Melihat Maya memergoki mereka sedang berduaan dengan langkah cepat Damar langsung berkilah, memberi alasan yang tak masuk akal dan membuat Lila merasa lucu dengan tingkah pacar kakaknya.
"Dasar....!, apa semua lelaki pandai berpura-pura seperti dia.
Melihat kelakuan Damar jujur Lila sedikit ilfil. Lila tak menyangka pria jujur dan setia seperti Damar akan berbuat seperti itu, sebenarnya Lila sangat kecewa dengan sikapnya yang tak gentle sama sekali.
"Huft....kalian pulang lah duluan, aku bisa pulang sendiri, lagian aku juga tak mau jadi obat nyamuk sepanjang perjalanan pulang dengan kalian," cetus Lila dan meninggalkan kedua pasangan itu.
Melihat Lila pergi, Damar sedikit kecewa meski perasaan itu tak ia tampakkan dihadapan Maya.
"Okey...aku ambil tas dulu. Kamu tunggu di mobil," ucap Damar sambil menyerahkan kunci mobilnya pada Maya dan berlalu meninggalkan Maya menuju ruangan kantor.
Diperjalanan menuju ruangan kantor Damar dengan sengaja mengambil jalan yang melalui kelas Lila, ia berharap bisa berpapasan dengan gadis itu, entah apa yang ada dibenaknya sekarang, tapi Damar semakin tak sanggup mengontrol hatinya untuk terus berdekatan dengan gadis itu.
Sungguh tak disangka apa yang diharapkan Damar ternyata tak sesuai dengan ekspektasinya, ia justru bertemu dengan Lila dan tampak sedang asyik mengobrol dengan salah seorang mahasiswa di kampus itu dan ia pun cukup mengenalnya.
Ya, dia adalah Rafa, seorang mahasiswa berprestasi, salah satu atlet dicabang olah raga taekwondo, meski ia mengambil jurusan bisnis.
Lila Kamu pulang sekarang....!" tegas Damar pada Lila dengan wajah cukup serius.
"Bapak tenang saja, aku dengan senang hati mengantar Lila pulang, kebetulan saya searah dengan Lila," jawab Rafa dengan gentle pada Damar yang menunjukkan wajah poker pada mereka.
Lila sangat paham dengan situasi yang terjadi padanya sekarang, namun ia sudah memutuskan untuk menjaga jarak satu sama lain, tapi entah kenapa dengan Damar ia terlihat kesulitan dengan kesepakatan mereka.
Damar tak menjawab apapun lagi dan berjalan meninggalkan mereka. " Dia kenapa?" tanya Rafa terlihat bingung melihat Damar sedikit protektif pada Lila.
"Aku yakin Bu' Maya pasti tertekan bersama dirinya, ia terlalu over," lanjut Rafa masih kesal dengan sikap Pak Damar.
"Udah jangan dibahas lagi. Kamu jadi kan pulang bareng?" tanya Lila memastikan kembali dengan ucapan Rafa sebelumnya.
"Yuk...!, motorku di parki di samping kampus, aku tadi buru-buru jadi gak sempat menaruh di tempat parkiran.
Rafa dan Lila berjalan menuju samping kampus yang tak jauh dari lokasi mereka sekarang.
"Gila, kamu parkir disini?, ini area terlarang kali," ujar Lila memperingatkan Rafa.
"Kan bentar doank, lagian juga udah sore, pak dekan udah pulang jadi gak liat."
"Hahaha....lalu bagaimana dengan orang di sebrang sana," ucap Lila sambil menunjuk kak Damar dan Kak Maya yang sedang melototi mereka.
"Cik....pak Damar, belum juga jadi kakak ipar kamu udah over protektif sama kamu," cetus Rafa.
"Yuk, cepatan naik," lanjutnya dengan nada sedikit membentak Lila.
Lila dengan gerakan kilat langsung loncat diatas motor Rafa dan mereka langsung kabur mengamankan diri dari tatapan maut kedua pasangan tersebut.
"Hahaha....kak Rafa, kamu gila. Kamu baiknya siap-siap sampai di rumah pasti diceramahin abis-abisan sama kak Maya," teriak Lila pada Rafa yang melajukan motornya dengan cepat menghindari mobil pak Damar yang melaju tepat dibelakang mereka.
"Dasar, anak kurang ajar. Bikin salah dan sekarang melarikan diri," geram Damar melihat Rafa yang ugal-ugalan menghindari mobil yang sedang ia kendarai.
"Udah, biarin aja. Lagian tau sendiri Lila gadis seperti apa, wajar saja jika teman-temannya juga seperti itu, yang jelas dia masih bisa jaga diri," sahut Maya tak ingin memperkeruh keadaan.
Damar mengumpat dalam hati, hari ini pasti ia akan menemui Rafa dan memperingatkan dirinya dengan sikapnya.
Rafa dan Lila, akhirnya memutuskan untuk berhenti tepat didepan cafe langganan mereka, "mau nongkrong?" tanya Lila.
"Ya, baru juga jam 5 sore. Aku haus gara-gara ngebut dari kejaran pak Damar."
Lila hanya diam saja, ia tak menanggapi ucapan Rafa lagi, Lila tau jika Rafa pasti sedang kesal dengan kak Damar.
Rafa memilih sebuah kursi kosong tepat dekat jendela dan duduk menyandarkan bahu, menghembuskan napas lelahnya, dan mengarahkan pandangan kearah jalan raya, berjaga-jaga jangan sampai pak Damar mengikuti mereka sampai di cafe tersebut.
"Aku sudah pesan, seperti biasa kan?" tanya Lila memastikan."
"Hmmm..." jawab Rafa dengan hanya berdehem saja, masih dengan mood buruk.
Lila mengambil posisi duduk di depan Rafa dan memperhatikan wajah kesal ketua BEM dikampusnya itu. "Menjadi penanggung jawab mahasiswa tertinggi dikampus, masa hal sekecil ini bisa membuat kamu kesal?" ucap Lila sekenanya.
Rafa mengalihkan pandangan dan menatap wajah gadis yang berusan sedikit menyinggung dirinya. "Salah?"
"Gak, cuma heran aja. Kesal kamu kayaknya akut, deh!"
"Ia lebih tepatnya cemburu," jawab Rafa masih kesal.
"Cemburu gimana?, jelas ia pacaran dengan kak Maya bukan aku."
"Entahlah," jawab Rafa tak paham sama sekali.
Sementara Lila, makin takut dengan ucapan yang berusan Rafa ungkapkan. Hari ini seorang Rafa saja yang terkenal cuek dan dingin dapat melihat dengan jelas sikap kak Damar, entah gimana dengan esok harinya jika kak Damar semakin memperlihatkan perhatian lebih padanya.
"Mikirin apa?" tanya Rafa dengan tatapan penuh selidik pada Lila.
"Aku sedang memikirkan ucapan kamu barusan."
"Jangan Gr, gak mungkin pak damar suka gadis seperti mu, gak ada anggun sama sekali, dibandingkan dengan Bu Maya kamu mah, jauh...!" ungkap Rafa meledek Lila.
"Cik....aku sumpahin kamu jatuh cinta dengan gadis seperti ku," cetus Lila kesal dengan ucapan Rafa.
"Hey....kalau jengkel jangan sembarang ngutuk orang."
"Hahaha....biar tau rasa," balas Lila kembali.
"Bagaimana jika aku memang jatuh cinta dengan gadis yang dihadapan aku sekarang tanpa kamu kutuk sekalipun?" tanya Rafa asal pada Lila.
Lila tak menanggapi, ia hanya menajamkan tatapan pada Rafa sekarang, ia tak habis pikir dengan ucapan asal yang terlontar dari mulut pria dihadapannya.
Lila akui Rafa memang perhatian padanya tapi menurut Lila itu karena dia seorang pria yang bertanggung jawab, belum lagi Rafa terkenal sebagai pria pujaan para gadis dikampus.
"Sekarang kamu mikirin apalagi?" tanya Rafa dengan memainkan alis pada Lila.
"Lagi mikir, ternyata do'a orang terdzolimi itu langsung terkabul, hahaha....," jawab Lila semakin asal dengan tawa ledeknya pada Rafa.
Kini giliran Rafa yang meledek balik Lila, "Okey mulai sekarang, karena kamu berani meledek aku maka kamu harus jadi pacar aku, dan gak boleh ada pria mana pun yang kamu lirik mulai detik ini."
"Emang sejak kapan aku melirik cowok kayak gadis malam?"
"Siapa juga yang bilang kamu gadis malam...!,"
"Huh....!" kesal Lila.
"Tapi yang jelas kamu gadis ku mulai saat ini, dan kamu akan aku rekrut menjadi sekretaris pribadi ku dan kamu tak boleh nolak," tegas Rafa pada Lila yang masih terlihat kesal padanya.
Lila tak menanggapi yang barusan Rafa ucapkan, masalah dirinya dengan kak Damar saja belum ada titik cerahnya, sekarang Rafa muncul dengan membawa masalah baru padanya.
Rafa yang semakin iseng pada Lila kini berpindah tempat duduk disebelah Lila, membuat Lila menggindikan bahu padanya ketika lengan kekar Rafa menyentuh bahu mungilnya dan mendekatkan wajah disampingnya.
"Rafa....!" terdengar suara maskulin dari arah belakang mereka.
Lila dan Rafa sontak menoleh kebelakang dan mereka kembali dikejutkan oleh sosok pria dengan tatapan seakan menerkam Rafa dalam sekejap.
Bersambung.....