelam, tak peduli sebanyak apa pun ia berusaha. Ia hanya akan disuguhi hal-hal menjijikkan, yang kemudian memaksanya melakukan sebuah usaha untuk melindungi diri sendiri. Salah satunya dengan menghabisi nyawa manusia hanya untuk mendapatkan kepuasan. Abas—begitu ia disapa—adalah seseorang lelaki yang amat mencintai rasa sakit. Saking cintanya, ia amat sangat bahagia menciptakan luka pada sesama. Ah, tidak. Abas punya sebutan lain untuk mereka. Makhluk tak berperasa. Iya. Begitu katanya. Hanya karena satu kesalahan kecil ia dibuang begitu saja tanpa mendapatkan imbalan yang semestinya. Maka jangan salahkan Abas, jika ia melakukan sendiri hal-hal yang akan membuatnya merasa lebih baik dan lega. Sebab, ia juga hanyalah seseorang yang sedang mencoba bertahan untuk hidup. Bukankah begitu? Karena itu pula sekarang ia bisa duduk di balkon apartemen mewah, sambil menggemggam botol wine mahal bahkan mencicipi rasanya. Pria itu menoleh ke belakang dengan sebuah senyum miring yang mengerikan. Mendapati ruangan yang berantakan serta seorang pria yang terkapar di lantai bersimbah darah. "Kau sudah membayar hutang kecilmu hari ini," desisnya. ~A k s a m a~ Di sebuah sofa berwarna hitam, tepat di ruang tamu apartemen milik Bara. Andaru duduk di sana menatap sekeliling ruangan asing yang sejak lima menit lalu ia tinggal. Apartemen bernuansa klasik itu dipenuhi dengan miniatur alat musik dari kayu. Beberapa koleksi buku yang tersusun apik pada almari khusus yang berada tak jauh disana juga mempercantik tatanan rumah yang sangat mewah. Menurut gadis itu. Ia kembali menoleh ke kanan, mendapati sebuah dapur lengkap dengan kitchen set yang rapi dan menawan. Saat ia hendak berbalik menegakkan tubuh ke depan, Andaru merasakan punggung serta lehernya sakit. Gadis itu masih ngeri membayangkan kejadian yang ia alami pagi tadi. Belum sepenuhnya ia sembuh setelah kematian kucing hitamnya yang mengenaskan, secara mendadak ia telah diserang oleh lelaki kurus tak dikenal yang masuk secara paksa melewati jendela kamarnya. Andaru menggelengkan kepala guna mengusir semua kejadian mengerikan di rumahnya pagi tadi. Bara dan Pram masih sibuk di bawah mengambil barang-barang mereka untuk di letakkan di sini. Kebetulan yang sangat bagus, anak mama macam Bara memiliki apartemen mewah yang tak pernah dihuni. Yang akhirnya, kini berguna untuk mereka bertiga. Bara menekan kode keamanan diikuti Pram yang membawa kardus kecil serta sebuah koper yang ia seret. "Wah, kau sudah menjadi keturunan Sultan, tapi selama ini kau selalu minta traktiran?" gumam Pram tak percaya. Bara mendecih malas. Ia mempersilahkan Pram untuk masuk lalu kembali menutup pintu dan berganti dengan sandal rumah. "Nye-nye-nye-nye!" balas Bara mengikuti nada bicara Pram yang terdengar menyebalkan di telinganya. "Kau 'kan hanya membayar untuk sepotong roti, kenapa cerewet sekali?" Tak ada balasan dari Pram. Selain menurutnya ucapan Bara tak penting, ia masih khawatir dengan sosok gadis yang duduk di ruang tamu. Meski gadis itu kini menyambutnya dengan senyum hangat, tetapi jelas Andaru masih menyimpan ketakutan itu dan menelannya bulat-bulat. Gadis itu tak ingin menjadi beban untuk Pram. Diletakkan kardus berisi barang-barangnya di dekat soda. Lantas ia menghampiri Andaru yang bergeming di sana. Bara memutar bola mata malas melewati kedua insan itu dan menuju ke dapur untuk mencari sesuatu di dalam kulkas. Apa pun yang bisa digunakan untuk mengganjal perut kelaparan mereka. "Kalian ingin sarapan apa?" tanya Bara menginterupsi kegiatan Pram yang sibuk mengobati luka lebam di bibir Andaru. "Dua cangkir kopi dan roti tawar saja sudah cukup." Pram membalas tanpa menatap Bara. Pria itu fokus pada luka yang sedari tadi mengganggu pikiran. Sementara Bara dengan semangat mengenakan celemek dan membuka kulkas dua pintu yang besarnya setara dengan lemari pakaian Andaru. Tidak, bahkan lemari Andaru tak sebesar itu. Dan ... boo! Hanya ada beberapa mie instan, sosis beku dan beberapa sayuran yang mulai mengering. Bara menggaruk tengkuknya, menatap kedua insan yang acuh padanya. Pria itu mengulum bibir sambil meraih tiga bungkus mie instan juga sosis beku dari dalam sana. Bara segera menutup kulkas dan menyalakan kompor untuk membuat sarapan instan tersebut. Ia sesekali memikirkan pelaku pagi tadi yang menantangnya untuk bersipandang. Sepasang mata tajam itu seperti tak asing bagi Bara. Sepertinya, ia pernah melihat lelaki itu, tetapi di mana? Bara mengembuskan napasnya kasar. Ia sungguh tak menyangka semuanya akan menjadi rumit seperti ini. Sambil menunggu air mendidih, Bara mengeluarkan notes kecil dan sebuah pulpen yang terselip di sana. Pria itu membuka tutup pulpen dengan cara menggigitnya dengan elegan. Seperti adegan yang kerap terjadi dalam film-film romansa. 'Wayan Wijaya.' 'Pembunuhan berantai.' 'Teror.' 'Berkas rahasia di kantor Wayan Wijaya.' 'Pelaku bermata tajam.' Ingatan pria itu menajam, berusaha mengingat siapa nama pelaku pembunuhan yang sempat kabur dari tahanan. Akan tetapi, air dalam panci itu mulai mendidih dan mengalihkan perhatian Bara. Ia letakkan catatan dan pulpennya di dapur yang masih bersih karena tak pernah dijamah itu, dan segera memasukkan mie instan ke dalam air mendidih. "Sedikit lagi, sedikit lagi semuanya pasti terungkap." Tak lama setelah itu, Bara membawa mie yang sengaja ia racik di dalam panci kecil ke meja makan yang tak jauh dari sana. Ia meletakkan masakannya dengan bangga bak seorang juru masak ternama. Dengan cepat Bara menuangkan air putih hangat ke dalam tiga gelas serta menatanya di sana. "Hei, kalian berdua. Berhenti melakukan adegan romantis di sana. Cepat kemari," seru Bara sudah lebih dulu duduk di kursinya. Tak ada sahutan dari Pram juga Andaru. Keduanya masih sama-sama diam. Yang satu sibuk mengobati luka, satunya lagi sibuk menenangkan jantung yang bermain kendang. "Ini sangat mengganggu," gumam pria itu mengoleskan salep luka hanya dengan jarak sepuluh senti di depan Andaru. Merasa diabaikan, Bara mengambil mie dalam panci dengan garbu untuknya ke sebuah mangkok kecil. Uap panas menguar dari sana membawakan aroma nikmat khas mie instan yang membuat cacing dalam perutnya semakin berteriak hebat sambil membakar ban. Masa bodoh dengan kedua manusia yang sedari tadi sibuk bersipandang tanpa sepatah kata. Sluuurp .... "Ah, ini sungguh enak sekali." Bara berseru semangat sambil menggebrak meja sebagai ekspresi hiperbolis yang ia tunjukkan. Tak ayal hal itu membuat Pram dan Andaru mengalihkan atensi pada pria berwajah imut di sana. Yang masih mengenakan pakaian semalam dengan rambut yang acak-acakan. Tak masalah, kata Bara. Sebab ia mempunya uang. Jadi, penampilan bukan perihal yang begitu penting. Katanya. "Bukannya tadi aku bilang ingin kopi dan roti? Kenapa jadi mie instan?" protes Pram mendekati meja makan. Ia berjalan di belakang Andaru. Dan tentu saja Bara menyambut gadis itu, supaya ia terbiasa di sini nantinya. Pria itu bahkan mengambil beberapa sendok mie ke dalam mengkuk untuk Andaru. "Tidak usah berisik. Makan saja apa yang sudah aku siapkan." "Kenapa makin hari kau makin menyebalkan saja, sih? Mentang-mentang masih hidup," balas Pram menyambar sebuah sendok yang sudah disiapkan oleh Bara. "Kau, makan yang banyak. Jangan hiraukan dia, ya." Bara justru memperingati Andaru dengan guyonan tersebut. Menciptakan kurva simetris yang cantik pada segaris bibir pucat milik Andaru. Ia bersyukur, setidaknya memiliki Pram dan Bara yang selalu membuatnya tertawa dengan pertengkaran kecil mereka. Karena itu, ia tak boleh terjatuh terlalu lama. Andaru harus segera bangkit lagi dan menelan semua rasa sakitnya untuk memulai penyelidikan baru. ~A k s a m a ~ Bersambung!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN