Aldi Sanjaya tidak pernah membayangkan dirinya berdiri di depan pagar rumah itu. Rumah yang tidak megah secara demonstratif. Tidak menjulang. Tidak berteriak tentang kekuasaan. Namun rapi, tenang, dan—entah mengapa—terasa kokoh dengan caranya sendiri. Dalam hatinya dia bertanya-tanya “apakah ini yang disebut rumah?” Ia turun dari mobil dengan langkah mantap, meski rahangnya mengeras tipis. Setelan jasnya sempurna seperti biasa. Jam di pergelangan tangan berkilat, seolah mengingatkan siapa dirinya—dan siapa yang sedang ia datangi. Ini bukan kunjungan keluarga. Bukan silaturahmi. Ini urusan bisnis. Dan itu satu-satunya alasan yang membuatnya tetap melangkah, karena seberapa hebat pun Kirana tidak akan mengubah pendiriannya untuk menerimanya sebagai menantu. Pintu dibuka oleh asiste

