Tak terasa, empat belas hari sudah Danisa kembali berkantor di Jakarta. Menyusuri jalanan penuh sesak sepanjang Bintaro - Pondok Pinang, setiap pagi dan petang. Sebelum berangkat kerja, ia selalu menyempatkan diri mengantar Atalla hingga ke gerbang sekolah, menyapa guru juga orang tua murid yang tiba bersamaan. Rutinitas yang dulu dilakukan setiap hari tanpa jeda. "Waa ... Senangnya Atalla! Mamanya sudah dinas di Jakarta lagi, ya? Nggak ke luar kota lagi, kan?" Danisa menoleh, Mbak Rieka tepat berada di belakangnya. Ibunya Marsha, teman sekelas Atalla, berperan sebagai ketua korlas, yang biasanya selalu bersedia direpoti Danisa asal mendapat bayaran sekotak pie s**u Enak. "Hay, Mommy Marsha! Apa kabar?" Danisa mendekati rekan sesama wali murid. Menempelkan pipi kanan dan kirinya. "Bai

