“Haz, apa maksudmu?” tanya Abimanyu, menatap lekat, wanita di depannya.
“Mas...Aku tidak ingin, kalian berzinah, berhubungan tanpa ikatan penikahan adalah dosa besar, Aku tidak ingin Mas Abimanyu bergelut dalam dosa. Aku rela kok, jika Mas Abimanyu menikahi Angela,” jawab Hazna pelan.
“Kalau begitu, kamu gugut cerai Mas Abim, setelah kalian bercerai kami akan menikah. Karena aku hanya ingin satu-satunya Nyonya Abimanyu Raharja, menikah sah, secara agama dan negara,” ucap tegas Angela.
“Maaf Angela, sampai kapanpun, aku tidak akan mengugat cerai Mas Abimanyu,” timpal Hazna, dengan tatapan tajam.
“Terserah, kita lihat, siapa yang akan bertahan. Aku pergi dulu Mas Abim, aku sudah tidak berselera makan,” balas Angela. Lalu bangkit dari duduknya dan beranjak pergi dengan raut muka masam.
Hazna dan Abimanyu, kini duduk berdua saling tatap, mata Abimanyu lekat menatap Hazna, hingga membuat Hazna tertunduk.
“Maaf Mas, aku merusak suasana makan siang Mas Abimanyu, tapi aku lebih rela Mas Abimanyu menikah lagi, dari pada Mas Abimanyu bergelut dalam dosa,” ucap Hazna lirih.
“Haz, aku tidak ingin punya istri dua. Angela adalah wanita yang aku cintai, sedangkan dengan dirimu, hanya sebuah kewajiban, itu pun kamu yang memintanya, Jadi jangan paksa Angela dan aku untuk menikah siri, kamu sudah tahu ‘kan jawaban Angela,” balas Abimanyu, menahan amarah.
“Jika begitu, jangan berzinah dengan Angela, selama kita masih bersama, aku istrimu, aku siap melayani hasratmu sebagai laki-laki, tapi aku mohon, jangan berzinah selama Mas Abim menjadi suamiku,” pinta Hazna, matanya berkaca-kaca, menatap Abimanyu.
”Jika, Mas Abimanyu, masih berzinah, terpaksa aku akan bilang ke ibu,” sambung Hazna lagi.
“Kamu, mengancamku Haz,” tegas Abimanyu, dengan tatapan tajam.
“Maaf Mas...” balas Hazna singkat, seraya berdiri dan pergi meninggalkan Abimanyu.
Hazna meninggalkan kafe dengan menaiki taksi, mobil taksi tidak menuju rumah Abimanyu Raharja tapi menuju rumah orang tua Hazna, beberapa bulan ini, Hazna belum berkunjung ke rumah orang tuanya yang hanya satu jam perjanan dari rumah suaminya. Hazna terasa penat dengan kejadian tadi dan dengan keputusannya untuk rela berbagi suami dengan Angela. Entah itu keputusan yang sudah di pikirkan secara matang, atau hanya keputusan karena emosi, yang jelas Hazna mencoba ikhlas dalam menjalani takdir pernikahannya. Taksi berhenti di depan rumah sederhana, bercat diding putih. Hazna turun dari mobil taksi, setelah membayar taksi, langkahnya pelan, dan mencoba menahan air matanya. Ingin rasanya Hazna, bersimpuh di kaki ibunya dan meluapkan segala kesedihan dan hancurnya hatinya tapi Hazna menahannya, biarlah luka ini hanya dia yang tahu, kedua orang tuanya tidak perlu mengetahuinya.
“Assalamu’alaikum,” salam Hazna ketika berada di ambang pintu.
“Waalaikumsalam, Haz, kamu datang,” sahut Bu Mega dengan senyum merekah, langsung memeluk erat putri kesayangannya.
“Kamu sendiri?” tanya Mega, netranya melihat ke arah luar.
“Iya, Bu...,”balas Hazna
“Oh ya sudah, ayo masuk, kamu ingin makan apa? Biar ibu masak?” tanya Mega .
“Hazna sudah makan siang, Hazna ke sini kangen dengan Bapak dan Ibu. Oh ya mana Bapak, Bu?”
“Bapakmu sedang mengantar pesanan kue, sebentar lagi juga pulang,” balas Mega.
Hazna mengulas senyum, tapi manik mata Hazna tidak bisa membohongi ibunya, naluri seorang ibu berbicara, jika putrinya sedang tidak baik-baik saja.
“Hazna, bagaimana pernikahanmu?” tanya Bu Mega.
“Baik Kok Bu...”
“Haz, ibu tahu, pernikahan dengan perjodohan tidak mudah, kalian harus menyesuaikan diri, tapi ingat Haz, buatlah suamimu jatuh cinta padamu, kasih perhatian-perhatian kecil, supaya ia tetap merindukan perhatianmu di kala ia jauh darimu,” nasihat Bu Mega dicerna dengan baik oleh Hazna.
“Bu..., Hazna.” Hazna tampak ragu melanjutkan perkataannya, ia mengurungkan niatnya untuk menceritakan masalah rumah tangganya, bagaimanapun, aib dari suaminya harus ditutup rapat-rapat.
“Ada apa Haz, apa kamu ada masalah?” tanya Bu Mega.
Hazna mengeleng pelan, lalu meraih es teh yang disajikan oleh ibunya itu. Tidak lama kemudian, terdengar suara mobil memasuki halaman rumah, mobil kijang tua, milik Pak Derma berhenti di halaman rumah. Hazna dan Bu Mega menyambut kedatangan Pak Derma.
“Lho Pak, itu kenapa mobil, lampu depannya kok pecah, Bapak habis nabrak?” cerca Mega seraya menghampiri suaminya yang baru saja turun dari mobil, Hazna pun mengikuti langkah ibunya.
“Iya, tadi mobil Bapak bertabrakan dengan mobil sedan mewah,” jawab Derma, seraya mengusap peluh, yang mengucur di dahinya.
“Bapak, tidak terluka ‘kan?” tanya Hazna tampak khawatir.
“Bapak tidak apa-apa, Haz, kamu jangan khawatir,” balas Derma, menatap putrinya.
“Apa pemilik mobil sedan itu bertanggung jawab, Pak?” tanya Bu Mega, dengan kesal.
“Iya, gadis itu, akan membayar biaya perbaikan, dia yang salah, melaju dengan kencang, untunglah tidak ada yang terluka,” jelas Pak Derma.
“Ya sudah, kita masuk saja Bu, biar Hazna buatkan minum untuk Bapak,” ajak Hazna.
Ketiganya melangkah masuk ke dalam rumah, Pak Derma, menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tengah, sedangkan Hazna menuju dapur untuk membuatkan minuman untuk Pak Derma.
“Siapa sih Pak, gadis yang ugal-ugalan menyetir, apa tidak sayang sama nyawanya sendiri, kalau tidak sayang sama nyawa sendiri, setidaknya pikirkan hidup orang lain,” gerutu Bu Mega sambil mengerucutkan bibirnya ke depan, dengan kesal.
“Gadis itu memberikan kartu nama, jika Bapak selesai memperbaiki kerusakan mobil, Bapak akan menghubunginya dan meminta ganti,” ucap Pak Derma, seraya menyodorkan sebuah kartu nama.
“Angela Kana, artis dan model,” seru Bu Mega.
Mendengar perkataan ibunya yang menyebut nama Angela Kana, Hazna terkejut, dengan segera minuman diletakan di atas meja dan meraih kartu nama yang dipegang ibunya, dan membacanya dengan cermat.
“Angela Kana,” gumam Hazna.
“Gadis itu memang artis, Bapak pernah melihatnya di layar kaca, ibu juga sering lihat ‘kan, Angela aktris yang sangat tenar itu,”timpal Derma.
“Oh iya, jadi Angela, wah ini kesempatan ibu untuk foto bareng dengan aktris cantik itu,” ujar Bu Mega sambil tersenyum, membayangkan foto bareng artis.
“Pak, Bu, lebih baik kita tidak usah meminta ganti rugi, biar Hazna nanti yang akan memperbaiki mobil Bapak,” ucap Hazna.
“Kenapa Haz, Angela harus bertangung jawab ‘kan atas kesalahannya, sekalian itu juga ibu mau foto bareng dia,” sahut Bu Mega.
“Bu, apa sih spesialnya Anggela Kana, hingga ibu antusias banget foto bareng dia,” tukas Hazna, raut muka menujukkan kekesalan.
“Maaf sayang, kenapa kamu marah seperti itu, ibu hanya ingin foto bareng artis,” sela Bu Mega.
“Sudah-sudah, Hazna benar, kita tidak usah minta ganti rugi, Bapak kira kerusakan mobil tidak begitu parah,” tukas Pak Derma.
Hazna dan Mega terdiam, Hazna tidak mau kedua orang tuanya mengetahui, jika pernikahannya ternoda karena adanya pihak kedua yaitu Angela Kana.
Hari menjelang malam, Hazna berpamitan pulang dengan masalah yang yang masih disembunyikan dalam hatinya.
Langkah kaki Hazna menuju lantai atas, mobil sedan hitam milik Abimanyu sudah terpakir di garasi rumah, menandakan jika Abimanyu sudah ada di rumah. Hazna membuka pelan pintu kamar, dilihatnya Abimanyu duduk di sofa, ia menoleh ke arah Hazna.
“Aku ingin bicara denganmu, duduklah!” perintah Abimanyu dengan dingin, mata tajamnya menatap dalam ke arah Hazna.
“Maaf, aku pulang terlambat.”
“Bukan masalah kamu pulang terlambat, tapi tentang ucapanmu tadi siang di kafe, aku benar-banar tidak menyukai kamu mencampuri urusanku dengan Angela,” ucap Abimanyu dengan nada tinggi.
“Itu karena aku sangat peduli padamu Mas, aku tidak ingin, kamu bergelut dalam dosa, tidur bersama wanita yang bukan mahrom. Aku rela berbagi suami, asalkan itu menjauhkanmu dari dosa,” jelas Hazna.
“Jangan mencampuri urusan pribadiku Haz, aku tidak bisa menjauh dari Angela,” balas Abimanyu, seraya bangkit dari duduknya.
“Jika begitu nikahi dia secara agama.”
“Aku juga tidak bisa melakukan itu!” bentak Abimanyu kesal.
Abimanyu mendesah kesal, lalu dengan kasar dihempaskanya tubuhnya di atas tempat tidur. Hazna menghela napas, ia sendiri tidak tahu harus berbuat apa, yang ia tahu Hazna tidak ingin rumah tangganya berbalut dosa, walaupun hatinya akan tersakiti, bahkan akan hancur sehancur-hancurnya.
Malam semakin larut, Hazna terbangun seperti biasa, ia menyempatkan diri untuk doa di sepertiga malam, karena hanya bersujud kepada sang penciptalah satu-satunya yang ia dapat lakukan, berharap pria yang bergelar suami yang saat ini, sedang bergelut dalam dosa, suatu saat akan menyadari kesalahannya dan akan memlih pernikahan yang suci.