Bagian 6

1070 Kata
Bibi Yin menyiapkan perlengkapan mandi seperti biasa dia lakukan setiap hari, badan Zetian semakin hari semakin terlihat segar dan setiap malam hari dia selalu melakukan meditasi. Meridiannya semakin menjadikan tubuhnya terasa bugar, aliran udara di tubuhnya menjadi tak terbendung. Zetian mencari Jenderal Zhennan untuk mengajarkan kungfu padanya. Jenderal Zhennan terlihat kagum akan kepandaian Putri Zetian. Di siang hari Putri Zetian bercocok tanam herbal dan sayuran. Dia secara rutin juga memeriksa keadaan Bibi Yin, menurut Putri Zetian hanya Bibi Yin lah keluarga terdekat yang dia punya. "Putri Wu Yuanshun datang berkunjung" teriak pengawal dari depan gerbang paviliun. "Silahkan masuk Putri" jawab Bibi Yin. "Hei, anak s****n. Jangan pikir karena Putra Mahkota batal membatalkan pernikahan kalian aku tidak bisa merebutnya dari tanganmu" teriak Putri Yuanshun pada Zetian. "Dengar kau anak s****n, aku akan merebut apapun yang kamu miliki. Bahkan dengan membunuhmu dengan perlahanpun aku bisa" ejek Putri Yuanshun. "Apa salahku padamu hingga kamu begitu tega terhadapku adik?" sahut Putri Zetian. "Salahmu karena kamu adalah anak dari Ratu Huawen. Dan aku membenci semua yang ada padamu, semua milikmu akan aku ambil satu persatu. Jangan kamu pikir karena status Selir Ibundaku diturunkan, aku tidak bisa membunuhmu" sinis Putri Yuanshun. "Pelayan, ayo kita pergi tinggalkan anak s****n ini" kata Putri Yuanshun sambil meninggalkan paviliun. Putri Zetian terlihat menahan amarah yang sangat besar, dia mengepalkan tangannya erat. "Bibi Yin, ayo kita pergi keluar paviliun. Kita pergi ke kota, aku sudah sangat muak berada disini" kata Putri Zetian berjalan menuju ke dalam paviliun. Bibi Yin menggantikan baju Putri Zetian dengan baju sederhana dan mendandaninya sedikit sederhana. Mereka lalu pergi berjalan kaki menuju ke tengah kota, karena Putri Zetian tidak suka terlihat mencolok. Mereka berjalan ke arah pasar, rakyat Nanyi tidak mengenalnya karena Putri Zetian sejak kecil tidak pernah sedikitpun diijinkan keluar dari istana. Hingga mereka sampai di pasar, Putri Zetian melihat berbagai macam aksesoris rambut. "Pergi sana jangan lagi mencuri makanan, dasar orang miskin tidak berguna" teriak penjaja bakpao. Putri Zetian terkejut dan segera mendekati keramaian itu. "Tolong saya, saya ingin bakpao itu untuk adik saya Tuan. Adik saya sedang sakit" jawab anak kecil itu. "Sana pergi, tidak ada makanan buat kamu" usir sang penjaja bakpao. "Ada apa Tuan?" tanya Putri Zetian. "Anak miskin ini mencuri bakpao Nona" jawab penjaja bakpao. "Saya beli bakpao nya 5 saja Tuan" kata Putri Zetian. "Silahkan Nona, terima kasih" kata penjaja bakpao sambil menyerahkan 5 buah bakpao. Setelah membeli bakpao itu, Putri Zetian mendekati anak lelaki yang diusir tadi. "Adik kecil, ini ada bakpao untuk kamu makan dengan adikmu" kata Putri Zetian sembari menyerahkan bungkusan bakpao. "Terima kasih Nona, adik saya membutuhkan ini untuk mengisi perutnya" ujar anak itu. "Ada apa dengan adikmu?" tanya Putri Zetian. "Adik sakit Nona, saya tidak memiliki uang untuk membeli obat dan makanan" kata anak itu. "Ayo tunjukkan jalannya, kita lihat adikmu" kata Putri Zetian. Mereka lalu berjalan ke arah perkampungan yang sangat kumuh sekali, Putri Zetian merasa iba. Dia merasa kehidupannya dengan kehidupan mereka memiliki perbedaan 180 derajat. Sampailah mereka ke dalam sebuah gubuk kecil, terlihat seorang gadis kecil wajahnya pucat pasi. "Adik ini ada bakpao, Nona ini sudah memberikannya pada kita" kata anak itu sambil menyerahkan 1 buah bakpao ke adiknya. "Terima kasih Nona" ujar anak gadis itu. "Kamu sakit apa anak manis?" tanya Putri Zetian. "Saya tidak tahu Nona, badan panas sekali dari semalam" kata anak gadis itu sambil memakan bakpao hangat. "Makanlah dulu, nanti akan aku periksa keadaanmu" sahut Putri Zetian. "Bibi Yin, tolong buat air hangat dan bantu bersihkan rumah ini" kata Putri Zetian kepada Bibi Yin. "Baik Nona" jawab Bibi Yin. "Nak, tunjukkan pada Bibi letak dapur mu" kata Bibi Yin pada anak lelaki itu. Sambil menunggu Bibi Yin merebus air yang dia minta, Putri Zetian membantu membersihkan ruangan tempat anak gadis itu tidur. Lalu berjalan ke arah luar, perkampungan itu terlihat sangat kumuh. Orang-orang disana terlihat sangat tidak sehat. Putri Zetian melihat seorang ibu menangis sesenggukan bersandar ditiang rumahnya. "Nyonya, mengapa Anda menangis?" tanya Putri Zetian. "Anak saya sakit Nona, saya tidak sanggup membawanya ke Tabib" jawab ibu itu. "Mari kita lihat anak nyonya" kata Putri Zetian. Mereka lalu masuk kedalam rumah, dia melihat anak perempuan sedang tidur dengan keringat mengucur ditubuhnya. Putri Zetian memeriksa nadi anak perempuan itu, dia terkejut mendapati nadi anak itu sangat lemah. "Sejak kapan anak Nyonya sakit?" tanya Putri Zetian sembari memeriksa bagian yang lain. "Sejak beberapa hari yang lalu Nona" jawab Ibu itu. "Tolong rebus air hangat untukku" perintah Putri Zetian pada ibu itu. "Baik Nona" jawab ibu itu sambil beranjak pergi keluar. Putri Zetian mengeluarkan kotak yang berisi jarum akupuntkurnya, dia lalu memakai jarum itu ke tubuh anak perempuan itu. Ibu anak itu sudah selesai merebus air kemudian masuk ke dalam ruangan. "Ini Nona air hangatnya" kata ibu itu. Putri Zetian lalu membasuh anak itu dengan air hangat, dia membersihkan tubuh anak itu. Setelah benar-benar bersih, dia melakukan akupuntkur di bagian belakang tubuh anak itu. Anak itu mengaduh ketika jarum diarahkan ke pinggangnya. "Tolong Nyonya cari Bibi yang ada dirumah sebelah, panggilkan dia untukku" perintah Putri Zetian. "Baik Nona" jawab Ibu itu sambil keluar mencari Bibi Yin. Setelah beberapa saat Bibi Yin terlihat tergesa-gesa masuk ke dalam ruangan itu. "Nona membutuhkan hamba?" tanya Bibi Yin. "Pergilah ke paviliun ambilkan beberapa herbal yang kemarin kita panen dan keringkan, bawa semua kesini dan jangan lupa beli 1 karung beras serta sayuran dan ikan dipasar" perintah Putri Zetian. "Baik hamba laksanakan Nona" jawab Bibi Yin kemudian pergi menuju paviliun. "Nyonya, apakah dikampung ini semua mempunyai penyakit yang sama?" tanya Putri Zetian pada ibu itu. "Benar Nona, kami minum dan mandi dari air sumur ditengah perkampungan" kata ibu itu. "Hantarkan saya kesana Nyonya" jawab Putri Zetian. Mereka lalu berjalan ke arah sumur ditengah perkampungan kumuh itu, sembari berjalan Putri Zetian melihat ke arah rumah-rumah disana. Dia mendapati setiap rumah sepertinya ada seseorang yang sakit. Sesampainya di sumur itu dia mengambil air dari sana kemudian mencicipinya. Karena ragu dia mengambil air di ember untuk diperiksa. Mereka lalu kembali ke rumah ibu itu, dan mendapati Bibi Yin sudah ada disana denga berbagai macam obat herbal, beras, sayuran dan ikan. "Bibi Yin, ambilkan jarum perak didalam" perintah Putri Zetian. Bibi Yin lalu masuk ke dalam rumah ibu itu kemudian mengambil jarum perak. Setelahnya dia memberikannya pada Putri Zetian. Putri Zetian memasukkan jarum itu kedalam air yang sudah diambilnya dari sumur tengah perkampungan. Dia terkejut mendapati bahwa air disumur itu sudah diracuni, gejalanya akan menyerang lambungnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN