Kerusakan 19
.
Akhir-akhir ini, di desa sedang ada gosip yang seru. Seorang pencari kayu bakar mengaku telah melihat sepasang hantu hutan. Kisah mengenai penampakan hantu tersebut sangat heboh, sampai-sampai para murid di sekolah turut membicarakannya ketika jam pelajaran telah selesai.
Cerita dimulai dari seorang lelaki bernama Boby yang merupakan seorang petani, sekaligus pencari kayu. Boby adalah pria pendek yang lincah, umurnya sudah 45 tahun, tapi sampai sekarang belum juga ingin menikah. Katanya, dia lebih suka bekerja, bekerja, dan bekerja. Tidak mau repot-repot memikirkan urusan rumah tangga. Ibunya yang sudah tua bahkan sudah lelah menasehatinya, sekaligus memaksa Boby supaya mau menikah dan hidup dengan lebih bahagia.
Namun, Boby bilang, untuk apa menikah jika hanya demi mencari kebahagiaan, toh sekarang dia sudah bahagia.
Padahal, yang dikhawatirkan ibunya adalah Boby di masa tua nanti. Jika tidak punya istri maupun anak, siapa yang akan mengurusnya ketika sudah renta dan tidak bisa lagi bekerja. Apa mau terus mengandalkan tetangga dan meminta belas kasian orang sekitar? Sayangnya, Boby tidak pernah terpengaruh dengan semua teori dan nasehat yang disemburkan padanya.
Bertubuh kerdil, tidak lebih dari 130 cm, gila kerja, dan tidak mau menikah meskipun sudah mulai menua, membuat Boby sangat terkenal di kalangan warga desa. Bahkan, hampir semua orang di tanah Lunadhia tahu tentangnya.
Selain itu, ia juga terkenal karena bicaranya yang suka blak-blakan dan tidak pernah berbohong. Jika ada orang yang menurutnya cantik, akan ia puji orang itu dengan ucapan yang singkat dan jelas. Begitu pula jika seseorang terlihat buruk di matanya, akan ia katakan yang sesungguhnya tanpa peduli orang itu akan tersinggung maupun tidak.
Meskipun sering membuat orang lain sakit hati, tapi orang-orang pun mempercayainya sepenuh hati. Bagi mereka, Boby yang selalu jujur sangat bisa diandalkan untuk memberi informasi.
Hal tersebut juga yang akhirnya membuat orang-orang percaya bahwa memang ada sepasang hantu di hutan Lunadhia. Sebab, cerita tersebut keluar dari mulut Boby yang tidak pernah berkata dusta.
“Aku benar-benar melihatnya. Saat itu, aku sedang mencari kayu bakar di sekitar hutan. Kalian tahu, kan bahwa hutan Lunadhia bagian dalam tidak boleh dimasuki siapa pun? Dari dalam sanalah hantu-hantu itu muncul.”
Di sore yang berwarna jingga, sekali lagi Boby menuturkan pengalaman mistisnya. Ia duduk di sebuah kotak kayu, bekas tempat buah-buahan yang sudah habis terjual di pasar. Di sekitarnya, ada anak-anak kecil dan orang dewasa yang memperhatikan penasaran. Mereka mengelilingi Boby seolah pria pendek itu adalah pencerita ulung dari kota besar. Boby yang bersemangat, semakin merasa jumawa.
“Mungkin ini adalah pengalaman sekali seumur hidup. Aku akan mengingatnya bahkan sampai aku sudah renta dan sekarat.”
Setelah itu, dimulailah lagi kisah tentang Boby dan sepasang hantu hutan.
Boby memulai dengan pembukaan mengenai kesehariannya yang selalu bangun pukul lima. Biasanya ia akan pergi ke ladang jika memang ada tanaman yang harus disiram. Namun, karena kayu bakar di rumahnya menipis, ia pun memutuskan untuk memungut satu sampai dua ikat ranting-ranting maupun kayu yang berceceran di hutan.
Pagi itu memang udara sangat dingin. Lebih dingin daripada hari-hari biasa. Mungkin karena bulan sedang tinggi dan laut sedang pasang, sehingga suasana sekitar pun jadi sedikit berbeda. Boby tidak tahu mana yang benar.
Yang jelas, ketika membuka pintu rumah, suhu udara sudah menusuk-nusuk tulang. Meskipun begitu, Boby tetap memutuskan untuk ke hutan.
Di sekitar hutan, Boby hanya memungut ranting-ranting kering. Namun, suasana sangat hening, sampai-sampai suara jangkrik pun tidak ia dengar. Boby pikir mungkin semua itu hanya perasaan sensitifnya, mungkin memang hewan-hewan sedang lelah dan ingin beristirahat. Boby pun terus melakukan pekerjaannya.
Setelah berhasil mengumpulkan seikat ranting, Boby bermaksud untuk pulang saja. Perutnya tiba-tiba lapar dan ingin memakan bubur hangat buatan ibunya.
Hanya saja, kabut tiba-tiba menebal. Mulai dari asap yang samar-samar sampai menjadi semacam awan di atas tanah. Boby bahkan sudah tidak bisa melihat ujung kakinya sendiri. Karena merasa ia sudah hafal jalan, Boby pun terus melanjutkan perjalanan untuk pulang.
Di saat itu, kabut perlahan menipis meskipun masih cukup tebal untuk menyelimuti semua hal. Setidaknya, Boby bisa kembali melihat jalan. Pepohonan yang awalnya terbungkus kabut pun mulai tampak samar-samar.
Merasa semua hal sudah akan kembali seperti semula, Boby pun menyempatkan diri untuk mengamati sekitar. Ia pikir, mungkin saja ia bisa menemukan jamur atau apa pun itu dari hutan.
Sayangnya, yang tertangkap matanya adalah sesuatu hal yang tidak wajar. Awalnya, Boby mengira yang dilihatnya adalah manusia. Ia pikir, ah mungkin ada temannya yang juga mencari kayu bakar.
Tetapi, mengapa dua orang tersebut datang dari hutan bagian dalam? Bukankah kawasan tersebut selalu dilarang dikunjungi. Lord Neuri sendiri yang memberi perintah.
Wah, apa orang-orang itu nekad masuk hutan bagian dalam? Boby merasa, ia harus menegur keduanya.
Dengan langkah tergesa dan seperti akan berlari, Boby pun mencoba memanggil-manggil dua orang yang masih samar di pandangan.
“Hoi, hoi, siapa kalian! Jangan seenaknya masuk ke sana! Kalian mau mati, ya!”
Sayangnya, tidak ada tanggapan apa-apa. Setelah itu, bahkan ada angin yang sangat kencang menerpa tubuhnya. Boby menggunakan kedua lengannya untuk melindungi wajahnya. Kemudian, ketika angin kencang tersebut berlalu, dan kabut di sekitar pun ikut tersapu, Boby tidak lagi melihat dua orang mencurigakan tadi.
Keanehan lainnya pun terjadi. Hutan yang tadinya hening, mulai kembali berisik. Tenggorek, jangkrik, burung hantu, katak, cicitan tupai, apa pun itu sudah mulai menunjukkan diri.
Boby yang seumur hidup mengaku belum pernah melihat hantu, dan hampir-hampir tidak percaya dengan hal mistis yang abu-abu, akhirnya mendeklarasikan diri bahwa makhluk halus ternyata memang ada. Ia menyaksikannya sendiri.
Jika ada orang yang berani menentang argumennya, Boby akan menampar mulut orang itu secara langsung.
“Kau sangat hebat, Boby. Kau bahkan tidak takut meskipun sudah bertemu hantu.”
Seorang anak kecil dengan bekas ingus di sekitar hidungnya menatap Boby dengan pandangan memuja. Seolah-olah, ia ingin menjadi seperti Boby ketika dewasa nanti.
“Bocah d***u. Mana mungkin aku tidak takut! Saat itu kakiku lemas dan hampir terkencing di celana. Aku tidak mau melihat hantu lagi.” Boby dengan semangatnya yang tinggi, masih saja tampak bersemangat meskipun sedang mengaku ketakutan.
Bocah kecil tadi pun hanya mengkerut di sebelah ibunya, memanyunkan bibir karena Boby tidak sependapat dengannya.
Setelah itu, pembicaraan mengenai hantu di hutan itu terus mengalir tanpa henti.
Tidak begitu jauh, di rumah kepala desa yang berada tepat di depan orang-orang tadi berkumpul, ada Neuri yang sedang menikmati secangkir teh dan sepiring kue kering. Duduk bersamanya, ada Loqestilla Vent yang asik bermain bersama kucing-kucing peliharaan kepala desa.
“Maafkan Boby, Lord Lycaon. Cerita tentang hantu itu mungkin hanya ilusinya. Kabut tebal terkadang memang suka memberi ilusi seperti itu.” Kepala desa mencoba menenangkan hati Neuri. Sedikit tidak enak hati bahwa tuan tanah mendengar isu seperti itu. Sebagai kepala desa, ada kewajiban baginya untuk membuat suasana kondusif di desa.
“Tidak apa-apa. Hutan bagian dalam memang banyak hantunya. Boby tidak salah,” ucap Neuri tenang.
Kepala desa yang mendengar itu pun membelalakkan mata. “A-apa karena hal itu, Lord Lycaon menutup hutan bagian dalam?”
Neuri mengedikkan bahu. “Itu salah satunya. Tujuan penutupan sebenarnya supaya hutan Lunadhia memiliki kawasan asri yang tidak terjamah siapa-siapa. Manusia kadang suka serakah, sampai lupa untuk menyisakan satu tempat supaya hewan dan tumbuhan bisa bernapas bebas.”
Kepala desa tersenyum kalem. “Lord Lycaon benar. Maafkan ketidakmampuan saya dalam membaca situasi. Saya masih harus banyak belajar.”
Neuri hanya menggeleng ringan. “Kau sudah berusaha keras. Lakukan saja semuanya seperti biasa.”
Setelah mendapat kepercayaan yang demikian besar, kepala desa pun bergegas masuk ke dalam rumah, menyuruh istrinya memasak makanan enak untuk tuan tanah yang baik hati dan pengertian.
Seraya mengelus-elus seekor kucing oranye di pangkuannya, Loqestilla menatap Neuri intens.
Merasa diperhatikan, Neuri pun bertanya, “Ada apa, Miss Loqestilla?”
“Anda benar-benar bisa menggunakan segala hal di sekitar dengan baik. Termasuk gosip yang didasarkan kesalahpahaman.”
Neuri mengembus napas. “Jika memang yang Boby lihat adalah hantu, aku pun tidak keberatan disebut hantu.”
Loqestilla terkekeh. “Saya pun tidak keberatan disebut hantu.”
Seraya tersenyum samar, Neuri kembali meneguk tehnya.
Pada sore yang berwarna jingga dengan udara yang membungkus hangat, sebuah rahasia kembali menjadi rahasia. Namun, berkat hal itu, Boby yang gila kerja jadi memiliki sesuatu yang begitu berarti di dalam hidupnya, anak-anak kecil mendapat cerita yang menarik, dan orang dewasa bisa tertawa karena merasa terhibur. Semua bahagia dan gembira. Neuri harap, tidak ada yang dengan sengaja menghapus kegembiraan pada hari ini.
.
***
.
Akan tetapi, pada sore yang sama, ditemani istri paling muda, Rowland Rathmore Lubbock tampak tidak begitu bersemangat. Di depan balkon kamar, seraya duduk berleha-leha, ia menatap kosong tanpa arah. Di sebelahnya, Lady Freya pun tidak tahan untuk mengetahui kegilasahan sang suami.
“My Lord, suamiku, apa yang sedang kau pikirkan sampai wajahmu murung ditekuk-tekuk. Tidakkah kehadiran istrimu di sampingmu kurang membuatmu bahagia?”
Rowland tersenyum kecil. Menggunakan sebelah lengannya, ia memeluk Lady Freya ke dalam dekapan. Dielus-elus kepala istrinya, lalu dikecup rambut sang pujaan hati dengan penuh kasih sayang.
Hanya saja, ketika ia menghirup aroma Lady Freya, rasanya ada yang berbeda. Aroma istrinya memang menyenangkan, tapi belum mampu meredakan kerinduan yang membakar hatinya.
Ia ingin menghirup aroma yang lain, aroma mawar balerina yang kuat tapi sangat lembut. Aroma Miss Vent yang dirinduinya.
“Istriku, jika aku menikah lagi, apakah aku akan lebih bahagia?”
Lady Freya tidak lantas menjawab, tangannya mengepal kuat. Meskipun ia mengatakan 'tidak' dan mencoba membujuk suaminya untuk tidak menjadi wanita lagi, pasti pendapatnya yang seperti ini tidak akan begitu dipedulikan. Suaminya memang selalu menuruti banyak permintaannya, tetapi jika sudah berurusan dengan wanita, beda lagi ceritanya. Walau kesal dan hampir memaki, Lady Freya tetap bisa memberi senyum manis bak madu muda.
"Semua itu tergantung keinginanmu, suamiku. Memangnya, siapa wanita yang ingin kau nikahi lagi?"
Tidak disangka, Rowland menjawab dengan cepat, "Miss Vent, Miss Loqestilla Vent."
Kepala Lady Freya rasanya telah dihantam gada. Apakah dia tidak salah dengar? Suaminya ingin menikahi perempuan gila itu?
"Suamiku, apakah kau bersungguh-sungguh?"
"Tentu saja, bahkan aku yakin seratus persen ingin menikahi perempuan itu. Entah mengapa, dia itu unik dan sangat menakjubkan. Baru saja tadi pagi aku bertemu dengannya, tapi sekarang aku sudah merindukannya. Ah, betapa wanita yang menawan."
Lady Freya tidak lagi bisa berkata-kata. Ia pun memutuskan untuk undur diri, berkata bahwa ingin istirahat karena tiba-tiba kepalanya pusing bukan main.
Rowland membiarkannya, karena menyangkan bahwa istrinya itu mungkin sedang dilanda cemburu. Ia tidak begitu peduli, bahkan jika semua istrinya menentangnya, ia tidak akan berhenti untuk mengejar Miss Loqestilla Vent. Dia memang sejak dulu sudah begini, mau bagaimana lagi.
Ah, Rowland tidak sabar menunggu esok hari. Ia akan datang kepada Miss Loqestilla Vent dan membawa cincin pertunangan. Membayangkannya saja, hati Rowland sudah berbunga-bunga.
.
TBC
18 Juni 2020 by Pepperrujak