Bau wangi nasi goreng menguar sempurna sepenjuru ruangan mengundang Rahmat datang ke dapur guna mendapatkan porsi kenikmatan dari sana, melihat kakak nya disana membuat senyum luntur. Lelaki berambut gondrong itu biasa nya hanya memasak satu porsi saja, enggan berbagi dan malas untuk masak lebih, ditambah fakta bahwa jika lelaki itu sedang makan maka tiba-tiba saja menjadi lelaki super galak.
“Long, masak lebih dong.” Pinta nya merengek sambil berdiri di samping ricecooker, menikmati pemandangan Ikram yang sedang mengaduk nasi goreng nya itu. Walau sudah tahu ditolak, tapi Rahamd tetap akan mencoba negosiasi.
“Gausah manja lo.” Cibir Ikram sinis lalu mematikan kompor dan langsung menyajikan nya dalam piring.
“Yah yah, tega benar dah sama gue.” Cerosos Rahmat kesal, terpaksa dirinya juga ikut membuat nasi goreng lagi. “DEEK ! LO MAU NASGOR KAGAK NIH ?” tanya Rahmda sambil berteriak keras memanggil adik bungsunya, Akbar sedang menggambar di ruang multimedia rumah nya.
“MAU”
“MAU !”
Suara sahutan dari pertanyaan Rahmat menjadi dua, Akbar dan Cindy datang ke dapur bersamaan sambil tolak-tolakan.
“Buat Cindy aja Ngah !” sela Cindy dengan semangat. Mereka berdua semakin panik saat melihat nasi di baskom ricecooker tinggal separuh, yang mungkin hanya mampu menampung untuk dua orang.
“Nggak ! Tadi Angah tawarin buat gue, bukan buat elo.” Ujar Akbar sambil melotot ke Cindy dan menyikut gadis itu segera enyah dari dapur.
“Nggak ! Buat gue pokok nya!”
“Gue lah.” Balasa Akbar sengit.
“Gue.”
“Nggak, lo mesan aja sono !”
Cindy dan Akbar terus bertengkar dengan adegan saling tarik menarik agar sang rival tidak sampai ke dapur duluan.
PLETAK !!!
Ikram melempar remot tv kearah Akbar dan melebarkan mata nya dengan sadis.
“Akbar emang nggak bisa ngalah ya sama Cindy !” desis Ikram tajam.
“Tapi Akbar kan lapar juga, Long !” bela nya.
“Cindy sini, makan sama Abang aja.”
JEDDERR !!! Rahmat, Cindy dan Akbar langsung menoleh kearah Ikram secara bersamaan. Tidak percaya Ikram melakukan itu.
Baru sekali dalam sejarah, Ikram mau berbagi makanan nya, apalagi nasi goreng spesial hasil olahan tangan nya.
“Yah curang.” Desah Akbar tak rela saat Cindy sudah bergerak menuju tempat duduk di samping Ikram di sofa. Cindy memeletkan lidah nya kearah Akbar dan sukses membuat lelaki itu kesal setengah mati.
Ikram menyuapi Cindy nasi goreng buatan nya dengan tenang, mereka berdua makan sepiring dan sesendok berdua. Tak ada percakapan selama mereka makan hingga akhirnya Ikram bertanya pada Cindy, “Fahri jadi ke Makassar ?”
“Jadi, udah berangkat tadi pas Cindy mandi, langsung dari kantor nya.” Ikram menganggukkan kepala nya pelan.
“Bang Am !”
“Hmmm….”
“Cindy dipaksa mamih Kayana buat nikah sama Abang.” Ujar pelan sambil menunduk. Mereka memang dekat tapi untuk membahas masalah sensitif seperti ini rasa nya canggung.
Hell no, bahkan Cindy adalah tetangga Ikram dari masih ingusan hingga hari ini. Belum lagi, saat Cindy masuk sekolah dasar, lelaki itu bahkan sudah duduk di bangku SMA. Rasa nya Cindy menikah dengan om-om dan Ikram menikah dengan anak TK. Astaga, Cindy tidak bisa lagi berpikir.
“Boleh, hayu lah.” Jawab Ikram super lempeng.
“Isshhh, Cindy nggak mau !”
“Yaudah nggak usah kalo gitu.” Ikram memasukkan sesuap nasi goreng lagi ke mulut Cindy tanpa memperdulikan tatapan horror gadis itu pada nya.
“Tapi mamih maksa, Bang !” ujar Cindy merengek.
“Kalau kamu nya hayu, abang juga hayu !” jawab Ikram polos. Rahmat dan Akbar tertawa lebar hingga memegang perutnya mendengar jawaban cuek dari Ikram. Mereka berpikir pasti kakak lelaki nya itu sedikit gila, bagaimana bisa Ia menjawab seenteng itu tentang sebuah pernikahan.
“Along nggak ada otaknya !” ujar Rahmat mencibir Ikram sambil tergelak.
“Auk ah, abang nyebelin.” Ujar nya bangkit dari sofa dan bergerak menuju ke rumahnya.
“Cieee yang ngerajuk sama calon suami.” Ledek Akbar pada Cindy lalu tertawa lebar bersama Rahmat.
[****]
Pagi nya di halaman rumah keluarga Hamis.
“Abang suka ya sama Cindy ?” tanya Akbar sambil menyabuni motor nya di halaman rumah bersama Ikram yang sedang mencuci mobil di sebelahnya. Padahal, Ikram punya beberapa doorsmeer yang siap sedia membilas mobilnya dengan telaten dan tentu saja gratis, tetapi memang dasar Ikram yang suka mencari keringat dengan hal-hal berguna seperti itu.
Sikap manis Ikram tadi saat mereka makan bersama membuat Akbar bertanya-tanya dalam hati.
“Suka lah.” Jawab Ikram sekenanya. Akbar tersendak ludah nya sendiri mendengar jawaban Ikram.
“Suka sebagai cewek ?” tanya Akbar lagi mencoba memastikan.
“Suka sebagai adik perempuan lah, Bar !” Jawaban Ikram membuat Akbar mendesah kasar, dasar kakak nya itu. Kalau masalah cewek memang selalu payah, padahal anak tetangga nya itu sudah Ia katakan sebagai calon istri nya, tapi ah sudahlah, Ikram menyebalkan.
“Kalau disuruh milih nih ya, Syarifah atau Cindy ?” tanya Akbar mulai merecoki Ikram.
“Milih apa nih ?”
“Calon bini lah ah !” sunggut Akbar.
“Nggak milih dua-dua nya lah.”
“Kenapa ?”
“Gue nggak suka Syarifah dan Cindy itu adik gue.”
“Along mah payah !” cibir Akbar. Lelaki 23 tahun itu mendorong motor matic nya ke garasi dan meninggalkan Ikram yang masih berkutat dengan mobilnya.
Ikram memang punya otak lempeng, Ia tidak suka banyak berpikir jika bukan tentang bisnis bengkel dan doorsmeer nya, apa lagi masalah wanita. Ikram benar-benar angkat tangan.
Dalam relung hati nya paling dalam, terbesit keinginan nya untuk berumah tangga sebenarnya, apalagi setelah saat kemarin Gino membawa bayi nya bertemu dengan nya di tempat tongkrongan, sungguh Ia iri dan berkeinginan mempunyai bayi lucu seperti itu dan tentu nya memiliki seorang istri yang bisa mengurus nya juga, yang bisa membuat hari-hari lempeng nya berwarna. Tapi, Ia juga malas menikah. Gimana, pengen sih tapi mager.
Cindy datang dari pintu penghubung rumah nya dan rumah Ikram dan langsung menerjang lelaki itu dengan sebuah semburan.
“Ini semua salah Abang !” semburnya begitu sampai di depan Ikram.
“Salah apa lagi, Adek kecil ?” tanya Ikram jengah.
“Abang bilang kalo Cindy calon istri nya abang. Mamah maksa Cindy nikah sama abang, maksa pake banget.”
“Kalau kamu emang nggak mau, nggak usah di pikirin, Cin.” Jawab Ikram tenang. Ikram dengan lempengnya malah terus mencuci mobil nya, mengabaikan gadis muda itu yang kini sudah mencak-mecak jelas pada nya.
“Tapii mama ngedesak Cindy buat nikah sama Bang Am.”
“Yasudah, kalau gitu kita nikah aja, gampang kan.” Ikram membalas dengan cuek. Ia sebenarnya juga malas menanggapi masalah seperti ini, rasa nya kemarin Ia sudah menegaskan pada kedua keluarga tersebut bahwa kemarin hanya kecelakaan saja, tidak bisa di bawa serius, lagian Cindy juga tidak mau.
Sebenarnya, kalau Ikram harus menikah dengan Cindy, mau-mau saja sih. Lagian mereka sudah kenal dari orok. Tapi rasa nya aneh kalau Cindy yang telah di anggap sebagai adik perempuan nya sendiri menjadi istri nya. Geli-geli gimana gitu.
“Aku nggak mau nikah sama om-om tua kayak bang Am.”
“WHAAAT ? Iiish apaan ?! ” kejut Ikram mendengar tudingan Cindy, bagian ‘om-om’ itu paling nyelekit.
“Nggak usah bawa-bawa umur.” Balas Ikram judes. Cindy mendengar nada tak bersahabat dari kakak tertua jadi sedikit ragu ingin mengajukan argument lagi.
“Dengar ya, Cin.” Ikram memeras keras kenebo nya untuk melampiaskan rasa kesalnya. “Kemarin itu murni karena aku mau nolongin kamu.” Ujarnya.
“Nggak ada niatan sedikitpun buat aku untuk jadikan adik perempuan aku sendiri jadi istri aku. Nggak !” sambungnya. “Besok-besok berarti aku nggak perlu nolongin kamu lagi kalo akhirnya aku yang salah.”
“Kok Bang Am jadi marah sama aku ?” gerutu Cindy sambil tertunduk.
“Lalu sama siapa Bang Am ngamuk kalo bukan sama kamu ?” tanya Ikram nyolot. “Gini deh, kalo kita jodoh, Bang Am bakal terima kamu sepenuhnya dalam hidup Bang Am, sepenuh nya istri Abang.”
“Nggak mau, ih !” sela Cindy cepat.
“Dengar dulu.” Geram Ikram tertahan. “Kalo ternyata kita emang selama nya jadi adik abang gini, yaudah emang gitu keinginan nya. Dan lagi ya,” Ikram mengantung kalimatnya sambil menuangkan pelicin body mobil. “Pernikahan hanya akan terjadi kalau kamu sendiri yang bilang mau menikah sama abang.”
“Sampai disini paham ?”
“Iya.”
[***]
Rahmat baru saja selesai nyetrika saat Cindy sampai di kamar nya.
“Kenapa tuh muka ?”
“Abis adu urat sama bang Am.” Balas Cindy jutek. Rahmat tertawa girang mendengar nya.
“Gimana gimana nih jadi nya ? Kapan nikah nya kalian ?” Goda Rahmat pada Cindy dengan semangat, bahkan Ia menempatkan b****g nya disamping posisi Cindy duduk.
“Issshhh….nyebelin.” teriak Cindy kesal.
“Hahaha, bukan apa ya, Cin. Along itu lelaki original yang tak sentuh. Budi pekertinya mah nilai 100 mah, ibadahnya mah, eeuuhh….lewat noh si Dayat-dayat itu.”
“Nggak usah di bahas ih.” Cindy menimpuk Rahmat dengan bantal.
“Iya deh ah nih anak, oyong kepala gue.”
Rahmat beranjak menuju koper nya dan memasukkan baju yang baru ia setrika.
“Lah, Angah mau kemana ?”
“Hong Kong. Ada kerjaan.”
“A-APAA ?” teriak Cindy tak percaya. “Cindy cuti loh, Ngah. Ini mau kesini mau ajak Angah nge-trip.”
“Duh, sayang ku.” Rahmat memasang wajah melas tak tega. “Lain kali ya Cin, gue mau kerja dulu dua minggu disana, baru dah balik sini. Serah deh entar mau kemana.”
“Nggak butuh lagi, orang cuti udah habis nanti.” Rajuk Cindy.
“Ajak Akbar deh.”
“Ada apa nih ribut-ribut ?” tanya Akbar tiba saja muncul sata namanya disebut. Ia merebahkan badan disamping Cindy.
“Nih, si bocah mau ngajakin trip.”
“WHOOP…” Celetuk Akbar heboh sambil menggelengkan kepala nya. “Maap nih neng, bukan apa ya, gue ada turnamen besok sampe minggu, map benar deh nggak bisa temenin.”
“Lhaaa, terus buat apa dong jatah cutinya !” rengek Cindy sambil meraung sebal.
“Tenang, masih ada satu kandidat lagi.” Kata Akbar sambil tersenyum jahil. Tentu saja bukan Fahri, lelaki itu sedang berada di Makassar, tidak ada yang bisa menolong Cindy kali ini kalau bukan calon suami potensialnya.
“Mas Ikram Setiawan.”
“OGAH.”