Tidak Ada Jalan Untuk Pelakor!

1111 Kata

“Baru pulang, ya?” ucap Kirana lembut, seolah ini pagi biasa. Bram membeku sepersekian detik. “Kirana… kamu belum tidur, sayang?” “Tidur, kok,” jawabnya ringan. “Baru bangun karena denger suara air. Kenapa gak mandi di kamar mandi dalam?” Ia melangkah mendekat, berjinjit sedikit, mengangkat handuk, lalu dengan gerakan pelan mulai mengeringkan rambut Bram yang masih basah. Bram tidak menolak. Tapi jantungnya berdetak lebih cepat. Kirana terlalu tenang. Tangannya lembut. Gerakannya biasa. Bahkan terlalu biasa untuk seorang istri yang—secara logika—punya seribu alasan untuk marah. Ketenangan Kirana membuat Bramasta takut. “Kamu capek,” lanjut Kirana, masih dengan nada yang sama. “Ganti baju dulu.” Ia menyodorkan piyama itu ke d**a Bram. Tatapan mereka bertemu. Bramasta mulai menebak

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN