The Silence Between Us

1228 Kata

"Jadi begini rasanya nyepi? Beneran sepi banget, ya?" Pertanyaan retoris meluncur santai tanpa beban dari bibirnya. Seakan tidak peduli pada sekitar, Danisa meniup teh melati di ujung bibir cangkir. Membawa aroma yang dihirupnya masuk hingga ke bagian terdalam di kepalanya. Menyebar hangat juga ketenangan di sana. Erik duduk di sisinya mengangguk, menikmati kopi yang baru dibuat Danisa. Hanya kopi instan biasa, tapi entah kenapa, pagi itu rasa kopinya berpuluh kali lipat lebih enak daripada yang biasa dibuat Pak Karni atau Iman di kantor. Cinta memang bumbu penyedap paling yahud sejagat raya. Bucin, Rik? Jelas! Sayangnya yang dibucinin nggak paham-paham. Bukan nggak paham, tapi membangun tembok kokoh terbuat dari dalih dan penyangkalan. Lalu bersembunyi di baliknya. "Kamu gini hari

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN