With Arsha

1008 Kata
Rania terbangun dari tidurnya setelah jam pelajaran terakhir, gadis itu sepertinya benar benar kelelahan beruntung sebelum pergi ke UKS gadis itu sudah izin kepada ketua kelas ingin beristirahat karena tidak enak badan. Jam sudah menunjukkan pukul tiga sore, Rania menghela nafas pelan berarti hanya tinggal dirinya dan anak anak yang sedang ada jadwal ekstrakulikuler masih ada di sekolahan. Gadis itu merasa tubuhnya sudah lebih baik dari sebelumnya, syukurlah. Baru saja Rania bernafas lega, tapi gadis itu malah di kejutkan dengan laki laki yang tertidur di depan pintu. Dia adalah Arsha, untuk apa masih di sekolah? Dan untuk apa Arsha rela menunggu Rania sampai tertidur pulas seperti ini? Dasar aneh pikir Rania, apapun yang di lakukan Arsha tidak akan mudah meluluhkan hati Rania. "Eh Ran, lo udah bangun?" tanya Arsha, entah benar-benar tidur atau berpura pura Rania tidak peduli. "Mau balik gue, lagian lo ngapain tidur depan pintu?" tanya balik Rania, sembari memakai sepatu sekolahnya kembali. Arsha memasukkan kembali ponselnya kedalam tas, sang bunda selalu bertanya kenapa pulang terlambat dan hari raya Arsha terlambat karena harus menunggu Rania terbangun. "Dasar bocah, bukannya makasih udah gue tungguin malah nanya gitu. Kalau gue enggak nunggu lo, emang lo mau di kunci di UKS sendirian! Masih mendingan lo bangun jam segini, lo tidur kayak kebo sih lama banget." "Lah, buat apa gue bilang makasih? Gue enggak nyuruh lo buat nunggu gue kan? Jangan jadi pahlawan kesiangan kalau lo masih minta gue buat mengakui kebaikan lo, perlu gue tegasin. Gue enggak pernah minta lo nungguin gue Arsha? Paham kan? Tapi gue tahu diri, gue enggak tau apa niat lo sebenernya. Tapi apapun niat lo, gue makasih banget . Besok besok, kalau gue sakit dan ada di UKS jangan nungguin gue." Ucap Rania, bukan terlalu sombong. Namun, gadis itu tidak terbiasa memiliki dan mendapatkan perhatian dari teman laki laki selain Fabian. Mungkin, jika Fabian yang ada di posisi Arsha masih bisa di pertimbangkan laki laki itu pasti ikhlas. Tapi jika sudah Arsha, tidak tahu apa tujuan laki laki itu. Astaga! Sepertinya apapun niat baik Arsha akan selalu terlihat salah di mata Rania , gadis itu tidak memberikan celah sedikit untuk Arsha berbuat baik. Ya Tuhan, kenapa ada manusia seperti ini? Yang sangat di sayangkan, Arsha sudah terlanjur menolongnya hari ini, jika belum mana mau Arsha berbuat baik sementara Rania selalu mencari cari keburukannya. "Ribet amat hidup lo, selama gue hidup nih ya. Cuma lo orang yang enggak mau gue tolong, biasanya orang kalau di tolong tanpa di minta selalu bilang makasih tapi lo? Sekedar bilang makasih aja susahnya nauzubillah," "Tau ah, capek gue ngomong sama lo." "Dasar cewek, enggak pernah mau terlihat salah." "Dasar tukang modus, sukanya buat orang marah marah." Balas Rania tidak mau kalah, semakin Arsha terus berbicara maka Rania tidak akan tinggal diam. Diamnya Rania, akan menjadi kemenangan untuk Arsha. Demi apapun, Rania tidak mau mengalah. "Bocah banget kelakuannya, udah lah Ran capek banget enggak sih dari tadi marah marah. Ayo pulang, udah mau hujan." Dengan percaya diri, Arsha mengulurkan tangan kanannya. Alis Rania terangkat, apa maksudnya? "Ayo pulang." Ajak Arsha, dengan tangannya yang masih menggantung di udara. Menunggu Rania meraih tangan Arsha, mungkin dalam benak Arsha gadis itu akan menyambut baik niatnya. Namun pada kenyataannya, Rania malah melengos dan langsung melenggang pergi keluar dari UKS. Meninggalkan Arsha yang terdiam sejenak, memperhatikan punggung Rania yang semakin menjauh dan menyadari kebodohannya. "Ya Allah, apa sih kurangnya Arsha! Kayaknya enggak jelek jelek banget deh, tapi bocah satu itu enggak mudah di taklukan." Ucap Arsha, lalu keluar dari ruangannya dan berjalan menuju parkiran. Ternyata Rania sudah di jemput oleh ayahnya, mereka terlihat mirip. Pantas saja Rania menolak perhatian dari Arsha, gadis itu sudah di jadikan ratu oleh ayahnya sendiri. Benar apa yang dikatakan Arsha, hujan turun begitu deras, tapi beruntung sang ayah sudah menjemput Rania sebelum hujan. Jadi tidak ada waktu untuk menikmati hujan bersama laki laki menyebalkan itu, mobil sang ayah melaju dengan kecepatan sedang. Ayahnya tau jika anak gadisnya itu menyukai air yang turun dari langit, meksipun begitu sang Ayah tidak suka jika Rania sampai bermain air hujan di luar rumah. Khawatir jika mengakibatkan anak gadisnya sakit. "Hujannya deras banget yah." "Kamu masih suka hujan?" Rania mengangguk antusias, sikap gadis itu sangat berbanding terbalik dengan teman temannya di sekolah. Bahkan dengan Fania pun tidak selalu bersama, bisa di bilang Rania tidak mempunyai teman dekat, bagi Rania tidak perlu terlalu dekat dalam berteman jika pada akhirnya mereka akan menjadi pengkhianat paling dekat dengannya dirinya. Cukup berteman sewajarnya, jangan sampai mereka tahu tentang kehidupan Rania yang sebenarnya. Gadis itu tidak mau di manfaatkan, cukup menjadi diri sendiri dan Rania juga ingin mengetahui mana teman yang benar benar ingin berteman dengannya bukan hanya sekedar datang saat membutuhkan gadis itu. "Suka, aku selalu suka hujan." Jawab Rania. Raka, ayah Rania tersenyum. Entahlah, melihat anak gadisnya tersenyum membuat kebahagiaan tersendiri untuknya. Bagi orang tua, kebahagiaan seorang anak adalah hal yang paling utama dan penting. Raka memang sangat mampu memberikan semua fasilitas untuk Rania, tapi Raka sudah berjanji pada istrinya untuk tidak selalu memanjakan Rania. Mereka tidak pernah menuntut sang anak untuk menjadi bintang kelas selama di sekolah, mereka hanya meminta agar Rania belajar dengan baik. Peringkat pertama bukanlah patokan bagi Raka, karena dulu sewaktu masih sekolah orang tua Raka selalu mengajarkan bahwa tidak mendapat peringkat bukan berarti tidak bisa menjadi orang yang sukses. Dan Raka berhasil membuat ucapan kedua orang tuanya menjadi kenyataan, karena pada dasarnya setiap anak memang memiliki kemampuannya masing-masing dan bidang yang berbeda dengan yang lain. "Kalau sama teman kamu yang tadi, kamu suka?" Rania menoleh, teman yang mana? Jangan sampai sang ayah melihat Arsha, tapi jika memang melihat pasti tidak akan bertanya langsung karena Rania lebih dulu keluar dari sekolah. "Teman yang mana?" tanya Rania berpura pura tidak tahu apapun, padahal gadis itu 100% yakin jika yang dimaksud ayahnya adalah Arsha bukan teman sekelasnya yang lain. Raka tersenyum simpul, saat menyadari perubahan sikap anaknya. "Teman kamu yang tadi, keluar sekolah terakhir. Ayah perhatikan, dia lihatin kamu terus. Ayah bisa tahu, kalau dia suka sama anak ayah." Deg "Rania sama Arsha, kita cuma teman."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN