Interfensi Perasaan

1444 Kata

Kirana masih menatap punggung Aldi Sanjaya yang menjauh, langkahnya stabil, aura dominannya menggema bahkan setelah ia lenyap di antara para tamu. Hall terasa lebih dingin begitu pria itu pergi. Diam lama. Bramasta menyentuh punggung Kirana lembut. “Kira,” panggilnya pelan. “Hei… lihat aku.” Kirana perlahan menoleh. Di matanya ada gugup yang baru saja berusaha ia kubur saat menghadapi Aldi. “Pak Bram…” suaranya lirih, “apa dia… tidak menyukaiku?” Bramasta tersenyum kecil, senyum yang hanya muncul saat ia ingin menenangkan seseorang yang ia sayangi. “Apa menurutmu begitu?” Kirana mengernyit. “Sorot matanya menusuk, seolah—seolah aku salah napas saja bisa dicoret dari daftar kelayakan.” Bramasta terkekeh. “Kamu lebay.” “Pak Bram… serius.” Kirana menatapnya lagi, benar-benar ingin

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN