Rani dipegangi oleh kedua pria itu, mereka berdiri di tengah-tengah gambar bintang. Ayah Rani berjalan menghampiri putrinya, entah apa yang akan dilakukannya pada darah dagingnya itu. “Ayah... ini aku, Rani. Ayah masih mengingatku, kan?” tanya Rani. Ayahnya tidak mengatakan apapun. Dia terus melangkah mendekati Rani dengan sebuah gunting di tangannya. “Ayah, aku mohon jangan sakiti aku. Aku ini putrimu ayah.” Pintanya meminta belas kasihan. Namun seolah tak memiliki hati nurani, ayahnya tak menggubris kata-katanya. Dia memotong rambut Rani dengan gunting di tangannya. Lalu mengikatkan potongan rambut Rani pada sebuah boneka terbuat dari kayu. Entah apa yang direncanakannya karena wajahnya sedang menyeringai saat ini. “Ayah, kenapa ayah jadi seperti ini? Dulu ayah sangat baik. Ayah memp

