Ngidam

1190 Kata
Jovanka melangkah menghampiri Jelita. “Aku sudah bilang tetap di kamarmu, karena aku tidak mau janin yang ada di dalam kandunganmu terjadi apa-apa. Ingat Jelita, aku sudah sangat sabar menantikan bayi itu, kau tahu kan kalau aku sangat menginginkan bayi itu. Jadi kau harus bekerja sama,” ucap Jovanka dengan nada tajam. Jelita bisa merasakan kemarahan Jovanka terhadapnya, semenjak ia hamil, sikap Jovanka berubah. Jelita merasa Jovanka seakan hanya memikirkan keadaan janinnya saja, sama sekali tidak mempedulikan dirinya yang sedang mengandung. “Maaf Bu, tapi saya hanya keluar sebentar menghirup udara segar. Saya tidak bisa terus-terusan terkurung dalam kamar seperti itu. Saya juga butuh tempat lain untuk menghilangkan stress agar janin yang saya kandung juga tetap sehat, itu yang saya tahu tentang kebutuhan wanita hamil.” Jelita memberi penjelasan. Jovanka hanya mendengus tidak suka mendengar ucapan Jelita, jika bukan karena bayi yang sedang dia kandung. Rasanya ia ingin segera mengusir perempuan ini. “Baiklah, tapi jika sampai terjadi apa-apa dengan bayi yang kau kandung, aku tidak akan memaafkanmu, kau mengerti?” lanjut Jovanka lalu masuk ke dalam rumah meninggalkan Jelita yang hanya bisa menatapnya dengan tatapan sedih. “Kenapa bu Jovanka jadi bersikap dingin padaku ya? dia sudah berubah sinis dan tidak ramah lagi,” tanyanya dalam hati. Jelita kembali menatap taman luas yang ada di hadapannya. Sudah beberapa 2 jam Jelita berada di taman, ia hanya bisa membayangkan untuk bertemu ayahnya tanpa mampu merealisasikannya. “Hidupku sekarang jauh lebih buruk dari sebelumnya,” gumannya lirih. “Ah…!” Jelita tersentak karena merasa tubuhnya terbungkus sesuatu, hangat. “Kau sebaiknya masuk, ini sudah sore.” Suara Abizar yang terdengar lembut di telinganya membuatnya sedikit tenang. Ia menoleh dan melihat Abizar menatapnya sambil tersenyum. “Iya, Pak. terima kasih.” “Mari saya antar,” ucap Abizar. Jelita beranjak dari duduknya dan melangkah mengikuti Abizar. “Bagaimana perasaanmu, aku rasa kau sudah cukup lama di luar sana. Jika lebih lama lagi, kau bisa masuk angin,” ucap Abizar sambil memberi segelas air hangat kepada Jelita. Tangan Jelita terulur mengambil gelas itu dan meminumnya. “Terima kasih,” ucapnya sambil mengembalikan gelas itu kepada Abizar. Mata bulat Jelita menatap dalam ke arah Abizar. Pak Abi sangat baik. Pikirnya. “Jelita, maaf kalau sikap Jovanka sedikit tegas. Ia hanya tidak ingin terjadi apa-apa terhadap janin yang kau kandung. Aku harap kau bisa bertahan sedikit lagi sampai anak ini lahir, ya,” ucap Abizar dengan tatapan lembut. “Pak…” ucap Jelita. “Ya, ada apa?” “Apakah setelah anak ini lahir, bapak akan segera menceraikan saya?” tanya Jelita. Abizar terdiam lalu menatap Jelita. “Sesuai kontrak yang sudah kita sepakati bersama, jika anak ini lahir kau bisa bebas dan melakukan apa pun keinginanmu. Tentu saja aku akan menceraikanmu terlebih dahulu,” jawab Abizar. “Memangnya ada masalah dengan itu? aku harap kau bisa bertahan sedikit lagi,” imbuhnya lagi. “Bukan begitu, Pak. Ya aku mengerti semua kesepakatan itu. Tapi jika itu terjadi bisakah bapak memberi penjelasan yang bisa di terima ayah untuk alasan perceraian kita nanti?” tanya jelita. “Oh, soal itu kau tidak perlu khawatir. Aku akan mengurusnya dengan baik. Yang terpenting saat ini adalah, kau harus selalu sehat untuk anak yang kau kandung,” ucap Abizar sambil menyentuh perut Jelita dengan lembut. Gerakan yang sama sekali tidak Jelita sangka itu membuatnya membeku, dadanya bergemuruh, jantungnya berdetak cepat. “Cepat besar sayang, sehat selalu karena papa dan mama sangat menantikanmu,” ucap Abizar dengan lembut sambil terus mengusap perut Jelita. Ada ketentraman tersendiri yang dirasakan Jelita, seakan ucapan itu di tujukan kepada mereka bertiga. Ia adalah mama dan Abizar adalah papa bayi yang ia kandung. Akan tetapi, perasaan itu seketika terhempas saat menyadari jika ucapan itu ternyata sama sekali bukan untuknya. “kreak…!” Suara pintu terbuka dan Jovanka berdiri di ambang pintu. “Sekarang kau sudah sering berada di kamar perempuan ini, Mas?” ucapan Jovanka terdengar seperti sindiran. “Jovanka, kapan kau tiba, sayang? kau jangan salah paham, aku hanya mengantar Jelita untuk masuk dan memberikan sedikit pengenalan diri kepada calon anak kita. Kemarilah, kau juga bisa mencobanya, bukan begitu Jelita?” ucap Abizar. “I…iya Pak, tentu saja. Ibu juga bisa mengelus perut saya,” ucap Jelita terbata. “Tidak perlu, aku hanya menginginkan bayi yang ada di perutnya saja. Aku tidak butuh yang lain. Mas, ayo keluar dari sana!” perintah Jovanka. Abizar menatap Jelita dan menghela nafas panjang. “Baik, Jelita,. Aku pergi dulu. Bilang sama pelayan jika kau butuh sesuatu,” ucap Abizar lalu beranjak dari kamar Jelita. *** “Jovanka, kenapa kau selalu saja bersikap seolah kau membenci Jelita? Apa kau tidak lihat dia harus membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari kita? Ada apa denganmu sebenarnya? Bukannya kau sendiri yang sangat menginginkan Jelita selama ini?” Jovanka hanya terdiam, ia juga tidak tahu kenapa tiba-tiba ia jadi membenci Jelita. Ia tidak suka melihatnya hamil. Karena pada dasarnya Jovanka memang sangat benci melihat wanita hamil. “Mas, itu semua tidak perlu. Selama ia makan dan minun yang bernutrisi itu sudah cukup.” “Merawat wanita hamil tidak seperti itu, kau kan seharusnya sudah tahu. Kau harus me… “ Tiba-tiba tubuh Abizar terhuyung dan hampir jatuh ke lantai. “Mas, kau tidak apa-apa?” untung saja jovanka menahan tubuh suaminya agar tidak terhempas. “Ah, entahlah. Tapi kepalaku tiba-tiba terasa pusing lagi dan perutku tiba+tiba saja mual,” ucap Abizar mengeluh. “Ayo. Istirahat dulu di kasur,” ucap Jovanka sambil membantu Abizar berjalan dan merebahkan tubuh tubuhnya di ranjang. “Kau kenapa, Mas? Apa kesehatanmu sedang bermasalah? Kau tidak pernah seperti ini sebelumnya, loh. Kau juga akhir-kahir ini jarang makan dan sering menolak makanan yang ada bawangnya, padahal kan kau suka sekali bawang,” ucap Jovanka sambil memijit kepala suaminya. “Aku juga tidak tahu, tapi sebulan terakhir ini memang aku kurang nafsu makan.” “Sebaiknya kita periksa ke dokter saja ya, jangan-jangan ada malasah dalam pencernaanmu,” ucap Jovanka. “Iya, besok saja. Aku ingin istirahat saja,” ucap Abizar sambil memejamkan mata. “Apa kau ingin sesuatu?” tanya Jovanka penuh perhatian. “Tidak.” Abizar menggeleng. Jovanka menatap suaminya tanpa kedip, ia penasaran dengan kondisi suaminya. Abizar selama ini adalah seorang yang sangat menjaga kesehatan dan pola makannya. Gaya hidup sehat dan rutin berolah raga membuatnya selalu bugar dan sehat. Ia sama sekali tidak pernah terkena flu selama Jovanka bersamanya. Tapi kenapa Abizar malah terlihat tidak sehat sekarang? sebaiknya aku bawa membawa suamiku itu ke dokter saja besok, pikirnya. *** “Jadi bagaimana kondisi saya sebenarnya , Dokter?” tanya Abizar setelah menjalani beberapa pemeriksan dokter. Jovanka juga terlihat mendampingi suaminya. “Dari hasil pemeriksaaan, semuanya baik-baik saja, normal seperti biasa. Tidak ada yang perlu di khawatirkan,” ucap dokter memberi penjelasan. “Tapi kenapa suami saya sampai mual dan tidak tahan mencium aroma masakan yang mengandung bawang, dok? Padahal sebelumnya tidak pernah terjadi hal seperti itu?” ucap Jovanka masih tidak puas mendengar jawaban dokter. Sang dokter terlihat berpikir sejenak, lalu menatap keduanya dengan tatapan serius. “Apakah nyonya sedang hamil?” tanya dokter itu tiba-tiba. Abizar dan Jovanka saling pandang lalu kembali menatap dokter. Mereka menggeleng.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN