Kerusakan 23
.
Rowland Rathmore Lubbock, berjalan dengan begitu angkuh dan mantap melewati lorong-lorong gelap berpenerang obor. Seorang pria yang memakai jubah bertudung, berjalan di depannya, memimpin perjalanan.
Lorong tersebut terbuat dari bebatuan hitam, berlumut dan berjamur. Suhu di dalamnya dingin hingga menusuk kulit, udara yang terhirup berbau apek dan berspora. Lantainya becek di beberapa tempat, dan sering kali serangga berkeliaran seperti orang-orang di pasar. Benar-benar sebuah tempat yang tidak menyenangkan untuk disinggahi.
Meskipun begitu, Rowland sudah sering ke tempat ini, entah untuk yang ke berapa kali. Ia sudah terbiasa, dan sebenarnya terlalu abai dengan kondisi lorong tersebut. Baginya, tujuan hidupnya lebih berarti dibandingkan lorong pengap dan tidak terawat itu. Jangankan sekadar lorong, melewati lembah berhantu pun sanggup dia tempuhi asal keinginannya terlaksana.
Akhirnya, setelah sekitar dua puluh menit berjalan mengikuti pria berjubah, Rowland sampai di depan sebuah pintu reyot yang tampak lapuk dan seolah hampir hancur.
Si pria berjubah membuka pintu tersebut dengan mudah, bahkan sepertinya tanpa perlu menggunakan banyak tenaga. Usai pintu dibuka, suasana di dalam ruangan tidak kalah mengerikan, bahkan mungkin lebih buruk daripada yang dibayangkan.
Di ruangan yang berukuran sekitar empat kali empat meter, seseorang duduk di lantai beralaskan tikar rotan yang sudah banyak sobekan. Di sekitar orang itu, bercak-bercak darah meleber seperti lukisan. Darah yang mengering dan keras, yang masih lembut seperti jelly, hingga darah yang masih segar dan kental. Semua darah-darah itu berada di segala tempat, di lantai, di dinding, juga di barang-barang yang tidak tertata rapi.
Orang yang duduk tersebut menggunakan jubah hitam buluk, compang-camping, dan sangat berbau apek. Tangannya terlihat renta, dan setiap kali tangan tersebut terulur untuk mengambil bola mata di dalam mangkuk, penampakannya seperti mumi yang hitam dan keriput.
“Master Nybe, saya membawa tamu hari ini.”
Seseorang yang disebut sebagai Nybe menghentikan aktivitasnya mengunyah bola mata. Mulutnya tersenyum lebar, memperlihatkan gigi-giginya yang juga berwarna hitam tak terawat. “Duke of Clemente, selamat datang kembali di rumah Nybe ini. Apa yang bisa Nybe ini bantu?”
Tanpa basa basi, Rowland menjawab, “Aku ingin kau memberikan kutukan pada seseorang. Bisakah kau melakukannya?”
Terkekeh dengan suaranya yang serak dan berlendir, Nybe kemudian menjawab dengan percaya diri. “Tentu saja, tentu saja. Apa yang tidak bisa Nybe ini lakukan? Katakan, siapa orang itu. Biar Nybe ini yang mengurusnya. Oh, dan jangan lupa, berikan rambut atau potongan kuku orang itu. Nybe tidak ingin salah sasaran.”
Rowland segera mengeluarkan sebuah bungkusan dari saku jasnya. Bungkusan tersebut terbuat dari sapu tangan yang dilipat dan ditali menggunakan pita hitam. Ia menyerahkan bungkusan itu kepada orang berjubah coklat, dan orang tersebut menyerahkannya kepada Nybe.
Nybe membuka bungkusan yang ada di tangannya, kemudian menyuruh si pria berjubah untuk mengambilkan macam-macam alat yang dibutuhkan.
Sebuah bejana kosong diletakkan di depan Nybe, menyusul kemudian sebuah lilin yang dinyalakan, sebuah kuas, dan sebuah mangkuk berisi darah.
Nybe mengambil kuas berserabut hitam, mencelupkan ujungnya ke mangkuk darah, dan digunakan untuk membuat segel sihir pada dalam bejana. Setelah seger sihir ditulis, sehelai rambut berwarna merah yang berasal dari bungkusan milik Rowland dimasukkan ke dalam bejana tersebut. Setelah meludahinya tiga kali, Nybe mulai menggumamkan mantra-mantra yang entah seperti apa bunyinya.
Mantra disenandungkan, bejana yang kosong mulai terisi dengan air kental berwarna hitam. Semakin lama Nybe merapal, air hitam seolah memanas dan mendidih, gelembung-gelembung meletus menciptakan aroma busuk yang merajalela. Ruangan yang sebelumnya sudah sebusuk kandang kuda, kini menjadi lebih buruk lagi baunya.
Rowland menutup hidungnya menggunakan sapu tangan miliknya, setidaknya wangi bunga pada sapu tangan dapat mereda kebusukan yang membabi buta.
Tidak lama, Nybe menghentikan rapalan mantranya. Ia tampak menggosok-gosok dagu, matanya menyorot penasaran pada bejana yang mulai kembali tenang.
“Hmm, sayang sekali, Your Grace. Orang yang Anda tuju sudah menimbun kutukan dalam dirinya. Jiwa dan raganya, bahkan sudah bukan miliknya lagi. Nybe ini bahkan tidak bisa memberikan kutukan yang lain. Sebuah eksistensi menempel padanya.”
Rowland mengepalkan tangannya. “Apa maksudmu?”
Nybe terkekeh. “Seperti yang Nybe ini sudah katakan, orang itu, yang bernama Loqestilla Vent, bukan? Dia memiliki kutukan di seluruh tubuh dan jiwanya. Jadi percuma saja jika Anda ingin mengutuknya.”
Mendengar hal itu, Rowland mendecih. “Kalau begitu, bagaimana dengan yang satunya?”
Menggunakan sebuah sihir, Nybe melenyapkan isi dalam bejana. Kemudian menggunakan ritual yang sama, ia kembali memasukkan sehelai rambut berwarna coklat gelap ke dalam bejana yang sebelumnya sudah dilukis segel sihir.
Pada percobaan ke dua, Nybe pun mengelus dagunya lagi. Kekehannya semakin keras terdengar, dan hal itu sukses membuat Rowland semakin tidak sabar untuk mengetahui hasil akhirnya.
“Bagaimana?” tanya Rowland cepat.
“Hooo, benar-benar pasangan yang aneh. Keturunan terakhir Lycaon juga memiliki sebuah kutukan yang sama. Hmm, mengapa bisa begitu, ya?”
Nada bicara Nybe yang terdengar main-main tentu menandakan sesuatu. Rowland benar-benar ingin menghajar penyihir di depannya ini sampai rusak dan menjadi tulang belulang.
“Katakan! Kutukan apa yang kau maksud? Kau pasti tahu sesuatu, kan? Jangan menyembunyikan apa pun dariku. Aku akan memberikan apa pun yang kau inginkan jika kau mau menjabarkan semuanya.”
Sayangnya, meskipun diancam sedemikian rupa, Nybe sama sekali tidak gentar maupun gemetar. Seringai di bibirnya yang berkerut masih tetap lebar, matanya tetap menyembunyikan kemisteriusan.
“Jangan terlalu jumawa, Your Grace. Jika imbalan dari informasi ini adalah jantung Anda sendiri, apa Anda masih bisa memberikannya pada Nybe? Khe khe khe. Mana mungkin … mana mungkin.”
Rowland mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Ia menarik napas panjang supaya tidak ikut tersulut emosi. “Kalau begitu, maafkan aku. Lalu, aku harus bagaimana supaya kau mau memberi tahu informasi yang kau ketahui.”
Nybe terkekeh semakin kencang. “Bagus … bagus. Anda sangat pandai mengendalikan diri rupanya. Ah, sejak dulu Anda memang pandai melakukan hal-hal seperti ini. Itulah mengapa Nybe ini selalu bersedia memberikan apa pun yang Anda inginkan.”
“Jadi, bisa beritahu aku, apa yang harus kulakukan supaya kau bersedia membantuku kali ini?”
“Sayang sekali, Nybe tidak berani berkata terlalu banyak. Sebab, sesuatu yang ada pada diri Lord Lycaon maupun wanita yang ada di sampingnya, adalah perwujudan entitas yang lebih tinggi daripada Nybe. Maka, Nybe akan memberikan Anda petunjuk. Pertama, cobalah mengundang mereka ketika bulan purnama, ke dua coba bicarakan hal-hal ini dengan istri ke tiga Anda. Mungkin istri Anda yang jelita itu bisa memberikan solusi dan bantuan yang memadai. Selain itu ….”
“Selain itu apa?”
“Selain itu, cobalah untuk menyewa lebih banyak penyihir untuk berada di sisi Anda. Hal itu pasti akan sangat membantu.”
“Apa kau sendiri tidak bisa membantuku?”
Lagi-lagi Nybe terkekeh aneh. “Kali ini Nybe tidak ingin terlibat lebih jauh. Nybe ingin hidup lebih tenang.”
Mendengarnya, Rowland mendecih marah. “Ck, lalu apa gunanya aku mendatangimu!”
Nybe terkekeh lagi. “Karena Anda mempercayai Nybe, makanya Anda datang, bukan? Sayangnya, kali ini Nybe tidak ingin ikut campur. Lagi pula, Nybe sudah memberikan petunjuk, jadi jangan sampai lupa untuk berterima kasih pada Nybe.”
Rowland tidak mau mengucapkan apa pun. Sudah bertahun-tahun ia menggunakan jasa penyihir hitam yang satu ini untuk menangani keperluannya, dan memang seringkali Nybe tidak mau membantunya untuk alasan yang tidak diketahuinya. Ia pikir, Nybe memang suka mood-moodan, emosinya tidak stabil dan keberpihakannya pun demikian.
Meskipun menyebalkan, tapi Nybe sangat bisa diandalkan ketika mau turun tangan. Selain itu, Rowland juga tidak mau mengambil risiko dengan menjadi musuh Nybe. Ia sudah banyak menyaksikan betapa mengerikan ketika Nybe mengirim kutukannya pada seseorang. Rowland tidak ingin seperti mereka.
Terlebih, Nybe adalah penyelamat hidupnya. Seseorang yang membuatnya berada di puncak kuasa seperti sekarang meskipun dengan menelan banyak tumbal dan derita.
Jika kali ini Nybe memilih diam, Rowland pun tidak bisa apa-apa. Setidaknya, penyihir itu masih mau memberinya petunjuk walau sedikit.
“Baiklah, terima kasih atas petunjukmu. Aku undur diri.”
“Sampai jumpa lagi, Your Grace. Khe khe khe.”
Rowland pun berbalik, dan berjalan pergi didampingi pria berjubah coklat. Meninggalkan Nybe sendiri yang kembali mengunyah bola mata sebagai camilan harian. Seraya membaringkan diri, Nybe mulai terkekeh-kekeh lagi.
“Khe khe khe, Duke of Clemente … dia benar-benar berurusan dengan orang yang salah. Jika aku jadi dia, aku tidak mau melawan orang-orang terkutuk seperti itu. Mereka adalah inang yang diberkati … penyihir seperti Nybe ini pun bisa saja dikuliti hidup-hidup. Ngeri … ngeri … khe khe khe.”
Krauk, krauk, sambil meracau lagi dan lagi, bola mata di dalam mangkuk mulai berkurang isinya.
.
***
.
Sesuai petunjuk Nybe, usai makan malam romantis yang sengaja ia lakukan bersama istri ke tiga, Rowland pun mengajak berbincang Lady Freya di ruang rekreasi.
Sampanye dihidangkan dalam gelas berkaki tinggi, camilan-camilan terbuat dari coklat dan gula kesukaan Lady Freya ditumpuk dalam piring bersusun. Lilin di kandelir yang tinggi dinyalakan, perapian diatur supaya tidak terlalu membara.
Seorang pemain biola menggesek senar di sudut ruangan, para pelayan berdiri dengan kepala tertunduk.
“Suamiku, mengapa malam ini kau jadi seromantis ini? Apakah ada sesuatu yang membuatmu senang?”
Dalam dekapan Rowland di atas sofa yang empuk, Lady Freya mengudap sepotong biskuit coklat.
Rowland yang mendengar pertanyaan pintar istrinya, hanya tertawa ringan. “Malah sebaliknya, istriku. Aku sedang patah hati sebenarnya.”
“Apa gara-gara wanita rubah itu?”
Bisa Rowland dengar nada bicara Lady Freya yang meninggi dan terkesan ingin memaki.
“Bisa dibilang begitu. Rasanya, aku jadi tidak ingin melakukan apa-apa karena sudah ditolak.”
Lady Freya pun memeluk Rowland lebih erat. “Suamiku, adakah yang bisa kubantu untukmu?”
“Dengan berada di sampingku saja sudah sangat membantu, istriku.”
Tidak tega melihat suaminya yang merana, Lady Freya pun mengelus-elus punggung yang liat dan lebar. “Apa kau benar-benar ingin menikah dengannya?”
Rowland menatap istrinya sejenak, lalu mengangguk pilu. “Ya … aku sangat ingin menikahinya.”
“Tapi kudengar, dia sudah bertunangan dengan Lord Lycaon?”
“Itulah yang menjadi masalah. Aku terlambat.”
“Namun, mereka belum menikah, bukan? Tentu kau masih punya kesempatan.”
Dahi Rowland dipenuhi kernyitan. "Apa maksudmu, istriku?"
Lady Freya menatap suaminya dengan sangat serius. "Jika Lord Lycaon tiada, bukankah wanita itu bisa menjadi milikmu, suamiku?"
Rowland tersenyum kecil. Dalam hati sebenarnya membatin bahwa ia sudah memikirkan hal itu, hanya saja tidak semudah itu menghancurkan Lycaon terakhir yang tersisa. Entah sejak kapan, tapi Neuri Turkadam Lycaon menjadi tidak mudah disentuh oleh bangsawan lain. Tampaknya keturunan terakhir Lycaon tersebut memiliki sekumpulan pelindung yang tidak diketahuinya.
"Aku sudah mencoba memikirkan mengani hal itu, istriku. Namun, Lord Lycaon tidak semudah itu dilenyapkan."
Lady Freya mendebas kecil. "Suamiku, bagaimana jika kau menyelidiki Lord Lycaon lebih jauh. Aku merasa, dia menyembunyikan sesuatu. Kau tahu kan bahwa semua keluarganya meninggal, tapi hanya dia yang selamat. Kau pikir, bagaimana dia bisa selamat seorang diri begitu? Sangat mencurigakan, bukan?"
Rowland mengangguk. Sebenarnya ia tidak pernah memikirkan mengapa Neuri Lycaon bisa selamat dari p*********n besar-besaran yang terjadi pada seluruh keluarganya. Menurut Rowland, hal itu kurang penting dipikirkan. Namun sekarang, ia dihantam kenyataan bahwa sepertinya memang ada yang aneh dengan selamatnya Neuri dari peristiwa bertahun-tahun lalu yang sempat menghebohkan kalangan bangsawan.
"Kau benar, istriku."
"Aku dengar, orang-orang di Lunadhia sering menemukan jasad hewan yang mengering setiap malam bulan purnama usai. Itu juga bisa menjadi penyelidikan yang bagus. Semakin banyak skandal, akan semakin baik untukmu menyingkirkan Lord Lycaon, bukan?"
"Ha ha ha, istriku memang begitu pandai. Tidak salah aku memilihmu untuk membicarakan kegelisahanku. Kau bisa memberikan solusi yang kuinginkan."
Lady Freya tersenyum begitu manis. "Suamiku, kau terlalu memuji," ujarnya malu-malu.
Melihat sang istri yang begitu manis, Rowland pun memeluknya dengan erat.
Namun, di dalam pelukan yang hangat, mata emerald Lady Freya seolah menggelap. Wajah ayu yang sempat tersenyum di hadapan mata sang suami, berubah murung dan mati, seolah tidak ada perasaan yang hidup di sana.
Dalam benak yang tidak bisa terbaca siapa pun, banyak sekali rencana-rencana yang mulai disusunnya dengan rapi.
Namun, seperti apa pun rencana yang ingin dilakukannya, tujuannya hanya satu, yaitu kematian tragis Loqestilla Vent. Ia berjanji dalam hati, akan mengakhiri hidup wanita rubah yang telah menggigit kakaknya sampai mati. Setelah wanita itu nanti menjadi istri suaminya, akan ada banyak kesempatan baginya untuk menghancurkan Loqestilla. Ia hanya harus bersabar sampai masa itu tiba.
.
TBC
22 Juni 2020 by Pepperrujak