BAB SEPULUH

3680 Kata
Akhirnya hari itu datang juga. Sedari tadi Ello duduk dengan gelisah. Di hadapannya Ridwan sudah bersiap dan sedang berbicara dengan penghulu. Sementara Ello sendiri terdiam dengan pikirannya. Berusaha mencerna baik-baik fakta bahwa sebentar lagi dirinya akan melepas masa lajang. Yeah, ini seperti mimpi. Sampai semalam dia masih memikirkan bagaimana kelanjutan pernikahan ini. Apakah akan berhenti di tengah jalan. Atau malah hubungannya dengan Sharyn akan bertahan. Atau jangan-jangan rahasia pernikahannya akan terbongkar. Seperti apa nanti biarlah waktu  yang menjawabnya. Ello akan menerima apapun konsekuensinya. “Nak Ello?” Panggilan dari Ridwan membuat Ello tersadar dari lamunannya. “Iya, Om?” “Nggak usah tegang. Santai aja.” Ridwan menepuk-nepuk tangan Ello seolah memberi ketenangan. “Sebentar lagi acaranya di mulai,” ucapnya sembari melirik jam tangan. Ello hanya mengangguk dan tersenyum kecil. Ello melirik sebentar ke belakang. Di sana ada Ghani yang duduk bersama Erro dan Echa. Erro terus memasang senyuman lebar sembari membawa secarik kertas bertuliskan ‘Semangat Saudara kembar Gue. Lo Pasti Bisa.’ Ello mengerut samar. Sempat-sempatnya Erro melakukan hal konyol seperti itu di hari pernikahannya. Di sampingnya Echa terlihat kerepotan  karena memangku Eza dan Finza sekaligus. Tapi Erro seakan tak peduli dan masih sibuk dengan kertas menjijikkannya itu. Huh, suami macam apa itu. Di sana juga ada Izzy dan Zaza bersama anak mereka Faza yang semakin hari mirip dengan ayahnya. Izzy tampak mengacungkan kedua jempolnya ke arah Ello. Sahabat sekaligus rekan kerja Ello, Dokter Mario yang terhormat tak ketinggalan turut hadir bersama Riska dan anak mereka. Rio yang tengah memangku Mauren heboh sekali menyoraki sahabatnya. Ello hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Rio yang selalu lengket dengan kata konyol. Satu lagi makhluk yang sejak tadi mengitarinya dengan bidikan kamera. Siapa lagi kalau bukan Fathur. Sesekali Fathur juga berisik menyuruh Ello untuk tersenyum. Beberapa menit kemudian suasana di ballroom hotel bintang lima ini hening pertanda acara akan segera di mulai. Acara ijab qabul di mulai dengan pembukaan dari pembawa acara beserta prakata dari bapak penghulu. “Ananda Arviello sudah siap?”  tanya bapak penghulu. Ello mengangguk mantap. Entah kenapa dia tidak pernah merasa seyakin ini dalam hidupnya. “Jabat tangan Pak Ridwan dengan erat!” Ello melakukan apa yang diinstruksikan oleh penghulu. Dia mengangkat tangan kanannya dan menjabat tangan ayah Sharyn dengan erat. “Bismilahhirahmanirahim. Ananda Arviello Surya Zanuar bin Ghani Putra Zanuar saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya Asharyn Tharia Swanda binti Ridwan Gutama dengan mas kawin berupa emas berlian sebesar 79 gram, uang senilai 17 juta rupiah, dan seperangkat alat sholat di bayar tunai.” Ello menjawab dengan lantang. “Saya terima nikah dan kawinnya Asharyn Tharia Swanda binti Ridwan Gutama dengan mas kawin berupa emas berlian sebesar 790 gram, uang senilai 17 juta rupiah, dan seperangkat alat sholat di bayar tunai.” “Bagaimana para saksi? Sah?” “Sah!!!” *** Malam harinya Sharyn sangat gugup. Selama acara resepsi digelar, dia terus memasang senyuman palsu untuk menutupi rasa gugupnya. Bukan. Bukan karena dia tidak senang. Hanya saja. Hanya saja dia gugup untuk malam pertama nanti. Ya, malam pertama. “Eh, ngelamun aja lo! Mikir jorok, ya?” Fathur berseru tiba-tiba ketika sampai gilirannya untuk bersalaman dengan Sharyn. Sharyn tergagap. “Ih... enggak, kok! Mas Fathur ngomong apa, sih?” Fathur mencebik ketika Sharyn memaksakan tawa garing. Pandangannya teralih pada Ello. Sialan. Masih datar saja muka  tembok satu ini. Sepertinya Fathur butuh beberapa kaleng cat agar tembok di wajahnya lebih berwrna. Tidak sedatar itu. Dih. “Ehem...” Ello berdeham. Mata tajamnya menyipit ke belakang. “Antrian di belakang lo masih banyak, Thur. Sadar diri dong, lo!” Fathur menoleh. Dia langsung terkekeh pada Nella yang merengut di belakangnya. “Ehehe... iya deh, yang. Maaf.” Nella maju. Senyumnya lebar sekali. “Selamat ya, Ryn, El. Semoga jadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah. Dan semoga diberi banyak momongan.” “Amin. Makasih ya, Mbak Nella.” Sharyn menjawab riang. Sementara Ello di sampingnya masih memasang wajah tembok. Sharyn yang kesal langsung menyikut kencang lengan Ello. “Oh, Eh, thanks Nel. Amin.” Dan ketika sosok Fathur dan istrinya menghilang, rombongan dokter-dokter berdatangan. Ello langsung pasang wajah sok ceria. Semenjak tadi pagi sebelum akad nikah dimulai, dia sudah berlatih di depan cermin. Apalagi kalau bukan untuk akting wajah bahagia. Sayangnya ya begini. Setelah dia menarik-narik mulutnya sampai molor. Tetap saja mukanya datar. Hell, datar seperti tembok. Lalu setelah dia merenung, akhirnya dia menemukan jawaban yang tepat. Jawabannya, mukanya memang datar. Seperti tembok. Mau digiles sekalipun tetap saja begini. Malah bisa saja setelah digiles makin datar. Jadi, kesimpulannya, ya memang beginilah adanya seorang Arviello. Si dokter tembok yang datar—yang bahkan buat ketawa aja garing. Ah, sial. “Nak Ello, akhirnya kamu mengakhiri masa lajangmu juga! Om bangga sekali sama kamu, El! Om bener-bener nggak nyangka akhirnya kamu nikah juga setelah sekian lama luntang-lantung nggak jelas!” Dokter Arman berteriak heboh. Senior satu ini sangat riang mendengar kabar bahagia tentang pernikahan Ello yang mendadak sekali. Tapi memang harus seperti itu agar Ello bisa menyusul yang lain secepatnya. Sayangnya Dokter Arman berteriak terlalu kencang. Ello harus menggigit bibir saking malunya. Batinnya bergejolak. Kurang keras. Sekalian saja semua tamu di resepsi tahu dia sering luntang-lantung gara-gara dihina habis-habisan oleh saudara dan sahabatnya. “Om Arman kayaknya nggak perlu kenceng-kenceng, deh.” Ello menggerutu. Sharyn terkikik di sampingnya. “Ah, nggak apa-apa. Justru semua orang harus tahu kalau akhirnya kamu ini laku juga.” Ah, makin sialan saja! Dan yang dilakukan Ello hanya memasang wajah sok bahagia. Padahal dalam hati dia nyaris menyumpahi seniornya satu ini. Astaga. Seenaknya saja mengatainya tidak laku. Menyedihkan sekali. “Mas El, Om Arman dan rekan kerja Mas El lainnya lucu-lucu semua, yah.” Ello menoleh dan menyipit tajam. “Lucu buat kamu. Dan nggak sama sekali buat aku, karena itu aib.” Sharyn langsung terkesima. Untuk beberapa saat menatap wajah tampan Ello penuh kekaguman. Ya ampun, ini pertama kalinya Ello berkata dengan menyebut aku dan kamu. Diam-diam Sharyn merasa terharu. Oh, rasanya seperti melayang-layang terbang. Belum selesai keterpanaan Sharyn, sosok yang tak diharapkan muncul. “Ryn, kamu pasti lagi bercanda, kan?” Benny menatap tajam Sharyn. Sharyn tersentak. Sepersekian detik kemudian memasang wajah penuh tantangan. Tanpa rasa takut sedikit pun. “Bercanda? Ha?! Acara dengan melibatkan ribuan orang kamu bilang bercanda?” “Ryn, please.” “Tolong, Ben, aku nggak mau denger sama sekali.” Benny medesis. Matanya menatap tajam Ello yang memasang wajah bodoh amat. Sama sekali tak peduli dengan kehadirannya. “Eh, lo, dokter tembok! Awas aja gue akan balas dendam ke lo!” “Ish... Pergi kamu, Ben! Pergi!” Mau tak mau Benny mengalah juga meski dengan berbagai geraman dan umpatan. Belum selesai ketegangan dengan Benny, Nasha membawa satu masalah baru. Mantan Ello itu datang dengan wajah sok mendramatisir dan sok menyesal. Membuat Ello merasa muak dan jijik padanya. “El, aku sayang kamu selamanya.” Nasha tersedu sebelum meninggalkan pelaminan. Lagi-lagi Ello tak peduli. Dia masih terus memasang wajah datar. Bahkan sampai acara nyaris selesai. Hanya tinggal kerabat terdekat saja yang ada di sana. Erro yang malam itu menggunakan pakaian seragam  biru tua dengan pasangan lain terkekeh dari kejauhan. Seperti biasa tangannya terus menggandeng Echa dengan protektif. “Akhirnya kembaran gue yang paling cool nikah juga! Gue seneng banget, El!” seru Erro heboh. Echa tersenyum senang. “Ryn, happy wedding, ya. Oh, kamu harus buka kado dari aku dan Erro. Bagus banget isinya.” Saat itu juga Ello langsung pasang wajah waspada begitu melihat Erro terkikik bahagia. Sialan. Apalagi ini yang dilakukan kembarannya? Kurang ajar. Awas saja kalau nanti dia dikerjai lagi.” “Gue yakin ada sesuatu yang lo lakukan,” sindir Ello dingin. Erro tak menjawab. Terus tertawa bersama Echa. Lalu di belakang mereka muncul Rio dan Riska. Tak lama setelahnya Izzy dan Zaza juga datang. Ah, paket-paket manusia yang suka menghinanya habis-habisan. Ello berani bersumpah kalau pasti ada saja hal usil yang dilakukan mereka. “El, gue terharu banget! Selama bertahun-tahun akhirnya lo mendapatkan orang yang cocok. Sebagai rekan sekaligus sahabat, gue bahagia banget. Setelah sekian lama akhirnya lo jadi lelaki dewasa yang sebenarnya dan siap menjadi papa idaman,” Rio berceramah seperti biasa. Erro menimpali dengan tawa bahagia. “Yes, setelah ini lo harus check hape lo. Kita udah invite lo ke grup papa-papa idaman. Selamat bergabung El. Lo akhirnya tahu rahasia kilat kita menjadi papa idaman masa depan.” Oh, astaga! Kalau ada jurang yang terjal Ello ingin menjatuhkan diri sejatuh-jatuhnya. Cih. Sialan. Sumpah ini bukan suatu hal yang membanggakan dan patut diberi selamat. Ini adalah hal konyol yang paling menjijikkan. Dan Ello bahkan tidak pernah meminta sekali pun untuk dimasukkan grup menjijikkan itu. Serius. Lebih baik dia masuk grup orang-orang lansia daripada harus digiring ke grup papa-papa sakit jiwa. Ello menatap Rio dan Erro secara bergantian. “Oh, boleh. Dan nama grupnya nanti bakal gue ganti jadi PPSJ.” Erro memicing. Begitu pula dengan Rio. “Maksud lo?” tanya mereka kompak. “PPSJ apaan tuh?” Izzy menyahut cepat. “Papa-papa sakit jiwa,” jawab Ello tajam. Seketika terdengar tawa koor dari mereka bertiga. Ello mendengus beberapa kali. Sementara Sharyn ikutan tertawa. Begitu pula dengan Echa dan yang lainnya. “Eh, sialan banget!” Izzy berseru sambil meninju lengan Ello. “By the way itu grup perjuangan meraih masa depan bego!” “Dan gue nggak peduli!” Ello makin sinis. “Tapi bagus, El. Biar kamu bisa mengikuti jejaknya Rio.” Riska menoleh pada suaminya. “Iya kan, Ri? El pasti juga bisa jadi papa siaga kayak kamu.” Rio tersenyum bangga. “Kamu bener sayang. Aku selalu siaga untuk kamu dan Aren.” Erro tak terima. Dia merangkul Echa dengan erat. “Eh, gue lebih siaga. Gue on 24 jam non stop buat jagain si kembar.” Echa langsung mendelik pada Erro. “Ah, nggak juga, kamu sering molor waktu mereka nangis tengah malem. Kadang disuruh bersihin poop-nya Jaja aja langsung teriak-teriak di kamar mandi.” “Ya ampun.” Erro menganga tak percaya. “Yang begituan nggak usah diceritain juga kali, Cha. Lagian baunya nggak enak banget.” “Ya kali poop Jaja baunya wangi, lo kira lulur?! Udah lumurin aja ke muka lo sekalian,” sindir Rio. “Sialan lo, Ri! Jangan bawa-bawa poop anak gue dong!” Rio yang bersiap membalas omelan Erro langsung dijitak Riska. “Ih... Kamu kan dokter. Jangan malu-maluin, dong! Jorok banget.” Zaza tertawa lebar melihat mereka. “Fa nggak bau tuh, Ro. Jangan-jangan kamu kasih makan Jaja yang kadaluarsa, ya?” “Eh, gue nggak gitu, ya! Kurang ajar lo pada ngatain gue.” Erro langsung menggerutu panjang lebar. “Ah, apes. Reputasi papa ter-idaman gue hancur seketika.” Rio tersenyum bangga. “Sebentar  lagi gue yang akan menduduki peringkat pertama, Ro. Selamat tinggal.” Izzy semakin tak terima. “Papa ter-idaman bulan ini jatuh pada Fahrezzy.” Sharyn terkekeh melihat kelucuan mereka. Tanpa sadar dia mencetus. “Mungkin bulan ini Mas El yang jadi papa ter-idaman.” Seketika suasana hening. Semua yang ada di sana seakan menjadi patung yang membeku di tengah lautan luas. Erro, Izzy, dan semuanya terdiam dengan wajah menganga. Apalagi Ello yang sudah shock mental saking kagetnya dijadikan kandidat menjijikkan itu. Sharyn memaksakan tawa. “Loh, salah ya? Emang Mas El nggak boleh masuk nominasi?” “Oh, boleh! Boleh!” Dan seruan-seruan lainnya bersahutan diiringi gelakan tawa membuat Sharyn semakin kebingungan dan mengernyit heran. Loh, mereka ini kenapa, sih? *** Ello masih terus merutuki dirinya hari ini. Semuanya semakin menyebalkan saat sepanjang malam akhir acara mereka terus membahas Ello sebagai kandidat selanjutnya. Dan Erro, dengan santainya memberi penjelasan mengenai grup PPI—yang bahkan sama sekali tidak ingin didengar Ello. “Jadi, setiap bulan kita ngadain awards. Cara polling-nya gampang, kok. Tinggal bagiin kertas vote buat para istri dan memberi penilaian secara adil. Dan—” Erro masih terus menjelaskan keseluruhan seluk beluk PPI. Ello menatap kembarannya jengkel. Dia nyaris melempar koper yang dibawanya ke muka Erro. Tapi hal itu urung dilakukannya. Dia hanya menyedekapkan tangan dan terus menatap jengkel. “Udah ceritanya?” “He? Belum selesei. Gue baru ngomong.” Erro celingukan ke bawah dan berseru memanggil Ri. “Ri, come here!” Rio berlarian menyusul Erro dengan senyuman tiga jari. “Kenapa?” “Berdasarkan hasil pengamatan gue. El masih terlalu awam. Jadi, sebagai anggota lama PPI, kita harus membimbing Ello menjadi suami yang sebenarnya seperti kita.” Rio mengangguk-angguk. “Gue setuju, Ro. Kita harus kasih les privat buat El.” “Bener banget.” Ello masih terdiam saat melihat kembaran dan sahabatnya kini berteriak-teriak heboh. Ello benar-benar ingin menjedorkan diri ke dinding saking sebalnya dengan mereka. Sialan. Les macam apa itu? Ello sangat tidak membutuhkannya. “Ri, kita mau sampai kapan di sini?” Riska sudah berseru dari lantai bawah. “Ayo pulang. Nanti kemalaman. Kasihan Aren.” Lalu tak lama setelahnya Echa  juga berseru. “Ro, Jaja rewel. Ayo