Aku nyaris tak percaya saat salah seorang suruhan keluarga Herdiansyah datang dan menyerahkan sebuah undangan berwarna maroon ke rumah. Oh, aku nggak menyangka di undangan ini akan tertulis nama Benny Herdiansyah dan Natasha Almira. Wait—ada kegilaan apa sepagi ini? Sontak aku berlarian menyusuri tangga dan menemukan Mas El masih asyik menggendong Acel yang suara tangisnya terdengar. Raut wajahnya berubah jengkel melihatku datang dengan tangan kosong. “Ryn, mana buburnya? Kamu lama banget, sih. Bentar lagi aku harus kerja. Lana udah missed call aku berkali-kali.” Aku menggeleng-geleng panik. Sebelah tanganku berusaha menahan Mas El. “Mas El, Mas El, ini jauh lebih penting, Mas.” “Penting? Memangnya ada yang lebih penting selain buburnya Acel?” Aku menepuk jidat frustasi. Mas El nggak
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


