Ahmad Firmansyah menaikkan pandangan matanya, tanpa mangangkat kepala. Jurnal ilmiah setebal lima ratus halaman dalam posisi terbuka di atas meja kerja. Perempuan yang telah dinikahinya tiga puluh lima tahun silam tiba-tiba masuk, menghempaskan tubuhnya di sofa. Melempar tas tangan yang tidak pernah bisa dimengerti olehnya kenapa dibandrol seharga kendaraan bermotor. "Gimana, Mi, jadi mampir Bintaro?" Bertanya sambil lalu, Papi Ahmad kembali menekuni bacaan 'ringan' di akhir minggu. Hobi sejak puluhan tahun silam, membaca. Dari mulai jurnal ilmiah untuk memperkaya wawasan hingga novel silat tua karya Kho Ping Hoo memenuhi isi perpustakaan pribadinya. "Jadi!" jawab Mami Layla ketus. Papi Ahmad membalik halaman jurnal, sekaligus mengambil kesempatan untuk mendongak. Telinganya memberi i

