Hi Rania

1508 Kata
Rania sedang memperhatikan pak Malik yang sedang menjelaskan rumus matematika di depan kelas, Rania tidak hanya menyimak tapi juga mencatat setiap poin penting yang pak Malik jelaskan. Dari banyaknya murid yang ada di dalam kelas, Rania menjadi salah satu murid yang paling antusias belajar setiap hari. Si ambisius. Di belakang bangku Rania, ada Fabian yang sejak tadi sibuk menggambar. Itu memang sudah kebiasaan Fabian sejak dulu, meksipun begitu Fabian selalu masuk di kelas unggulan. Karena bosan menggambar dan pak Malik juga tidak berhenti menjelaskan, cowok itu menepuk pundak Rania keras. Jika pelan, pasti gadis itu tidak mau menoleh.  Rania terkejut saat Fabian menepuk pundaknya begitu keras, dengan malas gadis itu terpaksa menoleh. Mendapati Fabian yang tersenyum di belakangnya. "Apa?" "Gue gabut banget Ran, minta permen dong." Pinta Fabian, padahal Rania tidak pernah makan permen di kelas. Entah dapat ide dari mana cowok itu meminta permen pada Rania. "Mobil doang keren, permen minta temen!" Rania dan Fabian di kejutkan suara pak Malik, dengan cepat Rania kembali memperhatikan ke depan. Jangan sampai nama baiknya rusak gara gara kegabutan seorang Fabian. Fabian memasang wajah tanpa dosa, pak Malik memang sudah sering menistakan dirinya. Untung saja Fabian itu pintar, jika tidak sudah pasti tidak ada yang bisa di banggakan selain harta orang tua. "Itu kan mobil ayah saya pak."  "Kenapa enggak minta permen sama ayah kamu, nanti kamu enggak cuma di belikan permen. Pasti kamu di buatkan pabrik permen sekalian." Ucapan pak Malik, mengundang gelak tawa teman sekelasnya. Hal semacam ini sudah biasa.  Fabian mengusap dadanya sabar, sepertinya pak Malik ada dendam khusus dengan dirinya. "Bapak kenapa sih, setiap masuk kelas selalu jahat sama saya. Saya ini anak kesayangan ibu saya loh di rumah. Iya pak, saya tau saya paling ganteng di kelas ini. Tapi bapak enggak perlu gitu dong, kan saya jadi salting." Ujar Fabian dramatis, semua teman sekelasnya tahu jika Fabian dan pak Malik tidak pernah akur. "Arsha lebih ganteng dari kamu walaupun dia badboy tapi dia juga pinter, enggak pernah tuh dia minta permen sama Rania." Arsha yang duduk di bangku paling belakang, langsung memperhatikan pak Malik saat namanya di sebut. Arsha memang tidak pernah berulah saat di kelas, cowok itu akan kembali mencari mangsa saat jam istirahat sekolah. Ruang BK adalah tempat yang biasa Arsha kunjungi, tapi prinsip hidup Arsha saat di kelas sudah bukan saatnya untuk main main atau mencari masalah. Fabian merasa gemas dengan pak Malik, perkara permen kenapa harus di perpanjang? "Pak Malik yang ganteng, saya ini pacar Rania jadi wajarlah kalau minta permen ke pacar saya. Nah, kalau Arsha yang minta permen ke Rania itu salah. Saya cemburuan loh pak orangnya." Rania ingin sekali menjambak rambut Fabian yang sudah mulai gondrong itu, kenapa cowok itu mengakuinya sebagai pacar? Fabian sialan! "Kamu pacaran sama Rania? Sejak kapan? Kamu pakai pelet ya, kok ampuh banget biasa naklukin Rania." Tentu saja Pak Malik tidak percaya, guru itu tahu betul gadis seperti apa Rania. Tidak mungkin seleranya seperti Fabian, sangat jauh dari ekspektasi pak Malik. "Maaf pak, tapi saya sama Fabian enggak pacaran. Kita cuma teman." Akhirnya Rania membuka suara, membuat teman sekelasnya tertawa terutama Arsha. Malang sekali nasib Fabian, percuma ganteng kalau jadi sadboy. "Rania kok lo enggak ngakuin gue sih, tega banget lo. Awas aja ya nanti kalau minta balikan." Ucap Fabian ngawur, mana mungkin Rania meminta balikan sementara mereka berdua tidak pernah putus bahkan tidak pernah pacaran. "Fabian, kamu ini emang enggak punya malu. Kalau udah di tolak itu ngaca, bukannya maksa." Sahut pak Malik. "Bapak tega banget sama saya." "Saya yakin, kalau di suruh milih pasti Rania bakalan pilih Arsha. Iya kan Rania?"  Rania mengernyit heran, apa pak Malik sudah ganti profesi sebagai biro jodoh?  "Saya enggak tau pak, yang namanya Arsha aja saya enggak tau. Saya enggak terlalu hafal teman teman yang ada disini, tiap semester ganti teman pak. Enggak mungkin saya mau hafalin satu satu." Mendengar penjelasan Rania, pak Malik mengangguk. Rania memang selalu berada di kelas unggulan karena kepintarannya. Sementara itu, Arsha terkejut saat tahu bahwa Rania tidak mengenalnya sama sekali. Jangankan mengenal, sepertinya gadis itu tidak tahu jika Arsha ada di sekolah ini. Selama satu minggu berada di kelas yang sama, Arsha baru ingat jika hanya Rania yang belum meminta nomor WhatsAppnya dengan alasan untuk belajar bersama. Gadis yang menarik, Arsha akan menjadikan Rania target selanjutnya. Walaupun Rania bukan tipe Arsha, gadis itu sedikit tomboy. Sementara Arsha lebih suka gadis yang penuh kelembutan, dan tidak cuek seperti Rania. "Selamat datang di hidup gue Rania, dapetin lo gue berhenti nakal." Batin Arsha, mulai sekarang cowok itu akan berusaha mendapatkan hati Rania.  --- Hari ini Rania di paksa Fania untuk pergi ke kantin, karena hari ini Rania tidak membawa bekal jadi gadis itu menuruti teman barunya itu. Sepanjang perjalanan ke kantin, Fania terus saja berbicara. Mulai dari masalah percintaannya, sampai berita yang ada di sekolah hari ini. Semua Fania itu. "Lo mau makan apa?" tanya Fania pada Rania. "Gue ikut pesen deh, masa lo doang." Meskipun mereka belum lama berteman, tapi Rania tidak suka memanfaatkan kebaikan Fania yang mau memesankan makanan untuknya. "Udah gue aja, lo duduk disini. Kalau lo ikutan pesen, nanti kita bingung cari tempat duduk. Mau lo makan sambil berdiri? Udah cepet mau makan apa?" Apa yang di katakan Fania benar, kantin mulai ramai pasti mereka tidak kebagian tempat duduk. Rania menghela nafas, lalu mengeluarkan uang lima puluh ribu dan di berikan pada Fania. "Samain aja makanannya, tapi gue minumnya es teh aja." "Kelebihan nih, ada uang pas enggak? Tambah lama kalau nunggu kembalian."  "Itu pas kok, kan sekalian bayar makanan lo juga. Udah sana laper nih gue." Ujar Rania, mendengar ucapan gadis itu Fania langsung pergi memesan makanan untuk mereka berdua. Kantin begitu ramai, wajar jika Fania belum kembali. Sambil menunggu, Rania memilih bermain ponsel. Tiba-tiba Fabian duduk di sebelahnya, mengganggu ketenangannya. Kali ini Fabian tidak sendiri, tumben sekali cowok itu bersama teman temannya. Rania pikir, Fabian tidak memiliki teman. "Sendirian aja lo Ran, jomblo ya." Celetuk Fabian, membuat teman temannya tertawa. Tanpa permisi, Fabian dan temannya duduk di dekat gadis itu. Rania tetap cuek, mereka tidak akan berani macam-macam. Melihat Rania yang tidak peduli, Fabian menghembuskan nafas kasar. Fabian dan teman temannya termasuk jajaran most wanted di sekolahnya, tapi semua itu tidak ada artinya di hadapan Rania. "Ran, temen temen gue mau kenalan sama lo." Sebenarnya teman teman Fabian sudah lama tahu nama Rania, tapi mereka juga tahu jika Rania tidak peduli jika mereka mengenalnya atau tidak. Selain tomboy, Rania terkenal dingin dan cuek. "Harus banget gue kenalan sama temen lo, enggak penting banget." Cibir Rania, jika saja perutnya tidak meronta ronta minta makan. Rania pasti sudah kembali ke kelas. "Wajib kenalan. Siapa tau, temen gue ada yang suka sama lo. Gue turut prihatin karena lo jomblo dari lahir."  "Sebenernya temen gue ada banyak, tapi gue cuma mau kenalin mereka berdua. Yang ini, namanya Reno." Fabian menunjuk salah satu temannya, sontak Rania ikut memperhatikan teman Fabian.  "Hai Rania, semoga kita bisa jadi teman baik." Rania hanya mengangguk, malas menanggapi Reno. "Nah temen gue yang ini, idaman ciwi ciwi di sekolah kita. Kenalin dia Arsha." Deg Rania lalu mengalihkan pandangannya pada Arsha, jadi ini yang tadi di maksud pak Malik. Menurut Rania, Arsha biasa saja. "Hai, Rania."  Rania bernafas lega saat Fania sudah kembali, itu artinya acara basa basinya sudah selesai. Saatnya makan. "Loh, ada Arsha." Fania termasuk salah satu jajaran fans cowok itu. Tapi gadis itu cukup tau diri, tidak seperti gadis lain jika bertemu Arsha selalu mencari perhatian. "Ada Fabian juga kalau lo enggak liat." Sindir Fabian, apa Fania tidak melihatnya yang sudah duduk manis di sebelah Rania? Fania melirik ke arah Fabian, hanya sebentar karena Fania sama sekali tidak berminat untuk berbicara pada Fabian. "Ini Ran, lo suka bakso kan? Tadi antrian panjang jadi gue pilih yang cepet aja." Ujar Fania, sementara Rania hanya mengangguk. Sudah bagus Fania mau memesankan makanan untuknya. "Suka kok, makasih ya Fan." Dengan cepat, Rania menuangkan kecap dan saos kedalam mangkok bakso tidak lupa sambal dua sendok. Melihat Rania menuangkan sambal dua sendok, Fabian menggeleng.  "Masih suka pedes Ran?" Rania hanya mengangguk, sejak kecil gadis itu sudah terbiasa saat makan di larang untuk berbicara. Gerak gerik Rania tidak lepas dari pandangan Arsha, gadis dengan rambut kuncir kuda dan bibirnya yang berwarna pink alami membuat Arsha tidak bisa mengalihkan perhatiannya. Arsha tahu, jika Rania tidak pernah make up saat ke sekolah. Namun, semua itu tidak bisa menutupi kecantikannya.  "Arsha, lo liatin Rania segitunya. Naksir lo." Rania terkejut mendengar ucapan Reno, terlalu menikmati makanannya gadis itu tidak sadar jika Arsha memperhatikannya. "Gue dukung kalau Arsha, pacaran sama Rania." Fania mengatakan hal itu tanpa beban, sejak pertama masuk sekolah gadis itu memang setuju jika Arsha dan Rania pacaran. Rania memutar bola matanya jengah, selera makannya langsung hilang begitu saja. Gadis itu paling tidak suka jika ada yang menyuruhnya pacaran.  Rania berdiri, jika sudah merasa tidak nyaman lebih baik secepatnya pergi dari sini. "Gue duluan." Rania langsung pergi meninggalkan teman temannya, bahkan gadis itu tidak menghiraukan teriakan Fania. "Awalnya gue enggak tertarik, tapi sekarang gue jadi pengen cepet dapetin lo." Ucap Arsha dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN