Pagi-pagi sebelum berangkat bekerja, Aarav mampir ke supermarket. Hal yang jarang dilakukannya. Kali ini berbeda. Rasanya ia ingin memakan buah Apel favoritnya. Cemilan untuknya ketika suntuk dan kalau lapar melanda. Padahal jika menginginkan buah itu, ia tinggal membuka pintu kulkas di rumah. Hari ini sayang sekali. Persediaan habis dan asisten rumah tangganya belum berbelanja. Memasuki supermarket, seorang Aarav sudah biasa menjadi tontonan ibu-ibu rumpi yang tertarik akan paras Aarav yang tampan. Aarav sendiri bersikap acuh, tidak peduli. Menelusuri setiap lorong supermarket dengan pembatas rak yang berisi semua kebutuhan manusia. Dari makanan, minuman juga kosmetik. Akhirnya ia menemukan tempat kumpulan buah. Mata Aarav menyipit tajam saat melihat buah kesukaannya, warna merah sedi