buruan pulang. Mama udah marah-marah, nih.” Erro dan Rio berpandangan. Sepertinya mereka harus segera pulang. Ah, padahal tutorial mereka buat Ello belum selesai. “Lo berdua denger, kan? Sebagai papa idaman harusnya kalian nggak meninggalkan bayi-bayi kalian lebih dari dua jam.” Ello berkata sinis. Erro menghembuskan nafas panjang. Begitu pula dengan Rio. Akhirnya mereka memutuskan untuk segera pulang. Saat itulah Ello bisa tersenyum lega. Namun, kegugupannya datang lagi saat Ghani dan Sharyn naik ke atas menyusul Ello. “Kalian berdua tidurlah dulu kalau sudah capek. Papa juga mau tidur ini. Kamu yang betah ya di sini, Ryn.” Sharyn mengangguk sambil tersenyum senang. “Iya, Pa, Sharyn pasti betah.” Setelahnya Ghani ikutan menghilang. Kini tinggalah Ello dan Sharyn dengan keheningan yang panjang. Sampai Ello akhirnya berdeham untuk menyadarkan mereka ke alam sadar masing-masing. “Papa sama Mama kamu udah pulang?” tanya Ello. “Mmm... Barusan pulang, Mas El.” “Oh.” Ello mengangguk-angguk. Kakinya sudah serasa seperti jelly saat berhenti tepat di depan pintu kamar. Dia memaksakan senyum garing pada Sharyn. “Yuk, masuk.” Sharyn hanya mengangguk dengan pipi merona. Ello segera membuka pintu. Dan ketika terdengar bunyi klek dua kali, pintu kemudian terbuka. Bersamaan dengan itu alunan musik klasik hot berputar tiba-tiba di dalam kamar. Sharyn mengernyit. Ello juga. Keduanya langsung berpandangan heran saat merasakan suasana romantis yang tiba-tiba menguar dari dalam kamar. Ello bergidik ngeri. Buru-buru menutup pintu kembali. Dan musik romantis itu seketika berhenti. Astaga. Ini sungguh-sungguh menggelikan. Apa-apaan maksudnya tadi? Jadi, mereka sengaja memasang tombol otomatis di kamarnya ini. Sialan. Sialan. Tunggu, Ello sepertinya tahu siapa dalang dibalik ini semua. Siapalagi kalau bukan kembarannya yang sok romantis itu. Ello jadi ingat tentang kado romantis yang dikatakan Echa dan Erro tadi. Sialan. Sialan. Sharyn masih kebingungan. “Mas El, tadi itu suara dari mana, sih?” “Oh, itu—” Ello tampak gugup. Sharyn yang malas melihat kegugupan Ello berinisiatif membuka pintu kamar. “Kenapa ditutup lagi? Kan kita mau masuk.” Ello memejamkan mata rapat-rapat. Benar saja. Musik-musik klasik pengiring adegan blue itu berputar lagi. Ello merutuk menyumpahi kembaran sialannya yang tidak tahu malu itu. Apalagi Sharyn sekarang tampak terdiam sambil menggigit bibir. Pipinya makin merona mendengar alunan-alunan itu. Meski begitu keduanya tetap memutuskan masuk ke dalam kamar mengerikan itu. Sharyn dan Ello menganga menatap pemandangan kamar yang menakjubkan di depan mereka. Kamar yang wangi dengan bertabur mawar di mana-mana. Sharyn membeku dengan tubuh merinding. Ello seperti biasa. Berdeham-deham untuk menghilangkan kegugupan yang tengah melandanya. Ello tak percaya kamarnya yang penuh buku seperti perpustakaan kini sudah berubah menjadi taman bunga yang baunya membuat perut ingin muntah. Terima kasih banyak untuk saudaranya yang gila dan sok romantis itu. Dia bersumpah setelah ini akan meneror saudaranya habis-habisan. Sharyn melangkah masuk ke dalam kamar dengan gugup. Dia duduk di atas ranjang yang bertabur kelopak mawar sembari mengamati seluruh penjuru kamar pengantinnya. Sebenarnya kamar ini sangat bagus dan indah. Hanya saja... Sharyn menggiggit bibirnya lagi. Suara musik yang saat ini sedang terdengar sangat menganggu sekali. Sebelumnya dia belum pernah mendengar musik seperti ini. Apalagi musik ini tidak ada liriknya. Hanya berupa instrumental. Mendengar musik seperti ini membuat Sharyn terbayang hal-hal yang... Dia menggeleng cepat.  Hal-hal tadi membuat wajah Sharyn merona merah. Pandangannya tertuju pada Ello yang masih berdiri di dekat pintu. Dari wajahnya Sharyn tahu bahwa saat ini seseorang yang  sekarang berstatus sebagai suaminya ini sedang kesal. Melihat wajah seram Ello yang datar membuat Sharyn enggan berbicara dengan Ello. Dia berdeham kemudian bangkit  menuju kopernya mengambil beberapa barang lalu melesat ke kamar mandi. Sharyn  lega saat menutup pintu kamar mandi. Tetapi suara musik hot itu masih bisa dia dengar. Sharyn memutuskan untuk tidak peduli dengan suara berisik itu dan segera berganti baju. Sharyn mengernyit saat suara musik hot itu tiba-tiba lenyap. Dia menghadap cermin mengamati penampilannya yang sudah berganti dengan piyama kotak-kotak. Sharyn menghela nafas panjang. Apa malam pertama itu seperti ini. Sejujurnya dia tidak begitu paham. Malam pertama yang diceritakan teman-teman kantornya terasa lebih mengasyikan daripada ini.  Ketika Sharyn keluar dari kamar mandi hal pertama yang dilihatnya adalah tubuh atletis Ello. Rupanya suaminya itu sedang berganti baju. Kedua pipi Sharyn kembali merona merah. Wajar saja dia tidak pernah melihat tubuh topless seorang laki-laki kecuali kakaknya tentu saja. Ello menghentikan gerakannya membuka baju ketika menyadari Sharyn keluar dari kamar mandi. Ello nyaris lupa kalau sekarang dia sudah berstatus suami. Sharyn terlihat mengalihkan pandangannya dari tubuh Ello. Ello tak peduli. Malah melempar baju pernikahannya ke ranjang dan menuju lemari mengambil sebuah kaos v-neck warna putih. Setelah itu dengan santai dia menjatuhkan diri di atas ranjang sambil menyalakan lampu duduk. Beberapa saat setelahnya suami temboknya itu sudah hanyut dalam buku-buku tebal. Sharyn menggerutu setengah mati merasa tak dianggap. Dia melempar diri di samping Ello dengan kesal. Hish. Malam pertama apaan ini namanya? Melihat suami sendiri malah lebih tertarik dengan buku dibanding istrinya. Sharyn merasa harga dirinya sudah sangat jatuh. Sejak tadi yang dilakukannya hanya membuka tutup mata. Tapi dia sama sekali tidak mengantuk atau bahkan tertidur. Berulang kali Sharyn membolak-balikkan posisi akhirnya membuatnya jengah. Perlahan dia berbalik menatap Ello yang tengah serius membaca buku. Tampak sekali tidak ingin diganggu. Tapi Sharyn tidak peduli, seperti anak kecil dia merajuk sambil memeluk gulingnya kuat-kuat. “Mas El nggak mau tidur?” Ello berdeham sejenak. Lalu menjawab tanpa menoleh. “Kamu duluan aja.” Sharyn mendesis. Berbalik sebentar lalu kembali lagi dengan muka cemberut khas anak-anak. “Mas El sebenernya anggap aku makhluk gaib, ya?” Ello menutup bukunya dan menoleh. “Enggak. Kamu hidup, kan?” Sharyn menggeram. “Oh, bagus deh kalau Mas El tahu aku di samping Mas El hidup dan bernafas. Nggak cuma patung yang jalan lalu lalang doang.” Ello berdecak. Tiba-tiba emosinya naik. Harusnya dia belajar sabar menghadapi istrinya yang seperti anak kecil ini. “Iya, terus aku harus kayak gimana? Aku sibuk, masih harus habisin beberapa buku kedokteran.” Sharyn merengut kesal. “Jadi, gara-gara buku itu Mas El nolak paket bulan madu yang dibelikan Mas Erro tadi?” “Nggak juga. Aku emang nggak begitu suka bepergian. Apalagi ngabisin uang buat hal-hal nggak penting semacem bulan madu. Lebih baik uang itu ditabung buat keperluan besok atau malah uang itu bisa kamu sumbangkan ke orang yang nggak mampu.” “Mas El, tapi kan bulan madu buat pasangan itu beda.” Sharyn menggerutu. “Pasti dulu bulan madunya Mas Erro sama Mbak Echa so sweet banget! Makanya dia ngasih kita tiket itu. Ayolah Mas El!” Ello tersenyum miring. “Memang kamu tahu Erro sama Echa bulan madu ke mana?” Sharyn mengernyit bingung. Dahinya berkerut samar. Kalau Erro membelikan mereka paket bulan madu Lombok, sudah jelas kakak iparnya itu pasti menghabiskan bulan madu di sana juga. Memang di mana lagi? “Lombok, kan?” “Salah!” Ello tertawa sinis. “Erro juga bukan orang yang suka tempat-tempat wisata dan ngabisin banyak uang. Dia lebih suka desa dan alam. Asal kamu tahu, Erro ngabisin bulan madu di salah satu desa Mentawai, Sumatera Barat. Dia nggak cuma main-main, tapi juga bantu orang-orang di sana. Mulai dari ngasih sumbangan, keperluan makan, bahkan ngajar anak-anak yang nggak bisa sekolah. Sekaligus bantuin kepala dusun di sana bikin pondok belajar.” Sharyn menganga kaget. Oh... Astaga! Sepertinya dia salah mengambil kesimpulan. Beberapa detik dihabiskan Sharyn dengan menggigiti bibir merasa salah bicara. Ello hanya bisa menahan tawa melihat muka menganga Sharyn. Belum puas, dia menambahkan. “Kalau Erro suka alam dan kehidupan sosial, aku lebih suka tempat yang mengandung edukasi tinggi. Jadi, kalau masih mau bulan madu sama aku, lebih baik kita bulan madu ke museum aja. Biar otak kamu bisa sedikit lebih pintar. See?” Sharyn menggembungkan pipi kesal. Bulan madu ke museum? Hih. Memangnya dia anak kecil apa? Dan lagi. Apa tadi maksud Ello menyindir otaknya? Memang ada yang salah dengan otaknya? Sharyn tidak begitu pintar, tapi tidak perlu mengajaknya bulan madu ke museum. Lagi pula apa asyiknya melihat tengkorak, manusia purba, dan para dinosaurus. Lebih baik dia menghabiskan waktu ke mall dan belanja. Menyebalkan sekali. Kalau memang tidak mau bulan madu, ya sudah. Tidak perlu bawa-bawa museum segala.. Ugh, sekarang Sharyn menyesal sudah menikahi orang pintar. Ternyata isi otak mereka memang tidak jauh-jauh dari buku juga hal-hal berbau edukasi dan pendidikan yang membuatnya bisa muntah kapan saja. “Dan kalau kamu masih ngotot mau ke Lombok. Kamu pergi sendiri aja. Nanti aku bilangin ke Suster Lana atau Gita buat nemenin kamu ke Lombok.” Kalau tadi kekesalan Sharyn hanya sebatas ujung jari, sekarang sudah merambat ke ubun-ubunnya. Oh, jadi setelah ke museum sekarang dia disuruh bulan madu dengan sesama jenis? Mau jadi apa dia setelah pulang nanti? Lesbian? Ello memang sangat jahat. Melihat Sharyn yang tak berkutik dan malah menarik kasar selimut membuat Ello setengah mati menahan tawa. Lalu ketika Sharyn membelakanginya dan jatuh tertidur, tawa Ello meledak juga. Astaga. Ello tidak pernah sebahagia ini sebelumnya. Rasanya menyenangkan sekali berhasil membodohi Sharyn. Tidak pernah dia sebangga ini bisa menceramahi seseorang. Aneh. baru kali ini Ello bisa berceramah panjang lebar begitu. Di depan Sharyn seolah tidak ada hal yang perlu dia tutup-tutupi. Jadi, dia merasa bebas bisa mengatakan apapun. Ah, besok-besok mengerjai istri bodohnya itu pasti sangat seru. Tidak buruk juga. Dan beberapa detik selanjutnya Ello jatuh tertidur sambil memasang senyuman miring. ***   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN