Alvaro berdiri diam di dalam ruang kepala sekolah, kakeknya sudah dalam perjalanan. Di sampingnya duduk lah Calitha dengan orang tuanya yang sedari tadi mengomeli Alvaro. Aneh, bukankah disini Alvaro adalah korban? Kenapa ia yang terlihat salah disini? Alvaro diam menahan kepalanya yang sudah sangat pusing, rahangnya saling menekan dengan keras menahan segala emosi yang ada. Ia sudah tahu bahwa kondisi tubuhnya sedari pagi sudah tidak enak ditambah masalah seperti ini, hanya membebani tubuhnya dan ini membuat emosinya yang susah stabil menjadi meluap. Ah, ia bahkan hampir menangis dan begemetar tadi. Sial. Pintu ruang kepala sekolah diketuk selama beberapa kali, disana berdiri lah kakek beserta neneknya disana. Alvaro menoleh, tidak berbicara. Neneknya menghampirinya dengan wajah khawati

