Aroma butter yang meleleh di atas wajan memenuhi dapur apartemen itu, bercampur dengan harum kopi hitam yang baru diseduh. Cahaya pagi masuk lewat tirai, jatuh lembut di punggung Bramasta yang berdiri mengenakan kaus gelap dan apron sederhana—pemandangan yang tidak pernah Kirana bayangkan akan ia lihat. Kirana duduk di meja bar dapur, rambutnya masih terurai acak, wajahnya belum sepenuhnya pulih dari kantuk. Namun ia tersenyum kecil melihat Bramasta sibuk, gerakan pria itu cekatan dan rapi. “Pak Bram…” panggilnya lirih. “Duduk manis.” Bramasta menoleh, matanya lembut. “Aku bilang, sarapan hari ini tugasku.” Kirana menghela napas kecil, mengamati bagaimana telur di wajan bergerak perlahan, bagaimana potongan roti disusun rapi di piring, bagaimana dia menuang jus jeruk tanpa menumpahkan

