Bab 4

1172 Kata
~Runtuh sebuah kepercayaan di telan rasa kecewa~ Setelah sholat subuh ternyata anak Adi sudah rewel mencari sang ayahnya. Jihan dengan cepat menggendong mendiam anak Adi bernama Lili Putri Lestari. "Kenapa sayang.. Cup.. Cup.. Sini Ammah Jihan gendong." Lili masih saja menangis di gendongan Jihan. Alif saat itu baru selesai sholat, ia tersenyum memandang Jihan begitu telaten menggendong anak berusia satu setengah tahun itu. Alif melipat sarung yang baru ia kenakan untuk sholat. Dia mendekat menghampiri Jihan. "Dia mau minum s**u mungkin, sayang." Mawar berbalik mendengar ucapan Alif. Ia bergegas ingin membuat s**u untuk Lili. "Kamu keberatan gak aku minta tolong gendong Lili dulu. Aku mau buat s**u untuk Lili." Alif dengan senang hati langsung meraih Lili dari tangan pelukan Jihan. Seketika Alif membayangkan dirinya dan Jihan menjadi keluarga bahagia, ada sosok anak. Mungkin akan sama repotnya seperti sekarang. "Makasih ya, Mas. Aku dapur dulu, kamu mau teh atau kopi, biar sekalian aku buatin." Ujar Jihan dengan lembut. "Terserah kamu. Apapun yang kamu sediakan pasti aku minum." Jihan langsung bergegas mengambil botol s**u dari tas Lili, lalu pergi menuju dapur. Jihan memanaskan air sambil membaca aturan cara membuat s**u dengan takaran yang baik. Ia pun memasuki s**u bubuk beberapa sendok di sebuah botol. Setelah membuat s**u Jihan kembali ke kamarnya. "Maaf lama ya." Ujar Jihan sambil menggocok botol s**u. Sambil menggendong Lili, Jihan memberi s**u. Sesekali ia menatap Alif yang ternyata menatapnya sangat dalam, tampak sorotan mata kesedihan. "Mas, kamu ngapain lihat aku seperti itu." "Salah ya lihat istri sendiri." Balas Alif menghembuskan napas panjangnya. "Jihan, aku mau minta maaf sama kamu." "Untuk apa, Mas?" Alif tak tau, bagaimana cara yang benar meminta maaf pada Jihan kepadanya, terlintas sedikit pun tidak pernah untuk mengkhianati Jihan, walaupun Jihan belum memberikan keturunan sama sekali. "Soal Mawar. Apa kamu benaran ikhlas?" Jihan terdiam sejenak, wanita itu sendiri sakit hati setiap melihat Mawar harus bermesraan dengan suaminya. Tidak ada istrinya yang bisa ikhlas dengan keadaan seperti ini. Jihan bukan wanita yang berhati suci yang bisa menerima suaminya menikah dengan wanita, yang Jihan coba lakukan hanya sabar dan memaafkan apa yang terjadi. "Aku udah maafin, Mas." Alif penasaran apa yang dirasakan Jihan saat ini, tapi sungguh dia tak sanggup jika itu hanya menyakiti Jihan. "Jihan, bisakah kamu jujur bagaimana perasaanmu sekarang?" Ucap lembut Alif membuat Jihan mengerjapkan matanya sesaat, hatinya sangat hancur menelan kenyataan yang telah terjadi. Jihan meneteskan air mata sambil memeluk erat Lili yang sudah tertidur. Ia meletakan kembali Lili di ranjangnya. "Sudahlah, Mas. Tidak penting lagi perasaanku." Ucap angkuh Jihan menahan rasa sesak di dadanya. Alif semakin hancur melihat air mata Jihan yang sudah membasahi pipi, ia mendekati Jihan lalu mengusap air mata Jihan. "Jangan menangis lagi. Maaf 'kan aku ya." Sesal Alif langsung mendekapkan Jihan kepelukannya. Jihan justru semakin terisak dalam pelukan Alif. "Sakit hati aku, Mas. Aku harus berbagi suamiku. Apa aku tidak cukup? Apa karena aku belum bisa memberikan anak padamu, mas." Akhirnya Jihan jujur setelah ia memedam perasaannya yang hancur. Alif terdiam masih memeluk erat Jihan. Bukan saja Jihan yang sakit hatinya, Alif juga merasa hal yang sama, hatinya tersayat menatap rasa sesal berdecak dalam hati pria itu. Andai dia mampu mengatakan kebenaran, tentu saja akan lebih menyakitkan Jihan jika mengetahui suaminya telah tidur dengan perempuan lain. "Kenapa tidak jawab, Mas." Ucap Jihan lagi membuat Alif tak sanggup mengurai kata dengan baik. "Jihan, dengarin aku ya. Aku lakukan ini bukan karena aku tidak mencintai tapi ada situasi rumit yang membuat aku melakukan ini." Jelas Alif langsung Jihan melepas pelukannya. "Apa maksud, Mas Alif." "Ini udah pagi, umi pasti udah bangun. Enggak enak kalau sampai umi tau kita kayak gini." Ucap Alif mengalihkan topik mereka. Alif belum siap dengan kemarahan Jihan, dia masih memilih bungkam. Sepahit apapun perasaaannya, Alif tahu Jihan lebih terluka. Jihan pun tersadar menghapus air mata, padahal sebenarnya ia masih penasaran dengan kata-kata Alif. Seperti suaminya menyembunyikan rahasia besar yang dia ingin tahu "Kalau gitu aku siapkan sarapan untuk kamu dulu. Kalau kamu mau mandi, itu udah aku siapkan handuknya." Ucap Jihan, lalu melangkah keluar kamar. Alif bingung menatap punggung Jihan dengan perasaannya yang sedih. 'Maaf.' lirih batin Alif. Hanya kata maaf itu yang sanggup Alif untaikan. Jihan melihat Umi Rena yang tengah membuat sarapan, ia langsung menghampiri Umi saat itu juga. "Pagi, Umi. Jihan bantu ya." Ucap Jihan yang mengambil pisau, lalu langsung memotong sayuran di counter kitchen. "Pagi, sayang. Ada Alif ya, umi liat ada mobilnya di luar." Seru Umi Rena pada Jihan. "Iya, mi. Ada Mas Alif, lagi mandi sekarang." "Suamimu nggak ke kantor." "Nggak tau juga, mi. Mungkin agak siangan." Setelah selesai memotong memasak, Jihan membuatkan secangkir kopi untuk Alif. Tak lama kemudian pun Alif keluar kamarnya. "Selamat pagi, Mi." Sapa Alif pada umi Rena yang menata makanan di meja makan. Umi Rena tersenyum Alif. Umi Rena memang sangat menyayangi Alif. Karena dia tau Alif suami bertanggung jawab dan sangat mencintai putrinya. Lebih-lebih Alif ini sahabat putranya Beno. "Pagi, Lif. Mari sarapan, sebentar lagi pasti Abi keluar." Ucap lembut umi Rena. Alif menarik kursi duduk di hadapan meja makan, ia memperhatikan Jihan yang telaten setiap pekerjaan yang ia kerjakan. "Iya, mi. Beno gak kesini, mi." Tanya Alif. "Biasanya jam segini dia udah datang ngantar Riska kemari. Paling sebentar lagi juga datang." Beno saudara dari Jihan memang kerap menitipkan putrinya pada Rena. Karena Beno dan istrinya bekerja selama ini, Riska putri mereka di jaga umi Rena. Sesaat dari itu pun terdengar suara klakson mobil, umi Rena antusias keluar pintu menyambut cucunya. Kadang melihat umi Rena bersikap seperti itu, membuat Jihan iri pada Beno yang sudah memiliki anak, sedangkan dirinya belum juga di berikan keturunan. Jihan ingin sekali, memiliki keturunan seperti wanita lainnya yang ingin bahagian dengan runah tangga memiliki sosok mungil. "Itu pasti Beno datang, sebentar ya umi ke depan dulu." Seru Rena yang hendak menyambut Riska cucunya. Alif melihat sedih di raut muka istrinya, pria itu bisa lihat kesedihan terletak diwajah cantik istrinya. Alif bangkit dari duduknya mendekati Jihan. "Allah masih menuntut kita untuk sabar. Jangan sedih ya." Bagaimana tidak sedih, Jihan menganggap karena dirinya belum juga hamil Alif menikah dengan wanita lain lagi. Bentuk kebahagiaan dan rasa percaya diri Jihan seakan telah runtuh, di telan bentuk kekecewaanya. "Mas, tidak tau bagaimana rasa jadi aku. Aku ingin sekali menjadi wanita seutuhnya, menjadi ibu impian semua wanita, tapi aku tidak bisa." Ucap sedih Jihan membuat Alif memeluknya. "Kamu harus tetap sabar ya, aku yakin suatu hari nanti kita memiliki anak yang lucu seperti Riska." Alif mengelus pelan punggung istrinya. "Hmm... Pagi-pagi udah mesra." Terdengar suara meledek dari Beno, kontan membuat keduanya melepaskan pelukan mereka. "Apaan sih, Mas." Ucap Jihan malu mendengar godaan Beno saat itu. Alif terkekeh melihat pipi Jihan yang sudah memerah. "Apa kabar, Ben." Ucap Alif menyapa Beno, sejak sibuk sendiri. Alif maupun Beno sudah jarang sekali bertemu. Paling juga kalau ada acara keluarga. Setelah sarapan Alif buru-buru pergi, karena Mawar menelponnya membuat Alif kesal. Jihan tau pergian suaminya pasti atas permintaan Mawar. Hatinya kembali merasakan pedih, walaupun sudah menjadi pilihannya untuk beberapa hari ini menginap di rumah orang tuanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN