Audrey sakit. Begitulah kabar yang diterima Kafka saat ia sampai di sekolah. Kafka menatap si kurir pesan, yang tak lain adalah Yusuf. "Lo tau dari mana?" tanyanya seraya melepaskan tas dari bahu lalu meletakkannya di atas meja. "Monik. Katanya udah tiga hari." Yusuf menjawab. Kemudian cowok itu menumpukan sikutnya di atas meja, dan bertopang dagu. "Audrey sakit karena lo putusin." Kafka mendesah berat. Tapi ia tidak berkomentar apa-apa. "Emang lo nggak bisa beri dia kesempatan lagi?" Kafka mengedikkan bahu. "Gue nggak tahu." "Perasaan lo sekarang gimana?" "Ini masih pagi, Suf. Lo yakin pengin bahas masalah perasaan?" "Sejak kapan mau bahas ini harus ada waktunya?" tanya Yusuf balik. Sekali lagi Kafka mendesah. Lalu ia menatap Yusuf. Sohibnya itu balas menatap dengan serius. "Oke

