5. Pulang Bareng

1326 Kata
Nana menggelengkan bibir sambil melihat soya yang tersenyum lebar dengan pipi merona. Bel pulang baru saja berbunyi lima menit yang lalu. "gue traktir besok kita main ke dufan!" soya bilang "enggak boleh ada yang absen" "gue mau jalan sama kak jhonny" bunga menjawab "urusan asmara gue lebih penting, sayang" "iya nih, ajak nana aja lah. Kalian kan sama jomblo" seina menjawab "gue mau mengantar sayangku sandy di bandara" "ih enggak setia kawan banget sih" soya mencibir "yaudah deh, nana besok enggak boleh banyak alasan!" "gue lagi deh yang kena" nana mendengus. "yasudah ya, sayangku ku semua. Soya mau pulang sama baby brian dulu, tadi di suruh ke kelasnya" soya merapikan rambutnya lalu berjalan dengan penuh percaya diri ke kelas brian. "lah enggak di tipu brian tuh anak?" bunga bertanya "biasanya kan bolos" "tau banget ih si bunga, mantan gebetannya angga ya dulu" seina kembali. "udah ah pulang yuk. Mau istirahat nih, buat nemenin nyai besok" nana merangkul lengan bunga dan seina. ••• Brian melirik jam tangan, lalu mematikan rokoknya sebelum turun dari atap. "gue duluan" pamitnya "ceilah yang sudah punya cewek" kata vano. Brian terus berjalan menuju kelasnya. Di depan kelasnya dia melihat soya yang sudah berdiri sambil mencoba melihat murid kelasnya yang sudah mulai berhamburan ke luar kelas. Bibir brian tertarik membuat senyum kecil. Tapi detik berikutnya, kerut samar terbentuk saat melihat bima menghampiri kedelai "Kedelai?" bima tersenyum melihat soya, "ngapain?" Brian mendengus lalu menarik tangan soya sedikit keras. "aduh .." soya sedikit meringis. "Lo mau datangin gue atau godain cowok lain?" bentak brian. Soya yang awalnya meringis, langsung terdiam, seketika pipinya memerah dan tersenyum malu. "yess .." soya enak ingin berloncat karna senang brian terlihat cemburu. Brian menyesali tindakannya menarik soya, karna gadis itu malah terlihat sangat senang dan takut. "Jadi..soya?" bima menatap bingung. "Buruan, atau gue tinggal" brian kembali dan pergi berjalan lebih dulu. "kak bima duluan ya, tadi kesini mau jemput brian" soya bilang pada bima, lalu balik dan lari kecil mengobrol brian. Tidak perduli murid-murid yang menatapnya melongo atau tatapan menghujat nya, soya terus tersenyum saat berjalan di sebelah brian. "Baby" soya memanggil "nanti makan dulu ya, aku lapar" "hmm .." brian menjawab. "ih brian lucu deh, sekarang aku udah boleh manggil kamu sayang" " siapa bilang?" "Aku, barusan. Jadi pengen peluk deh, tapi enggak boleh, kan kita belum pacaran. Hehe" soya jawab. Kalau brian pikir-pikir, soya memang tidak pernah melakukan skinship dengan nya, soya memang terkesan pecicilan tapi dia tidak pernah bertingkah murahan seperti para gadis yang mengejarnya yang asal memeluk atau mau mencium brian. Soya hanya akan berbicara dan menggombal pada nya, memegang tangan brian saja, soya tidak pernah. "Tapi gue bawa motor ninja" brian menjawab. "hng .." Brian melirik kedelai yang berjalan di sampingnya, wajah gadis itu terlihat berpikir. "jangan ngebut ya!" soya berkata. Brian hanya diam, lalu memberikan satu helmnya, lalu berjalan ke arah motor angga dan mengambil helm temannya itu untuk di pakai nya. Soya naik ke motor ninja milik brian, lalu memegang bahu lelaki itu. Brian semakin sadar, jika soya memang gadis yang sangat suka diri sendiri, sedangkan gadis itu cukup menantang anarkis mengejarnya. Brian melaju motornya dengan kecepatan sedang, lalu melepaskan motornya di salah satu restoran cepat saji. Soya tersenyum lebar setelah dibuka helmnya dan merapikam sedikit rambutnya. "ih peka banget sih, sayang" soya berkata "tau aja, makanan favorit aku itu ayam" Brian menatap tajam, lalu berjalan mendahului kedelai. "kamu mau apa ?, aku yang pesan" kata soya sambil mengantri bersama brian. "Duduk di sana, gue yang pesan" brian menjawab ketus. Soya tersenyum lebar, Meskipun menjawab brian ketus, tapi lelaki itu tetap memperhatikannya. "Oke sayang, aku mau ayam sama ayam burger dengan keju satu. Aku menunggu di sana" soya pulang dan pergi. Brian menghela nafas, lalu menerima antriannya yang tersisa satu orang diterima. Lima belas menit menunggu, soya mendongakkan tunggu dari game yang di mainkannya di handphone. Tersenyum manis pada brian yang membawa pesanannya. "Terima kasih," kata soya. Brian tidak menjawab, dia memilih untuk menikmati makanannya begitupun dengan kedelai. "Kedelai" Kedelai mendongak dengan mulutnya yang penuh. "yang kayak gini rindu sekolah apanya, makan belepotan" brian berdecak, biarkan terulur menyapu saos tomat di sudut bibir soya. "Kamu itu kalau sendirianan bisa manis gini ya, ih jadi malu" soya tutup mulutnya. "enggak usah alay, bisa" Soya mengangguk. "tadi mau ngomong apa sayang?" soya bertanya. "lupain aja!" brian jawab. "jangan ngambekan dong" kata soya. Brian menghela nafasnya. "kulit, cewek murahan kayak lo yang ngejar-ngejar gue, enggak mungkin bisa enggak senang skinship" Soya makan, hati soya terasa tercubit saat mendengar brian mengatakan itu murahan, tapi soya rasa ia bukan semurah itu. Soya menarik nafasnya dan menghembuskannya lalu meneguk minumannya mendesak. "Kamu jahat banget ngatain aku murahan, tas sama sepatu aku ini bermerk semua loh, jam ikut juga" "enggak usah pamer!" brian menepis tangan soya. "kan aku perjuangin cinta nya kamu, emang gombalan sama pengorbanan ku belum cukup sih, kalau murahan itu kan rela ngapain aja buat kamu, mau kamu tidurin juga rela, itu baru murahan, sayang" soya mengerucutkan bibirnya. "Lo?" brian mengangkat satu alisnya. "aku ?, hmm .." soya terlihat berpikir "kan sudah ku bilang, aku suka sama kamu, cinta juga sama kamu. Tapi aku enggak ngajak pacaran loh ya, aku mau kamu yang ngajak aku pacaran mau" soya sambil mendengarkan lebar. "bangun, udah siang miss sekolah" brian menjawab. "ih, lagi serius juga" soya mendengus "tapi brian, kita enggak usah skinship kayak remaja umumnya ya. Aku tau sih kamu bule, pasti gaya pacarannya yang ala barat gitu juga ya" Brian diam, memilih meminum softdrink-nya dan mendengarkan celotehan soya yang cerewet. "Kalau nanti pacaran, aku mau kita pacaran sehat. Sesuka apa pun aku sama kamu, aku juga enggak mau pegang atau nyentuh kamu sembarangan. Kita enggak ada hubungan, kan kita masih pdkt. Eyang bilang melihat kelakuan sepecicilan apapun, asal bisa jaga diri itu menandakan dirimu cewek  berkelas dan enggak gampangan " Brian berdecak, memalingkan melakukan dari soya. Sekarang brian tau kenapa gadis dengan rambut hitam ini bisa di idolakan sekolah dan menjadi ketinggalan sekolahnya. Soya memang berkelas dan tidak gampangan meski sikap pecicilannya sangat menyebalkan. "buruan habisin makanan lo, biar gue antar!" brian berkata. "siap baby" soya tersenyum lalu menyiapkan makanannya. ••• Motor brian sampai di kawasan perumah elite soya, dia memutuskan motornya di depan rumah bergaya Eropa klasik yang sedikit dicat hitam. Brian menatap rumah itu dengan kening yang sedikit berkerut, rumah itu tidak memandang pribadi seorang soya kianti larasati yang ramah, mudah pergi dan pecicilan. Rumah di terkesan terkesan sedikit suram. Tapi jelas, rumah soya tidak lebih besar dari mansion brian yang sangat besar itu, rumah gadis itu juga besar. Soya turun dari motor brian, melepaskan helmnya dan memberikannya lagi pada brian. "maaf ya brian, kamu enggak bisa mampir. Rumah ku serem soalnya" soya tertawa kecil. "serah" brian menjawab acuh. "eh, besok pakai mobil ya !." soya berkata. Brian ingin menjawab tetapi disetujui oleh karna dua orang, atau lebih membantah suami yang sudah beradu. Brian menoleh ke arah soya yang sekarang memegang menegang, mengepal, dengan wajah yang memerah karna memegang amarah. "Mas cukup. Kamu pikir kamu hebat sementang pengecara tersohor dan yakin akan menang atas hak asuh soya" "cukup kiandra, soya sudah besar dia berhak memilih mau tinggal bersama ibu tidak becus sepertimu atau aku" "Kamu pikir kamu itu baik. Lebih baik kamu pergi ketempat istri simpanan dan anak haram mu itu" "KIANDRA" "APA, BELUM PUAS KAMU MAS, HAH?" "tuh kan, rumah ku rada serem. bayi hati-hati di jalan. Nanti malam aku kayaknya enggak bisa ngobrol kamu deh" soya ngomong dengan senyumnya, seakan tidak bisa membantu, cari nya brian diam membisu karna tidak sengaja melihat keluarga soya . "iih, pulang gih !, kamu jangan natap aku gitu, nanti aku tambah jatuh cinta gimana?" kedelai mengerucutkan bibirnya. "Lo yakin?" Soya tersenyum lebar dan mengangguk, Meskipun brian tidak tau apa soya akan baik-baik saja. Yang Brian tau sekarang, soya bersembunyi di balik senyumannya. Brian diam dan mulai menjalankan motornya dari rumah soya. Melihat kembali lebar brian yang sudah mundur, soya menghela nafasnya lalu masuk ke dalam pekarangan rumah nya. "bukan kedelai?" bibik asisten rumah tangga di rumah nya menatap kaget ke arah soya, begitupun kedua pemikiran nya. "Stop mah, pah. Soya capek sama kalian" soya katakan dingin lalu melongos masuk ke dalam rumah. ............................ Tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN