18

1025 Kata
Perjalanan yang mulanya terasa mulus berangsur-angsur berubah terjal dan berbukit-bukit. Perlu waktu setengah jam untuk mereka berempat berjalan di tanah yang menanjak. Perjalanan semakin berbahaya, deru napas lelah semakin pekat, namun tidak ada satu pun dari mereka yang mengeluh. Akhirnya di kejauhan, terlihat ujung-ujung bangunan yang timbul di antara pepohonan hutan. Rasa semangat yang sempat meredup kembali terpercik. Mereka berempat pun terlihat saling berlomba untuk menaiki sisa tanjakan. Edgar sampai lebih dulu. Setelah memanjati tanjakan yang terjal, ia mendapati tanah datar menghampar. Deretan bangunan tua berdiri di sana. Rumah sakit yang ditutup lima puluh tahun itu benar-benar terasa nyata setelah ia melihat dengan mata kepalanya sendiri. Setengah bangunannya masih berdiri kokoh, sebagiannya hanya tersisa sebagai puing-puing kehitaman. Tanaman merambat yang liar telah menebarkan sulur-sulurnya pada setiap tembok. Sia sampai di belakang Edgar kemudian disusul Leo. Mereka bertiga menunggu beberapa menit hingga akhirnya Daniel sampai dengan menjatuhkan diri. "Sial..." Kata Daniel di sela napasnya yang memburu. "Bagaimana bisa kalian terlihat baik-baik saja, ha?" Dia masih membutuhkan waktu untuk menstabilkan napasnya. "Kau harus banyak berolahraga," kata Leo. "Seharusnya kita malu pada Egie. Dia sampai lebih dulu dan dia terlihat baik-baik saja." Edgar tidak senang ketika Leo menyebut dirinya sebagai contoh. "Dia kan beda," Daniel memprotes, mengungkit Edgar yang merupakan mantan pelatihan. Sia menepuk pundak Edgar, membuat Edgar menolehkan wajah kepadanya. Seketika kedua pipi Edgar terasa panas ketika Sia memberikan senyuman kepadanya. Edgar segera mengangkat bahunya untuk menghindar dari tangan Sia lagi. Ia pun bergegas mendekati bangunan. "Hei, hei... Sebentar~!" Daniel terpaksa bangkit ketika Sia dan Leo bergerak menyusul Edgar. Edgar terus berjalan melangkahi semak belukar. Ia harus berhenti ketika menemukan pagar kawat dengan peringatan. Ia menelusuri pagar itu hingga menemukan pintu gerbang berjeruji besi. Sebelah daun gerbang sudah runtuh, satunya masih berdiri kokoh yang jeruji besinya dililit tanaman sulur liar. Ia mulai melangkahkan kaki memasuki halaman rumah sakit. Sia, Leo dan Daniel menyusul di belakangnya. Deretan bangunan rumah sakit yang sudah ditinggalkan terasa lebih raksasa dari pada ketika mereka melihatnya dari kejauhan. "Sial," kata Leo. "Kita akan butuh lama untuk melihat-lihat." Ia mendesah. "Kita hanya punya enam jam sebelum malam." Ia membaca sisa jam dari arlojinya. "Dasar payah." Kata Daniel, mengasumsikan Leo baru saja mengeluh. "Masa kau keberatan hanya karena berjelajah pada bangunan tua ini?" "Oh ya? Kalau begitu kau bisa berjelajah di tingkat atas, Tuan Hebat." Sindir Leo. "Ayolah," Sia menengahi. "Mari berbagi tugas. Jangan buang-buang waktu lagi." Leo pun memimpin pembagian tugas itu. Ia benar-benar menunjuk Daniel untuk mengecek ke tingkat atas bersama dengan Edgar. Ketika selesai berdiskusi, mereka berempat segera memisahkan diri menjadi dua tim. Daniel bersungut-sungut sementara Edgar cukup lega bisa lepas dari Sia dan Leo. Tapi berikutnya Edgar menyesalkan pembagian tim yang timpang. Ia baru saja membiarkan Leo berduaan saja dengan Sia. "Jangan buang-buang waktu," kata Daniel dengan napas ngos-ngosan setelah menaiki tangga. "Periksa apa saja, jangan melamun saja!" Edgar yang sudah berada di lantai atas beberapa waktu sebelum Daniel, telah memasuki salah satu ruangan, dan terdiam ketika memandangi sebuah lukisan anjing berkepala tiga. Sangat aneh menemukan lukisan semacam itu di salah kantor rumah sakit. Setelah satu jam berlalu menyusuri lantai atas, Edgar dan Daniel turun tanpa mendapatkan apa pun. Mereka berdua tidak menemukan keberadaan Sia dan Leo di lantai dasar. Maka mereka berdua pun melangkah keluar dari bangunan. Daniel memanggil-manggil nama Leo dan Sia lalu sebuah sahutan terdengar. Edgar dan Daniel berbelok, melangkah menuju sumber suara itu. Rupanya kedua teman mereka telah berada di depan reruntuhan bekas kebakaran. "Dapat sesuatu?" Tanya Daniel. "Nihil," jawab Leo dengan wajah datar. Daniel mengembuskan napasnya. "Konyol ya? Orang-orang itu membangun rumah sakit di dalam hutan belantara." "Sepertinya bukan rumah sakit umum kan ya?" Tanya Sia. "Mungkin sebuah rumah sakit kejiwaan atau semacamnya." "Bisa jadi," kata Daniel mengangguk. "Untuk apa mereka membangun rumah sakit jiwa di tengah hutan?" Ia memperbaiki objek dari pertanyaannya. "Mungkin untuk mengamankan orang-orang. Baik orang normal mau pun orang dengan kejiwaan menurun." Ia menjawab pertanyaannya sendiri. "Pernah dengar tentang eksperimen yang menggunakan sampel orang-orang dengan kejiwaan?" Tanya Leo. "Nah," kata Daniel, ekspresinya tampak tidak senang. "Lokasi tempat yang jauh dan tersembunyi menyebabkan mereka dapat melakukan apa saja terhadap pasien mereka yang tidak waras." "Kami sudah mengecek di belakang bangunan ada lahan penuh dengan batu nisan." Ujar Leo. "Yang benar?" Tanya Daniel dengan ekspresi berubah ngeri. Leo mengangguk, satu pikiran dengan Daniel. "Mereka pasti menguburkan pasien mereka di sana." "Mari berpikir jika kebakaran itu disengaja," kata Sia berandai-andai. "Sebab setelah kebakaran itu rumah sakit langsung diproses untuk ditutup." "Tapi apa yang bisa didapat dari bangunan bekas kebakaran?" Leo bertanya-tanya. "Egie, apa yang kau lakukan jika kau melakukan sesuatu yang mengerikan dan tidak ingin orang-orang mengetahuinya?" Tanya Daniel tiba-tiba pada Edgar. Edgar yang ditanya mengerutkan dahi, agak kaget. "Tentu saja aku akan berusaha menyembunyikannya." Jawabnya meski ia tidak memiliki pengalaman melakukan hal yang mengerikan. "Tentu saja kau akan menyembunyikannya. Orang-orang ini menyembunyikan aktifitas mereka dengan mengkondisikan area mereka di tempat yang jauh dari publik." "Tapi pastinya tetap akan ada pihak kontrol untuk mengecek." Ujar Sia. "Nah, jika begitu, pastinya mereka memiliki tempat yang lebih tersembunyi lagi." Daniel menjentikkan jarinya. "Semacam ruang rahasia?" Tanya Leo. "Yap." "Jadi kemungkinan gedung ini terbakar karena ada sesuatu di sini. Misalkan saja ruang rahasia." Sia menyimpulkan. "Mari mulai mengecek." Sekali lagi mereka berempat berpencar memeriksa seksama setiap sisa bangunan yang terbakar. Edgar tidak mengerti apa yang dicari oleh para mahasiswa ini. Namun ia tetap mengikuti permainan mereka dengan senang hati. Melakukan penyelidikan terasa mengasyikkan baginya. "Hei, coba lihat ini." Edgar telah berhenti dan menemukan sesuatu yang menarik. Ketiga para mahasiswa yang mendengar panggilannya segera berkumpul mendekat. Edgar menunjuk pada sebuah pegangan dari lantai yang sudah gosong. Ada sebuah sisa tangga berada di atasnya. "Rubanah," kata Daniel yang mendadak bersemangat. "Tentu saja rubanah bisa digunakan untuk menyembunyikan sesuatu yang sangat rahasia. Petugas kontrol tentu tidak ingin membuang-buang waktu mengecek rubanah yang biasanya hanya digunakan sebagai gudang penyimpanan" Leo mencoba menarik pegangan itu, namun pintu rubanah itu tidak bergerak. "Seharusnya kita membawa pengungkit atau semacamnya." Ujarnya "Tidak ada waktu untuk memikirkan membawa alat semacam itu," kata Daniel, merogoh ranselnya. "Tapi aku punya ini." Ia mengeluarkan sebuah perangkat peledak kecil. "Wah, aku bahkan tidak berpikir untuk membawa alat peledak kemana-mana," gerutu Leo.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN