“Abu mayat.” Di antara semua kata yang bisa diucapkan, laki-laki bersayap perak paling tidak bisa menahan kata tersebut. Entah mengapa, da-danya terasa panas hanya karena seseorang menabur abu manyat sebagai tameng untuk menangkis serangannya. “Benar-benar keji … menggunakan abu mayat sebagai ritual. Hatimu pasti sudah disusupi iblis,” ucap laki-laki itu lagi. Bahkan nada ucapannya dipenuhi emosi, sangat berbeda dengan beberapa saat lalu ketika ia mengancam ingin membunuh orang lain. Namun, meskipun dihina dan dipandang sebagai seseorang yang tidak memiliki moral pantas, Dannis tidak merasa tersinggung. Hatinya tidak berat maupun sakit, malah terasa tenang dan nyaman. Sebab, jika lawannya terlalu baik, ia jadi tidak memiliki alasan untuk membenci. “Memang abu mayat,” ucap Dannis member

